Analisis: Borong Emas, Benarkah Sekadar FOMO atau Gejala Masyarakat Melek Investasi?

Banyak orang ikut membeli emas hanya karena melihat orang lain melakukannya. Tapi seiring waktu, situasi berkembang menjadi lebih serius.

Siti Ayu Rachma
Oleh Siti Ayu Rachma - Reporter
Analisis: Borong Emas, Benarkah Sekadar FOMO atau Gejala Masyarakat Melek Investasi?
Analisis: Borong Emas, Benarkah Sekadar FOMO atau Gejala Masyarakat Melek Investasi? (Merdeka.com)

Beberapa waktu terakhir, pemandangan antrean panjang di gerai Antam di berbagai kota menjadi fenomena menarik. Masyarakat dari berbagai kalangan, bahkan hanya membeli satu hingga lima gram emas batangan. Sekilas, ini tampak seperti tren belaka. Tapi benarkah ini sekadar FOMO, atau ada kekhawatiran yang lebih dalam?

Analis sector keuangan dan emas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa fenomena ini berawal dari efek psikologis Fear of Missing Out (FOMO). Banyak orang ikut membeli emas hanya karena melihat orang lain melakukannya. Tapi seiring waktu, situasi berkembang menjadi lebih serius: emas diposisikan sebagai perlindungan dari ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel, ditambah dengan perang dagang AS–China yang kembali memanas, menjadi pemicu utama lonjakan harga emas global hingga menembus USD 3.300 per ons.

“Trump baru-baru ini menaikkan tarif impor dari China sebesar 245 persen karena China menghentikan pembelian pesawat Boeing. Efek domino dari kebijakan ini terasa sampai ke Indonesia,” ujar Ibrahim. Hasilnya? Daya beli masyarakat menurun, kepercayaan konsumen melemah, dan emas pun jadi “pelarian” investasi yang dirasa paling aman.

Berbeda dari tren-tren sebelumnya, Ibrahim menyebut pembelian emas saat ini sudah bukan impulsif. Banyak orang, terutama kelas menengah ke bawah, mulai membeli emas sebagai strategi bertahan hidup, mengantisipasi kemungkinan terburuk seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) atau tabungan yang mulai menipis.

Menariknya, sebagian besar pembeli emas fisik ini justru berasal dari kalangan muda yang sudah berkeluarga namun masih tinggal bersama orang tua atau mertua. Dengan biaya hidup yang lebih ringan, mereka bisa menyisihkan penghasilan untuk logam mulia.

Sementara itu, keluarga mandiri yang harus membayar kontrakan, biaya sekolah anak, dan kebutuhan sehari-hari justru kesulitan untuk menyisihkan dana investasi. “Kalau semua uang habis untuk kebutuhan, mana bisa beli emas?” kata Ibrahim.

Ibrahim juga menyoroti kurangnya edukasi mengenai investasi digital seperti bullion bank. Dia menyayangkan gerai-gerai Antam belum maksimal dalam mengarahkan masyarakat ke skema investasi emas digital, padahal hal ini dapat membantu mengurangi antrean dan keterbatasan stok emas fisik yang kini kian menipis. Produksi logam mulia belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan, sehingga stok di gerai-gerai sering kali habis.

Salah satu hambatan utama menurutnya adalah minimnya minat masyarakat awam untuk melakukan registrasi online. Banyak dari mereka lebih memilih datang langsung ke lembaga seperti Bank Syariah Indonesia (BSI) atau Pegadaian untuk membeli emas secara konvensional. Perbedaan tingkat literasi keuangan antara kelas atas dan menengah ke bawah menjadi tantangan tersendiri.

Dia menambahkan edukasi mengenai bullion bank saat ini masih belum merata. Padahal, keberadaan bullion bank yang telah diresmikan pemerintah seharusnya bisa menjadi solusi cadangan emas nasional dan meningkatkan kekuatan ekonomi Indonesia.

Namun, volume transaksi yang tercatat baru mencapai Rp1 triliun, angka yang dinilainya masih jauh dari potensi sebenarnya.

"Seharusnya pada saat Bullion Nank itu dibentuk ya kemudian diresmikan oleh presiden seharusnya lebih dari satu triliun seharusnya loh seharusnya lebih dari satu triliun karena harus ingat bahwa bullion bank itu akan diadjadikan sebagai cadangan ya, cadangan emas dunia emas Indonesia nah dulu ya sebelum ada bullion bank kita emas dunia emas logam mulia di Indonesia itu cadangannya kan sumbatonase nah sekarang dengan bulion bank supaya tahu kita seberapa sih keuangannya untuk kekuatan ekonomi gitu," Ibrahim mengakhiri.

Rekomendasi