Nilai Ekspor Ikan Babel Turun di Triwulan I 2026, KKP Ungkap Penyebabnya
Ekspor Ikan Babel mengalami penurunan pada Triwulan I 2026. Badan Mutu KKP Kepulauan Babel mengungkapkan penyebab serta potensi komoditas unggulan seperti ikan mayung dan cumi-cumi yang tetap menjanjikan.
Badan Mutu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melaporkan adanya penurunan nilai ekspor perikanan pada Triwulan I 2026. Penurunan ini mencapai 7,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total nilai ekspor perikanan dari Kepulauan Babel tercatat sebesar Rp114,14 miliar.
Kepala Badan Mutu KKP Kepulauan Babel, Dedy Arief Henriyanto, menjelaskan bahwa faktor utama di balik penurunan ini adalah aktivitas nelayan. Mereka tidak melaut selama lima hari menjelang dan setelah perayaan Lebaran 2026/Idul Fitri 1447 H. Kondisi ini secara langsung memengaruhi volume tangkapan dan pengiriman produk perikanan.
Pada Triwulan I 2026, frekuensi ekspor perikanan dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 558 kali. Nilai keseluruhan ekspor tersebut setara dengan 6,76 juta dolar Amerika Serikat atau sebesar Rp114,14 miliar. Destinasi utama ekspor perikanan Babel meliputi Malaysia, Singapura, Australia, dan beberapa negara lainnya.
Penurunan Ekspor dan Faktor Penyebabnya
Data dari Badan Mutu KKP Kepulauan Babel menunjukkan bahwa nilai ekspor perikanan Kepulauan Bangka Belitung mengalami koreksi di awal tahun 2026. Angka Rp114,14 miliar ini lebih rendah dari Rp123,92 miliar yang tercatat pada Triwulan I tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi perhatian mengingat potensi maritim daerah.
Dedy Arief Henriyanto menegaskan bahwa libur panjang Lebaran menjadi pemicu utama. Nelayan lokal memilih untuk tidak melaut, yang berdampak signifikan pada pasokan ikan dan produk perikanan lainnya. Situasi ini menyebabkan terhambatnya proses produksi dan pengiriman untuk pasar internasional.
Meskipun terjadi penurunan nilai, volume ekspor tetap menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi. Tercatat 558 kali frekuensi ekspor selama tiga bulan pertama tahun ini. Diversifikasi tujuan ekspor ke berbagai negara juga menunjukkan daya saing produk perikanan Babel di kancah global.
Potensi Ikan Mayung di Pasar Global
Ikan mayung menjadi primadona dalam daftar komoditas ekspor perikanan dari Bangka Belitung. Komoditas ini menduduki peringkat utama dengan Malaysia sebagai tujuan ekspor terbesarnya. Permintaan pasar Malaysia terhadap ikan mayung sangat tinggi dan konsisten.
Menurut Dedy Arief Henriyanto, tingginya permintaan ini membuka peluang besar untuk peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. Potensi ekspor ikan mayung dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan nelayan di daerah tersebut. Peningkatan produksi dan pengelolaan yang baik diperlukan untuk memaksimalkan peluang ini.
Saat ini, tingkat konsumsi ikan mayung di Bangka Belitung sendiri masih tergolong rendah. Kontras dengan permintaan di Malaysia yang sangat tinggi, hal ini menunjukkan adanya disparitas pasar. Fokus pada pasar ekspor dapat lebih menguntungkan bagi para pelaku usaha perikanan di Babel.
Keunggulan Cumi-cumi Bangka Belitung
Selain ikan mayung, ekspor cumi-cumi dari Kepulauan Babel juga menunjukkan performa yang sangat baik. Kualitas dan rasa cumi di daerah ini diakui unggul serta diminati oleh masyarakat di negara-negara lainnya. Keistimewaan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli internasional.
Dedy Arief Henriyanto menjelaskan bahwa rasa cumi Babel paling baik dan lebih enak, karena lebih lembut dibandingkan cumi-cumi di daerah lainnya. Karakteristik unik ini membuat harga cumi-cumi dari Kepulauan Babel cenderung lebih tinggi di pasar. Keunggulan rasa menjadi nilai tambah yang signifikan.
Tingginya permintaan dan harga yang kompetitif untuk cumi-cumi Babel menunjukkan potensi besar lainnya. Hal ini dapat menjadi salah satu pilar utama dalam peningkatan nilai ekspor perikanan daerah. Upaya menjaga kualitas dan keberlanjutan pasokan menjadi krusial.
Sumber: AntaraNews