Nanas Moris Berpotensi Jadi Unggulan Ekonomi Kawasan Transmigrasi
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menyoroti potensi besar nanas moris sebagai komoditas unggulan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan transmigrasi.
Pekanbaru, 17 Januari 2026 – Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menegaskan bahwa nanas moris memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan di kawasan transmigrasi. Potensi ini tidak hanya terbatas pada konsumsi segar, melainkan juga dapat diolah menjadi beragam produk bernilai tambah yang signifikan. Pengembangan komoditas ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan Viva Yoga saat menghadiri Festival Nanas 2026 yang berlangsung di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kabupaten Kampar, pada Sabtu ini. Ia menekankan pentingnya hilirisasi produk nanas moris, mulai dari minuman olahan hingga produk turunan berbasis serat. Langkah ini dianggap krusial untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah transmigrasi.
Pemerintah secara aktif mendorong setiap kawasan transmigrasi untuk memiliki komoditas unggulan yang jelas, guna memperkuat hilirisasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui pendekatan komprehensif, nanas moris diharapkan dapat menjadi tulang punggung ekonomi, memberikan manfaat dari hulu hingga hilir bagi masyarakat transmigran.
Potensi Hilirisasi Nanas Moris untuk Ekonomi Kawasan
Nanas moris menawarkan peluang hilirisasi yang luas, tidak hanya sebagai buah konsumsi segar. Berbagai produk olahan dapat dihasilkan, seperti keripik nanas, kue berbahan nanas, dan sirup, yang semuanya memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Bahkan, serabut dan serat dari daun nanas dapat diolah menjadi bahan bernilai tambah, membuka peluang industri baru.
Dalam Festival Nanas 2026, sejumlah pelaku UMKM lokal telah memamerkan beragam inovasi produk olahan berbahan dasar nanas moris. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pengolahan nanas moris sudah mulai digarap oleh masyarakat. Pengembangan produk turunan ini secara komprehensif diyakini akan memperkuat ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi.
Pemerintah berencana membuat perencanaan detail untuk mengembangkan program rumah produksi nanas moris. Program ini akan memastikan bahwa seluruh bagian dari nanas moris dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, nilai ekonomi nanas moris akan meningkat dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat transmigran.
Dukungan Pemerintah dan Peran Balai Pelatihan
Pemerintah terus berkomitmen untuk memastikan setiap kawasan transmigrasi memiliki komoditas unggulan yang spesifik dan jelas. Hal ini bertujuan agar penguatan hilirisasi dan pengembangan UMKM dapat berjalan efektif, sehingga mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri. Fokus pada komoditas unggulan akan mempermudah penyaluran dukungan dan pelatihan yang terarah.
Dalam kunjungan kerjanya, Wamentrans Viva Yoga meninjau langsung penanaman dan pemetikan nanas moris di demplot BPPMT Pekanbaru. Ia juga melihat budidaya bioflok ikan nila dan ternak ayam kampung unggul balitbangtan (KUB), serta berdialog dengan petani dan pelaku usaha. Kunjungan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memahami tantangan dan potensi di lapangan.
Pada kesempatan yang sama, Wamentrans Viva Yoga bersama Kepala BPPMT Pekanbaru, Ahmad Syahir, meresmikan Pusat Edukasi Nanas Moris BPPMT Pekanbaru. Pusat edukasi ini dirancang sebagai sarana budidaya, pelatihan, dan pengembangan nanas moris bagi petani, calon transmigran, dan masyarakat sekitar. Keberadaan pusat edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam mengelola nanas moris.
Strategi Komprehensif untuk Pengembangan Berkelanjutan
Festival Nanas 2026 bukan sekadar ajang promosi produk olahan, melainkan momentum strategis untuk memperkuat budidaya, diversifikasi, hilirisasi, dan pengembangan wisata edukasi berbasis nanas. Ahmad Syahir menjelaskan bahwa acara ini memiliki amanah besar untuk menjadikan nanas sebagai komoditas unggulan di kawasan-kawilayah transmigrasi.
BPPMT Pekanbaru memiliki mandat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat transmigrasi di 10 provinsi wilayah Sumatera, Kepulauan Riau, serta Bangka Belitung. Dengan dukungan 53 pegawai, BPPMT menjalankan program pelatihan dan pendampingan masyarakat. Kehadiran petani nanas, pelaku UMKM, serta kepala desa dari sentra penghasil nanas terbesar di Kabupaten Kampar turut memeriahkan festival ini.
Selain penguatan budidaya, BPPMT Pekanbaru juga menyiapkan langkah pengembangan produk turunan nanas, termasuk rencana pengolahan daun nanas menjadi serat yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Untuk itu, pembelajaran intensif dengan pelaku usaha dan ahli pengolahan daun nanas sedang dilakukan. Kementerian Transmigrasi menyatakan pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi akan disesuaikan dengan kondisi iklim dan karakter wilayah, memastikan setiap kawasan memiliki produk andalan yang berbeda.
Sumber: AntaraNews