Kurs Rupiah Melemah Lagi 13 Maret 2026, Nyaris Sentuh Rp17.000 per Dolar AS
Perhatikan perkembangan nilai tukar rupiah pada hari ini, Jumat 13 Maret 2026.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat 13 Maret 2025. Kurs rupiah tercatat melemah sebesar 30 poin atau 0,18 persen, menjadi 16.923 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di angka 16.893 per dolar AS. Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan bahwa pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh ketidakpastian mengenai berakhirnya konflik antara Iran dan AS-Israel.
"Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh global meningkatnya ketidakpastian berakhirnya perang Iran melawan AS-Israel yang mengakibatkan pelaku pasar menghindari aset berisiko (risk off) seperti rupiah yang menyebabkan index dollar meningkat," ungkapnya, seperti yang dikutip dari Antara pada Jumat (13/3/2026).
Dalam laporan dari Sputnik, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ari Larijani, pada Kamis (12/3) menyampaikan bahwa negara Republik Islam itu akan membuat Presiden AS, Donald Trump, merasakan konsekuensi dari agresinya terhadap Iran. Ia juga memberi sindiran kepada Trump dengan menyatakan bahwa perang tidak bisa dimenangkan hanya dengan beberapa cuitan, dan menegaskan bahwa keputusan untuk menyerang Iran adalah kesalahan perhitungan yang serius.
Trump sendiri pada Rabu (11/3) menyebut bahwa Iran "hampir berada di ujung jalan." Ia mengancam akan menghancurkan kapasitas listrik Iran dalam waktu satu jam, tetapi berharap tindakan tersebut tidak perlu dilakukan.
"Sementara dari domestik, (sentimen) terkait kekhawatiran pelaku pasar terhadap defisit anggaran dampak dari kenaikan subsidi yang dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dan disiplin fiskal pemerintah," tambah Rully.
Defisit APBN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk Tahun 2026 menunjukkan defisit sebesar 0,53 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang setara dengan Rp135,7 triliun pada akhir Februari 2026. Selain itu, diperkirakan bahwa APBN 2026 akan mengalami defisit total mencapai Rp698,15 triliun, yang merupakan 2,68 persen dari PDB.
Dengan adanya proyeksi defisit yang cukup signifikan tersebut, pemerintah perlu merencanakan langkah-langkah strategis untuk mengatasi tantangan keuangan yang ada.
"APBN 2026 diproyeksikan mengalami defisit Rp698,15 triliun, atau setara 2,68 persen terhadap PDB," jelas Purbaya. Hal ini menunjukkan pentingnya pengelolaan anggaran yang efisien agar dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.