Investasi Danantara Capai USD 35 Miliar per Tahun, 20 Persen Dialokasikan ke Luar Negeri
Investasi internasional tetap diperlukan untuk memperkuat posisi Danantara di pasar global.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan mengalokasikan 20 persen dari total modalnya untuk investasi di luar negeri. Hal ini disampaikan oleh Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani.
Rosan menyebut, meski fokus utama tetap pada pengembangan proyek-proyek strategis dalam negeri, investasi internasional tetap diperlukan untuk memperkuat posisi Danantara di pasar global.
“Fokus awal tetap di Indonesia, tapi sekitar 20 persen dari modal akan kita alokasikan untuk investasi luar negeri,” ujar Rosan dalam keterangannya yang dikutip dari Antara, Sabtu (14/6).
Dari total modal senilai USD 7 miliar yang berasal dari dividen, Danantara diperkirakan mampu melakukan pengungkit (leverage) hingga lima kali lipat, sehingga berpotensi mengelola dana investasi hingga USD 35 miliar per tahun. Dalam lima tahun ke depan, total potensi investasi yang dapat digerakkan mencapai USD 175 miliar.
Investasi ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, dengan target pertumbuhan hingga 8 persen. Dana tersebut akan difokuskan pada sektor-sektor prioritas di dalam negeri dan diharapkan mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
Selain itu, Rosan menegaskan bahwa keberadaan Danantara telah meningkatkan keyakinan investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia. Dalam ajang Asian Insight Conference 2025 yang digelar di Jakarta pada 21 Mei lalu, Rosan menyampaikan bahwa komunikasi intensif dengan investor asing telah menunjukkan hasil positif.
“Dengan adanya Danantara, banyak investor asing menjadi lebih percaya dan yakin untuk berinvestasi di Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Danantara, sebagai institusi investasi milik pemerintah, menjamin keamanan dan kelayakan proyek-proyek yang dikelola. Rosan juga menekankan pentingnya percepatan proses perizinan dan reformasi birokrasi guna menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif.
“Kita harus terus melakukan reformasi kebijakan agar tantangan seperti birokrasi bisa diminimalkan,” ujar Rosan yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM.
Pastikan untuk meyakinkan investor asing agar berinvestasi di Indonesia
Sebelumnya, Rosan Perkasa Roeslani, yang menjabat sebagai Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), menekankan bahwa kepercayaan investor asing untuk menanamkan modalnya semakin meningkat. Salah satu faktor yang memengaruhi hal ini adalah keberadaan Danantara.
Ia mengungkapkan bahwa telah menjalin komunikasi dengan calon investor serta perusahaan asing yang sudah berinvestasi di Indonesia.
"Justru dengan adanya Danantara ini, saya bicara dengan banyak potential investor atau investor yang ada foreign direct investment, mereka justru menjadi lebih yakin. Mereka menjadi lebih confidence dengan adanya Danantara ini," tutur Rosan dalam Asian Insight Conference 2025, di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (21/5).
Rosan menjelaskan bahwa keberadaan Danantara diyakini dapat memberikan dampak positif terhadap keyakinan para investor asing. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi mereka. Ia menyatakan bahwa Danantara, yang sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah, memberikan jaminan bahwa investasi yang dilakukan aman.
"Bahwa ini adalah proyek yang baik dan benar, dan tentunya baik secara perizinan, permit, segala macam, itu harus kita bisa accelerate dengan baik dan benar," ucapnya.
Selain itu, ia juga menyoroti tantangan yang sering dihadapi, seperti birokrasi, dan menekankan pentingnya reformasi kebijakan dan regulasi.
"Karena kita ketahui kadang-kadang tantangannya adalah hal-hal seperti birokrasi yang tentunya kita harus keep reforming ourself," tambah Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM ini.
Bekerja sama dengan Jepang, China, dan Malaysia
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danatara) akan segera menandatangani kesepakatan investasi dengan Jepang, China, dan Malaysia. Menurut Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, kerja sama tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat. Rosan memperkirakan bahwa dalam 2-3 minggu ke depan, Danantara akan resmi menjalin kerja sama dengan ketiga negara tersebut. Kerja sama ini menyusul investasi (joint fund) yang telah dimulai sebelumnya dengan Qatar. "Saya melihat mungkin dalam waktu dua minggu ini atau tiga minggu ini kita akan ada tanda tangan juga dengan joint fund dengan beberapa negara juga dengan Jepang, saya lihat dengan China, dengan Malaysia," kata Rosan saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, pada Rabu (21/5/2025).
Terdapat dua negara lain
Selain ketiga negara yang telah disebutkan, Rosan mengungkapkan bahwa dia juga sedang melakukan pembicaraan dengan satu atau dua negara lainnya. Meskipun demikian, dia belum mengungkapkan nama-nama negara tersebut atau rincian mengenai kerja sama yang sedang dijajaki. "Masih mungkin ada satu-dua negara lain yang kita dalam tahap diskusi," ucapnya. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM ini menekankan bahwa kolaborasi dengan negara-negara lain merupakan bentuk kepercayaan terhadap keberadaan Danantara.
Dia menambahkan, "Karena mereka melihat, mereka ini mempunyai keyakinan dengan adanya Danantara ini, jadi mereka, seperti yang saya sampaikan, mereka pun mau berinvestasi karena mereka tahu kita juga investasi bersama-sama dengan mereka." Pernyataan ini menunjukkan bahwa Danantara tidak hanya menjadi wadah investasi, tetapi juga membangun kepercayaan di antara para investor. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperkuat hubungan internasional.