Elon Musk: Amerika Serikat Bakal Terjerumus dalam Perbudakan Utang Akibat Kebijakan Trump
Dalam beberapa tahun terakhir, isu kenaikan plafon utang telah menjadi alat tarik-menarik politik antara kedua partai besar di AS.
Pengusaha asal Amerika Serikat, Elon Musk menyebut bahwa Amerika Serikat (AS) berisiko jatuh ke dalam 'perbudakan utang' akibat Rancangan Undang-Undang atau RUU belanja dan pajak yang diusulkan oleh Presiden Donald Trump.
Pada bulan Mei, Dewan Perwakilan Rakyat AS meloloskan RUU berjudul One Big Beautiful Bill, yang memotong pengeluaran pemerintah federal, namun di saat yang sama memberikan keringanan pajak besar-besaran. Menurut Kantor Anggaran Kongres (CBO), kebijakan ini justru akan memperlebar defisit anggaran dan menambah utang nasional.
"RUU ini menaikkan plafon utang sebesar USD 5 triliun, kenaikan terbesar dalam sejarah dan menempatkan Amerika di jalur cepat menuju perbudakan utang!" tulis Musk di platform X (sebelumnya Twitter).
Musk telah beberapa kali mengkritik RUU ini lewat berbagai unggahannya. Dia sebelumnya juga menyoroti bahwa defisit anggaran AS berpotensi membengkak hingga USD 2,5 triliun, yang pada akhirnya akan membebani rakyat dengan utang yang tidak dapat ditanggung.
Para analis memperingatkan bahwa Amerika Serikat bisa menghadapi ancaman gagal bayar (default) pada Agustus mendatang jika Partai Republik dan Demokrat di Kongres tidak mencapai kesepakatan untuk menaikkan batas utang negara.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu kenaikan plafon utang telah menjadi alat tarik-menarik politik antara kedua partai besar di AS.
Hubungan Trump dan Elon Musk
Hubungan Donald Trump dan Elon Musk kembali memanas. Dalam sebuah wawancara terbaru dengan NBC News, mantan Presiden AS itu menegaskan tidak berniat berdamai dengan CEO Tesla dan SpaceX tersebut dalam waktu dekat.
Tak hanya itu, Trump juga mengancam Musk, bahkan ia sempat mengatakan akan konsekuensi serius. Ancaman ini berlaku jika Musk berbalik arah dan mendukung kandidat dari Partai Demokrat.
"Kalau dia memilih mendukung Demokrat, dia akan menghadapi konsekuensi yang sangat serius," ujar Trump tanpa merinci bentuk konsekuensi itu dikutip Gizmodo, Senin (9/6).
Sebelumnya, Trump memang sempat mengancam akan membatalkan kontrak bernilai miliaran dolar antara pemerintah AS dengan perusahaan milik Musk.
Sekutunya, Steve Bannon, bahkan menyarankan agar pemerintah menyelidiki status imigrasi Musk dan mengambil alih perusahaannya menggunakan Defense Production Act.
Musk sendiri sempat membalas melalui X menuduh Trump terkait dengan kasus Jeffrey Epstein. Dalam unggahan yang kini sudah dihapus, Musk menyindir bahwa Trump "tahu lebih banyak dari yang dia akui."
Dia juga sempat menyatakan dukungan terhadap upaya pemakzulan Trump, meski sebelumnya pernah mendonasikan hampir USD300 juta untuk kampanye Trump. Namun dalam wawancara yang sama, Trump menepis semua tuduhan itu.
"Itu berita lama, sangat lama. Tidak ada hubungannya dengan saya," katanya soal dugaan keterlibatannya dalam skandal Epstein. Ia juga memastikan bahwa hubungannya dengan Musk telah selesai.
"Saya kira begitu, ya. Saya terlalu sibuk dengan hal lain. Saya tidak punya niat untuk berbicara dengannya,” ungkap dia.
Sepakati 'Gencatan Senjata'
Meski demikian, laporan dari Politico menyebut bahwa perwakilan kedua pihak sebenarnya telah berkomunikasi dan menyepakati semacam ‘gencatan senjata’ tidak resmi untuk sementara waktu.
Namun sumber internal menyebut baik Trump maupun Musk belum benar-benar menutup kemungkinan untuk kembali saling serang, tergantung dinamika politik ke depan.
Sementara drama ini terus berlangsung, hasil jajak pendapat YouGov menunjukkan publik Amerika Serikat lebih condong ke Trump. Sebanyak 71 persen pendukung Partai Republik memilih Trump dibanding Musk yang hanya meraih 6 persen.
Jika diperluas ke seluruh pemilih lintas partai, Trump unggul 28 persen, sementara Musk hanya didukung 8 persen. Lebih dari 52 persen responden memilih untuk tidak berpihak pada keduanya.
Hubungan antara dua tokoh berpengaruh ini tampaknya akan terus menjadi sumber intrik politik. Apakah mereka akan benar-benar bentrok atau tetap saling menahan diri masih menjadi pertanyaan besar.
Namun dengan karakter keduanya yang dikenal eksplosif dan tidak mudah dikendalikan, publik tampaknya tinggal menunggu kapan drama berikutnya meledak.