Dulu Miskin dan Sering Dibully, Kini Sukses Punya Brand Skincare dan Kesehatan
Sejak kecil, dia sering mendapat hinaan dari teman-temannya dan bahkan mengalami perundungan yang menyakitkan.
Denok Suparti lahir dari keluarga yang kurang berkecukupan. Tapi hal itu tidak menghalanginya untuk bermimpi besar. Sejak kecil, dia sering mendapat hinaan dari teman-temannya dan bahkan mengalami perundungan yang menyakitkan. Namun, semangatnya untuk meraih pendidikan tinggi tetap diperjuangkan.
Melansir dari YouTube Pecah Telur, Denok menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh liku. Masa kecil Denok yang penuh kesulitan membentuk keteguhan hatinya. Dia pernah mengalami perundungan berat, bahkan hampir ditenggelamkan oleh seseorang.
“Dulu setelah pulang sekolah, saya sering kelaparan. Untuk bertahan hidup, saya mencari makanan di sawah, seperti mentimun sisa panen. Saya juga sering dipukuli teman-teman hanya karena bermimpi ingin menjadi dosen. Mereka bilang, ‘Kamu siapa? Kamu anak orang miskin, mana mungkin jadi dosen?" ceritanya.
Namun, semangatnya tak pernah padam. Ia rajin belajar meski tak mampu membeli buku. Denok meminjam buku salah satu temannya, dan mulai menghafal satu demi satu pelajaran.
Dia berhasil menyelesaikan pendidikan hingga ke perguruan tinggi dan bahkan pernah tinggal di Amerika Serikat (AS). Namun, sebelum kepulangannya ke Indonesia, dia mengalami sebuah kejadian yang mengubah hidupnya.
“Saya tiba-tiba jatuh sakit saat bulan puasa di tahun 2010, satu tahun sebelum pulang ke Indonesia. Puasa di Amerika berbeda dengan di Indonesia, siangnya lebih panjang. Saat itu, saya mendadak mengalami sakit yang luar biasa, seperti masuk angin yang tak kunjung sembuh. Ternyata, saya didiagnosis mengalami ileus, kondisi di mana usus saya mengalami penyumbatan dan berputar,” ujar Denok.
Dalam kondisi kritis di rumah sakit, Denok merasa benar-benar sendirian. Namun, dia justru merasakan keajaiban.
“Di sana saya tidak punya siapa-siapa, tetapi pelayanan kesehatan di luar negeri luar biasa. Tidak ada yang bertanya saya siapa atau dari mana, yang penting saya bisa segera ditolong. Jika saya terlambat ditangani satu atau dua jam saja, mungkin nyawa saya sudah melayang,” ujarnya.
Denok akhirnya bisa pulang, kembali ke Indonesia. Dia direkrut oleh sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan sebagai medical advisor. Melalui perannya ini, ia merasa memiliki kesempatan untuk berbagi ilmu dan pengalaman.
“Saya bukan orang yang sangat pintar atau berilmu tinggi, tetapi saya merasa Allah menitipkan sedikit ilmu kepada saya. Saya bahagia bisa membantu banyak orang memahami pola hidup sehat dan berpikir positif,” ujarnya.
Kesuksesan perlahan menghampiri Denok. Dia menjadi pembicara di berbagai seminar dan mendapatkan penghasilan yang luar biasa.
“Pernah dalam satu bulan, saya berpenghasilan lebih dari Rp200 juta, dan dalam delapan bulan, saya mengumpulkan hingga Rp2 miliar. Itu melebihi penghasilan saya saat di Amerika,” katanya.
Tahun 2016, hidupnya kembali mengalami titik balik. Setelah pulang dari ibadah umrah, dia mulai merasa tidak nyaman dengan bisnis yang dijalankannya.
Denok merasa penghasilannya besar, tetapi uangnya cepat habis. Dia memutuskan mengikuti ajaran Rasulullah untuk berdagang. Denok mulai merintis usaha di bidang kesehatan dan kecantikan dengan membangun mereknya sendiri, seperti Best Face Skincare, Yukari Skincare, serta produk kesehatan seperti susu kambing etawa.
Dia meyakini bisnis bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga tentang memberikan manfaat bagi banyak orang.
Sepatu Nike Buatan Indonesia
Pengalamannya di Amerika juga membentuk pola pikirnya. Masyarakat Amerika cenderung lebih memilih produk buatan negaranya sendiri. Hal yang sama juga ia lihat pada masyarakat Jepang dan China, yang lebih mengutamakan produk dari negara mereka.
Sehingga dia berharap agar masyarakat Indonesia juga memiliki kebanggaan yang sama terhadap produk dalam negeri dan tidak selalu mengutamakan barang impor.
Denok pernah mengalami peristiwa yang membuatnya semakin yakin pentingnya mendukung produk lokal. Saat berlibur ke Florida, ia tertarik membeli sepatu bermerek Nike.
Namun, ketika sampai di rumah, ia menyadari bahwa sepatu tersebut ternyata diproduksi di Indonesia. Perasaan bangga sekaligus heran menyelimutinya, menyadarkannya bahwa produk Indonesia sebenarnya sudah mendunia.
Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat untuk lebih memaksimalkan penggunaan produk-produk dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam negeri, karena kualitasnya tidak kalah dengan produk luar.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah, sehingga apa pun yang ada di negeri ini dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.
"Jadi marilah kita memaksimalkan produk-produk UMKM kita ini juga tidak kalah bagus mas. Jadi produk UMKM kita kemudian produk semuanya di Indonesia itu ada," harapnya.
Kini, Denok ingin menginspirasi banyak orang untuk berani bermimpi setinggi mungkin. Dia selalu mengatakan pada dirinya, untuk tidak peduli dari keluarga mana kita berasal, selama kita punya mimpi dan pantang menyerah, kita bisa meraihnya.