Dorong Ekonomi Pesisir, Papua Barat Daya Genjot Hilirisasi Perikanan dengan TEFA Kerang
Papua Barat Daya meluncurkan program budidaya kerang berbasis Teaching Factory (TEFA) guna mengoptimalkan hilirisasi perikanan, berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan daya saing ekspor.
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat Daya bersama Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong resmi meluncurkan program budidaya kerang. Inisiatif ini berfokus pada Teaching Factory (TEFA) untuk mengoptimalkan hilirisasi perikanan di wilayah tersebut.
Peluncuran program strategis ini bertujuan utama untuk memaksimalkan potensi kelautan. Selain itu, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang tinggal di pesisir.
Program TEFA kerang ini juga diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru. Serta secara signifikan meningkatkan pendapatan bagi para nelayan setempat.
Strategi Penguatan Ekonomi Pesisir Papua Barat Daya
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat Daya, Absalom Solossa, menegaskan bahwa program ini adalah langkah strategis. Ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi kelautan daerah yang sangat besar. Provinsi Papua Barat Daya memiliki lima kabupaten/kota dengan wilayah pesisir yang luas. Area ini menyimpan potensi besar untuk pengembangan budidaya perikanan, termasuk komoditas kerang.
Solossa menambahkan, program ini diharapkan menjadi pengungkit ekonomi bagi masyarakat pesisir. Ini akan membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan nelayan secara signifikan. Kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan menjadi kunci utama.
Kolaborasi tersebut mencakup berbagai aspek penting. Mulai dari penguatan pelatihan, pengelolaan mangrove, hingga menjaga kebersihan pesisir. Pengembangan industri pendukung seperti pabrik pakan ikan skala kecil juga menjadi fokus.
Implementasi Pendidikan Vokasi Melalui TEFA Kerang
Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong, Daniel Heintje Ndahawali, menjelaskan bahwa TEFA kerang adalah implementasi pendidikan vokasi. Program ini secara efektif mengintegrasikan teori dengan praktik industri. Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik budidaya.
Praktik budidaya ini dilakukan di kawasan terintegrasi yang telah memenuhi standar industri. Selain budidaya kerang, mahasiswa juga mendapatkan pembelajaran pada komoditas lain. Ini termasuk bandeng, udang, hingga pengolahan produk turunan perikanan.
Produk turunan tersebut bahkan mencakup produk nonpangan berbahan dasar hasil laut. Seluruh proses pembelajaran mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) industri. Tujuannya adalah menghasilkan lulusan yang siap kerja dan kompetitif, khususnya di sektor perikanan Indonesia timur.
Potensi Ekspor dan Dukungan Pengawasan Mutu
Kepala Karantina Pertanian Sorong, I Wayan Kertenaga, menyatakan dukungan penuh terhadap program TEFA kerang ini. Dukungan tersebut terutama berfokus pada pengawasan mutu dan distribusi hasil produksi perikanan. Budidaya kerang dinilai memiliki keunggulan karena relatif adaptif terhadap perubahan iklim.
Selain itu, kerang memiliki siklus panen yang cukup singkat, sekitar tujuh bulan sudah dapat dipanen. Potensi produksi kerang dapat ditingkatkan hingga mencapai ekspor sekitar satu ton per minggu. Ini menunjukkan peluang besar bagi hilirisasi perikanan.
Dengan jaminan kualitas produk yang terjaga, komoditas kerang dari Papua Barat Daya berpotensi besar. Hal ini dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru daerah. Sekaligus memperkuat daya saing ekspor perikanan nasional di pasar global.
Sumber: AntaraNews