Di Ajang WEF Davos 2026, Dirut BRI Sampaikan Kiprah BRI dalam Layani Segmen Mikro dan UMKM
Bagi BRI, keuangan berkelanjutan bukanlah program tambahan, melainkan telah menjadi bagian dari proses bisnis yang diterapkan secara konsisten dalam pembiayaan.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menegaskan komitmennya dalam melayani segmen mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian integral dari agenda keuangan berkelanjutan global. Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam forum Indonesia Pavilion melalui panel Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets pada ajang World Economic Forum (WEF) Davos 2026, Selasa (20/1/2026).
Panel diskusi tersebut turut menghadirkan President and Chief Executive Officer of TCW Katie Koch, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini, serta Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Lubis yang bertindak sebagai moderator.
Dalam paparannya, Hery menjelaskan bahwa di negara berkembang, sektor UMKM mencakup lebih dari 90% dari total jumlah usaha dan berperan sebagai penggerak utama perekonomian, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga penguatan rantai pasok lokal serta ketahanan ekonomi masyarakat. Namun demikian, kontribusi UMKM masih kerap luput dalam diskursus global terkait keberlanjutan.
"Sejak awal berdiri hingga di usianya yang kini menginjak 130 tahun, BRI memang didesain untuk melayani segmen mikro dan UMKM. Komitmen tersebut tetap menjadi fondasi utama BRI. Karena itu, kami sangat senang dapat berada di WEF Davos 2026 untuk membahas isu keuangan berkelanjutan yang sejalan dengan apa yang telah kami jalankan selama ini," ujar Hery.
Ia menambahkan bahwa bagi negara berkembang, keberlanjutan tidak lagi sebatas ambisi, melainkan menuntut eksekusi nyata, terutama dalam memastikan pembiayaan berkelanjutan dapat disalurkan secara aman, efisien, dan dalam skala besar kepada sektor-sektor yang paling membutuhkan.
Dalam konteks tersebut, sebagai bank UMKM terbesar di negara berkembang, BRI mengintegrasikan prinsip inklusi, pembiayaan, dan keberlanjutan dalam seluruh kegiatan usahanya. Bagi BRI, keuangan berkelanjutan bukanlah program tambahan, melainkan telah menjadi bagian dari proses bisnis yang diterapkan secara konsisten dalam pembiayaan jutaan pelaku usaha setiap hari.
"Tidak akan ada transisi hijau yang berhasil dan tidak akan ada pertumbuhan yang inklusif tanpa UMKM yang ikut bergerak maju bersama. Keberlanjutan yang sesungguhnya terjadi ketika pembiayaan menjangkau desa-desa, petani, serta pelaku usaha mikro di Indonesia," ucapnya.
Transparansi dan kualitas pelaksanaan
Lebih lanjut, Hery menilai perhatian global terhadap pembiayaan berkelanjutan kini semakin menitikberatkan pada dampak, transparansi, dan kualitas pelaksanaan. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan eksekusi di tingkat lokal agar pembiayaan berkelanjutan benar-benar menjangkau sektor yang membutuhkan.
"BRI menjalankan peran sebagai anchor bank dengan menjalin kemitraan bersama pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, serta lembaga multilateral untuk menyalurkan pembiayaan campuran (blended finance) kepada pelaku UMKM. Tanpa dukungan institusi lokal yang kuat, pembiayaan berkelanjutan berisiko hanya berhenti pada tataran konsep, tanpa memberikan dampak nyata di lapangan," jelas Hery Gunardi.
Digitalisasi juga menjadi kunci dalam memperluas jangkauan pembiayaan berkelanjutan hingga ke tingkat lokal. Pemanfaatan teknologi dinilai mampu meningkatkan efisiensi pembiayaan, memperluas akses bagi pelaku usaha, serta mendukung implementasi prinsip ESG (Environmental, Social & Governance) hingga ke segmen UMKM.
Porsi kredit UMKM BRI mencapai 80,02%
Sejalan dengan peran BRI sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan, hingga September 2025 porsi kredit UMKM konsolidasian yang disalurkan BRI mencapai 80,02% dari total portofolio kredit atau setara Rp1.150 triliun. Selain penyaluran pembiayaan, BRI juga secara konsisten memperluas dampak melalui berbagai program pengembangan kapasitas UMKM, seperti Desa BRILiaN, Klasterku Hidupku, serta platform LinkUMKM yang telah dimanfaatkan oleh lebih dari 14,98 juta pelaku UMKM di seluruh Indonesia.