Begini Perjalanan Hamzah Haz, Dimulai dari Wartawan hingga Jadi Wakil Presiden
Dia adalah salah satu politikus kawakan Indonesia.
Kabar duka kembali menyelimuti tanah air Indonesia, Wakil Presiden ke-9 RI Hamzah Haz meninggal dunia. Ia menghembuskan napas terakhir saat dalam perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
"Innalillahi wa inna ilaihi Rojiun. Benar, telah wafat Bapak Dr Hamzah Haz, pagi ini jam 09.30," ujar Politikus PPP Arwani Tomafi dalam keterangannya, Rabu (24/7).
Hamzah Haz, seorang tokoh yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia politik Indonesia, lahir dan dibesarkan di Pontianak.
Dia adalah salah satu politikus kawakan Indonesia. Hamzah lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, 15 Februari 1940.
Hamzah dikenal sebagai orang yang sederhana. Ia bermukim di Jalan Tegalan 27, Matraman, Jakarta Timur.
Melansir dari berbagai sumber, Hamzah mulai aktif berorganisasi sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Setelah menamatkan Sekolah Menengah Ekonomi Atas di Pontianak pada tahun 1961, dia memulai karirnya sebagai wartawan di surat kabar Bebas, Pontianak.
Namun, kariernya sebagai jurnalis tidak berlangsung lama karena dia ikut ayahnya, anggota Koperasi Kopra yang mendapat tugas belajar di Akademi Koperasi Negara Yogyakarta.
Di sana, semangat organisasinya tetap berkobar, dan dia mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan menjabat sebagai ketua organisasi tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya, Hamzah kembali ke Pontianak untuk meraih gelar sarjana dan kemudian menjadi dosen di Universitas Tanjungpura.
Di luar kampus, Hamzah Haz aktif dalam berbagai kapasitas, termasuk sebagai Ketua Presidium KAMI Konsulat Pontianak dan mewakili Angkatan 66 di DPRD Kalimantan Barat.
Dia juga terlibat dalam DPW Nahdlatul Ulama (NU) Kalimantan Barat dan mewakili NU di DPR/MPR Senayan pada tahun 1971.
Setelah NU bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Hamzah Haz memulai karir politik resminya. Dia menjadi anggota DPR untuk beberapa periode dan menjabat sebagai Ketua Umum DPP PPP, kemudian Menteri Negara Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada tahun 1998.
Pada tahun 1998 ia menjadi Menteri Negara Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkuat kabinet Presiden Habibie.
Kemudian di tanggal 10 Mei 1999, ia mengundurkan diri dari jabatan menteri karena ada desakan masyarakat agar pimpinan partai tidak duduk sebagai menteri.
Lalu, pada 29 Oktober 1999, ia diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan dalam Kabinet Gus Dur.
Tetapi, namanya dicoret oleh Gus Dur. Pada hari Kamis, 26 Juli 2001, Hamzah terpilih sebagai Wakil Presiden ke-9 Republik Indonesia.
Hal ini terjadi setelah jatuhnya Abdurrahman Wahid dari kursi presiden, dan Megawati Soekarnoputri yang menjabat wakil presiden naik menjadi presiden.
Lowongnya kursi wapres itu tidak langsung ditempati Hamzah, melainkan ia harus melalui proses pemilihan. Hamzah diharuskan bertarung menghadapi nama-nama yang cukup dikenal luas seperti Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, mantan Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono, Menko Polsoskam Agum Gumelar, dan Siswono Yudo Husodo.
Dalam pemungutan putaran ketiga dalam lanjutan Rapat Paripurna Sidang Istimewa (SI) MPR ia berhasil mengungguli Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tandjung.
Lalu pada Pemilu 2004, Partai Persatuan Pembangunan meraih posisi keempat dengan 8,15 persen suara, di bawah Partai Kebangkitan Bangsa.
Kemudian Hamzah Haz dicalonkan sebagai calon presiden oleh PPP, berpasangan dengan Agum Gumelar sebagai calon wakil presiden, namun kalah dengan hanya mendapatkan 3 persen suara.