Kisah Mbah Mardi, Kakek Berusia 103 Tahun Jual Sapi hingga Melawan Sakit Demi Berangkat Haji
Mardi Jiyono Kartosentono menjadi salah satu calon jemaah haji tertua di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Mardi Jiyono Kartosentono menjadi salah satu calon jemaah haji tertua di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pria yang akrab disapa Mbah Mardi itu kini telah berusia 103 tahun.
Rasa bahagia tak bisa disembunyikan saat penantian panjangnya akhirnya terwujud. Mbah Mardi mengaku sangat senang bisa berangkat haji pada tahun 2026, setelah mendaftar sejak 2019.
Awalnya, ia dijadwalkan berangkat pada 2045. Namun berkat upaya salah seorang cucunya serta pertimbangan usia, keberangkatannya dimajukan menjadi tahun ini.
"Senang (senang bisa berangkat haji). Sik penting sehat awak e (yang penting badannya sehat)," kata Mbah Bardi, Rabu (22/4) lalu.
Kondisi Fisik Tetap Tangguh di Usia Senja
Meski telah melewati usia satu abad, Mbah Mardi masih menunjukkan ketangguhan. Ia memang harus menggunakan alat bantu jalan setelah mengalami retak tulang akibat terjatuh di kamar mandi pada 2022.
Dari sisi daya ingat, kondisinya masih terbilang tajam. Namun, pendengarannya mulai menurun seiring bertambahnya usia. Dalam keseharian, ia menggunakan alat bantu dengar atau dibantu oleh anaknya untuk berkomunikasi.
Perjalanan haji kali ini bukanlah yang pertama baginya ke Tanah Suci. Sebelumnya, Mbah Mardi juga pernah menunaikan ibadah umrah.
"Saya itu diberi perpanjangan umur sama Allah. Sik penting awake diparingi kuat (yang penting badannya dikasih kesehatan dan kekuatan)," ungkap Mbah Mardi.
Biaya dari Tabungan dan Jual Sapi
Anak kedua Mbah Mardi, Warjiyem (64), menceritakan bahwa ayahnya mendapatkan jatah kursi haji pada 2019 dengan setoran awal sebesar Rp 29 juta.
Dana tersebut berasal dari tabungan pribadi Mbah Mardi sebesar Rp 10 juta, sementara Rp 19 juta lainnya didapat dari hasil penjualan dua ekor sapi. Selanjutnya, pada 2025 dilakukan pelunasan sebesar Rp 26 juta.
Keinginan Mbah Mardi untuk berhaji, menurut Warjiyem, sudah tertanam sejak lama. Bahkan saat sempat jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit beberapa bulan lalu, semangat berhaji justru menjadi penyemangat kesembuhannya.
"Tahun 2025 pernah sakit. Dibisiki, 'sembuh Mbah, besok mau berangkat haji' langsung makan dan sembuh," cerita Warjiyem.
Harapan Menjadi Haji Mabrur
Dalam keseharian, Mbah Mardi tidak memiliki pantangan makanan. Selama makanan tersebut hangat dan sesuai selera, ia tetap lahap menyantapnya.
Berdasarkan pemeriksaan kesehatan terakhir, kondisi Mbah Mardi dinyatakan sehat dan siap berangkat ke Tanah Suci. Ia juga masih mampu berjalan meski menggunakan alat bantu. Selama pelaksanaan ibadah haji nanti, ia akan didampingi oleh seorang pendamping.
"Harapan saya semoga simbah bisa melaksanakan ibadah haji dengan baik. Semoga simbah bisa jadi haji mabrur," tutup Warjiyem.