Intelijen AS Ungkap Iran Tak akan Tumbang, Amerika Kalah Total?
Setelah dua minggu pasca pengeboman dan pembunuhan pemimpin tertingginya, Iran dilaporkan masih mampu mempertahankan pemerintahannya.
Laporan-laporan intelijen dari Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa kepemimpinan Iran masih mampu mempertahankan kontrol atas negara tersebut. Hal ini diungkapkan oleh beberapa sumber yang mengetahui situasi tersebut kepada kantor berita Reuters.
Setelah dua pekan serangan gabungan antara AS dan Israel yang menargetkan Iran, termasuk serangan yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei, salah satu sumber menyatakan kepada Reuters bahwa terdapat analisis yang konsisten yang menunjukkan bahwa rezim Iran tidak berada dalam ancaman untuk runtuh dan pemerintah tetap menguasai publik di Iran.
Menyusul sejumlah laporan intelijen yang menyimpulkan hal tersebut, di mana laporan terbaru muncul dalam beberapa hari terakhir, langkah Presiden Donald Trump untuk menghentikan pengeboman bisa jadi merupakan kegagalan besar bagi pemerintahannya. Trump menyatakan kepada CBS pada Senin (9/3) bahwa operasi militer akan berakhir "segera, sangat segera".
AS Tak Punya Rencana Jelas di Iran
Laporan-laporan ini muncul setelah beberapa senator dari Partai Demokrat memberikan komentar setelah mengikuti pengarahan tertutup dari pejabat pemerintahan Trump pada Selasa (10/3). Mereka mengungkapkan bahwa AS "tidak memiliki rencana" yang jelas di Iran dan penilaian awal dari Badan Intelijen Pusat (CIA) sebelumnya menyimpulkan bahwa jika para pemimpin Iran dihilangkan, kelompok yang lebih radikal mungkin akan muncul.
Intervensi militer yang dilakukan oleh Trump, yang hingga saat ini telah menyebabkan kematian sedikitnya tujuh tentara AS dan melukai 140 lainnya, memicu reaksi keras dari sebagian pendukungnya. Di sisi lain, harga minyak melonjak setelah Iran memblokir Selat Hormuz, jalur strategis yang dilewati sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia. Jika pemerintahan Republik Islam Iran tidak berhasil digulingkan, situasi ini bisa menambah tekanan lebih lanjut terhadap Gedung Putih.
Para senator yang mendapatkan pengarahan dari pejabat AS juga menegaskan bahwa "perubahan rezim" bukanlah salah satu tujuan dari konflik ini. Dalam laporan terpisah, Reuters menemukan bahwa para pejabat Israel tidak yakin akan adanya pemberontakan dari masyarakat Iran maupun kemungkinan runtuhnya pemerintahan negara tersebut, yang baru-baru ini menunjuk pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya.
Sikap Pemerintah AS Berubah-ubah
Sumber lain menegaskan bahwa Israel tidak berniat membiarkan bentuk pemerintahan Iran bertahan. Namun, mereka juga menyatakan bahwa untuk berhasil menggulingkan rezim tersebut, kemungkinan akan diperlukan pengerahan pasukan darat, sesuatu yang belum dikesampingkan oleh AS.
Pemerintahan Trump sebelumnya telah memberikan beberapa alasan untuk memulai Operasi Epic Fury, operasi militer yang sedang berlangsung terhadap Iran, yang mencakup tindakan membela diri terhadap ambisi nuklir Iran dan kesempatan untuk membebaskan rakyat Iran.
Namun saat ini, di tengah peringatan dari Iran bahwa harga minyak bisa melonjak jauh lebih tinggi, operasi militer terbesar AS sejak tahun 2003 tersebut tampaknya sudah menghadapi berbagai kesulitan. Pemerintah AS juga menyampaikan pesan yang saling bertentangan mengenai langkah selanjutnya.
Sehari sebelum Trump berjanji bahwa perang akan segera berakhir, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan kepada CBS, "Ini baru permulaan."