Bangkok Diprediksi Jadi Kota Terpanas di ASEAN pada Tahun 2050
Laporan tentang suhu ekstrem di Bangkok diterbitkan oleh ASEAN Centre for Energy (ACE) sebagai bagian dari penelitian terkait perubahan iklim.
Kota Bangkok diprediksi akan menjadi salah satu kota dengan suhu paling ekstrem di kawasan ASEAN pada tahun 2050. Hal ini disebabkan oleh kombinasi dari perubahan iklim, urbanisasi yang pesat, dan kurangnya ruang hijau di perkotaan.
Laporan terbaru dari ASEAN Centre for Energy (ACE) menyebutkan bahwa Bangkok dapat mengalami hingga 120 hari dengan suhu ekstrem setiap tahunnya pada pertengahan abad ini. Angka ini hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan kondisi saat ini yang berada di kisaran 45 hari per tahun dengan suhu di atas 35 derajat Celsius.
Studi tersebut juga memperkirakan bahwa suhu permukaan maksimum harian di Bangkok dapat mencapai 38,1 derajat Celsius pada tahun 2050, meningkat signifikan dibandingkan dengan 33,3 derajat Celsius pada tahun 2000, seperti yang dikutip dari laman Channel News Asia pada Kamis (7/5/2026).
"Dampak urbanisasi yang cepat dan perubahan iklim menciptakan panas yang sangat tidak tertahankan," ujar pejabat senior ACE, Irma Ramadan, yang juga merupakan salah satu penulis laporan tersebut, sebagaimana dikutip dari laman Channel News Asia.
Gelombang panas yang terus meningkat ini telah mendorong pemerintah Bangkok untuk membuka ratusan "pusat pendingin" darurat guna membantu warga menghadapi suhu ekstrem. Salah satu fasilitas tersebut terletak di perpustakaan umum distrik Din Daeng, tempat di mana warga dapat berlindung dari panas yang menyengat.
Menurut Administrasi Metropolitan Bangkok (BMA), ibu kota Thailand ini mengalami sedikitnya 19 hari berturut-turut dengan indeks panas kategori "berbahaya" hingga pertengahan April. Sebagai respons terhadap situasi ini, pemerintah kota telah menyiapkan 313 pusat pendingin yang tersebar di sekolah, kantor distrik, pusat kesehatan masyarakat, hingga pusat kebudayaan.
Selain itu, terdapat 279 titik pendinginan luar ruangan yang berupa area teduh dengan pepohonan dan sumber air. Dalam sebulan terakhir, lebih dari 120 ribu warga telah memanfaatkan fasilitas tersebut. Sebagian besar pusat pendingin dibangun di dekat kawasan padat penduduk agar mudah diakses oleh masyarakat yang rentan.
Panas Ekstrem Menjadi Ancaman Bencana
Direktur Asian Disaster Preparedness Center, Peeranan Towashiraporn, menegaskan bahwa panas ekstrem saat ini perlu dipandang sebagai ancaman bencana, bukan hanya sekadar fenomena cuaca musiman.
"Pusat pendingin dan sistem peringatan panas sangat penting karena dapat menyelamatkan nyawa selama gelombang panas ekstrem," katanya.
Menurut peringatan dari ACE, tren serupa juga akan dialami oleh kota-kota besar lainnya di Asia Tenggara. Jakarta, Manila, Ho Chi Minh City, dan Kuala Lumpur diperkirakan akan mengalami kenaikan suhu minimal 4,5 derajat Celsius dibandingkan dengan tahun 2000.
Sementara itu, Singapura diproyeksikan menghadapi suhu maksimum rata-rata mencapai 36,1 derajat Celsius, dengan jumlah hari panas ekstrem yang meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi sekitar 85 hari per tahun. Laporan tersebut mencatat bahwa gelombang panas di kawasan ASEAN kini meningkat dari dua hingga tiga kali per tahun pada awal 2000-an menjadi delapan hingga dua belas kali per tahun dalam beberapa tahun terakhir.
Setiap gelombang panas dapat berlangsung hingga empat minggu, dan para ahli menilai kondisi ini akan memberikan tekanan besar terhadap sistem kesehatan, pasokan energi, infrastruktur air, serta produktivitas ekonomi, khususnya bagi kelompok rentan seperti pekerja luar ruangan dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Di Bangkok, masalah ini semakin diperburuk oleh efek pulau panas perkotaan akibat dominasi beton dan aspal yang menyerap panas di siang hari dan melepaskannya kembali pada malam hari. Data dari ADPC menunjukkan bahwa kawasan inti Bangkok memiliki suhu hingga 3 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah pinggiran kota.
Distrik Samphanthawong, Pom Prap Sattru Phai, dan Bang Rak menjadi wilayah yang paling terdampak akibat kepadatan bangunan dan minimnya ruang hijau, yang membuat mereka lebih rentan terhadap dampak gelombang panas ekstrem.
Kerugian Ekonomi
Di Bangkok, sekitar 1,3 juta pekerja luar ruangan mengalami penurunan produktivitas akibat panas ekstrem. Tanpa adanya langkah-langkah adaptasi, kerugian ekonomi yang disebabkan oleh panas dan kelembapan diperkirakan akan mencapai USD 15,6 miliar, setara dengan sekitar Rp252 triliun per tahun pada tahun 2050.
Pemerintah kota menyadari pentingnya penambahan ruang hijau sebagai solusi jangka panjang untuk menurunkan suhu di kawasan perkotaan.
"Dalam jangka panjang, kami perlu meningkatkan ruang hijau secara signifikan dan melindungi area hijau yang ada agar tidak tergantikan pembangunan beton," ujar penasihat keberlanjutan BMA, Pornphrom Vikitsreth.
Selain itu, meningkatnya penggunaan pendingin udara juga menimbulkan kekhawatiran baru. Data dari pemerintah Thailand menunjukkan bahwa lebih dari separuh rumah tangga di Bangkok kini menggunakan AC, sedangkan studi global dari perusahaan Jepang Daikin mencatat bahwa warga Bangkok menggunakan pendingin udara rata-rata selama 10,4 bulan per tahun.
Asosiasi Energi ASEAN (ACE) menyatakan bahwa kebutuhan pendinginan saat ini menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan konsumsi energi tercepat di kawasan ASEAN. Hal ini berpotensi meningkatkan emisi karbon dan memperburuk pemanasan global.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.