Analisis Peta Kekuatan China, 4 Kelemahan Ini Bisa Bawa Garuda Menang
Timnas Indonesia wajib manfaatkan kelemahan China jika ingin memaksimalkan poin penuh di laga kandang.
Timnas Indonesia akan menjamu China pada lanjutan Ronde 3 Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta pada Kamis (2/6) pukul 20.45.
Pertandingan tersebut akan sangat menentukan bagi kedua tim demi mengamankan satu tiket ke ronde 4. Terlebih kedua tim hanya memiliki jarak 3 poin.
Meski di atas kertas Timnas Indonesia diunggulkan atas China, namun skuad Garuda harus mewaspadai kejutan dari Tim Naga.
Setidaknya ada beberapa kelemahan China yang bisa dimanfaatkan Timnas Indonesia untuk mencuri gol dan mengamankan poin penuh di kandang.
Berdasarkan analisis peta kekuatan China dari 8 pertandingan terakhir, ada empat poin yang menjadi catatan penting tentang kelemahan Tim Naga. Apa saja? Simak ulasan berikut ini.
1. Penguasaan Bola Lemah
Timnas China menjadi tim dengan penguasaan bola terlemah dari enam tim yang berada di grup C. Dari 8 pertandingan yang telah dijalani, Tim Naga tak pernah meraih penguasaan bola lebih dari 50%.
Catatan penguasaan bola terbaik mereka terjadi di laga menghadapi Australia pada 25 Maret 2025 lalu dengan raihan 49% penguasaan berbanding 51% milik Australia.
Adapun penguasaan bola yang rendah dipengaruhi dari gaya bermain mereka yang cenderung direct ball dari pertahanan ke pertahanan dan kebanyakan tidak efektif.
Selain itu, China juga tidak memiliki gelandang kreatif yang mampu mengontrol ritme permainan sehingga lebih sering bermain bertahan daripada menguasai pertandingan.
Timnas Indonesia yang dikenal akan possesion ballnya tentu di atas kertas akan menguasai jalannya laga. Keberadaan Thom Haye dan Joey Pellupesy tentu akan sangat dibutuhkan untuk memaksa lini tengah China mati langkah.
2. Potensi Memasang Pertahanan Tinggi
Meski lemah dalam penguasaan bola, keadaan akan memaksa China berpotensi memainkan pertahanan tinggi dan mengandalkan pressing ke pertahanana Indonesia demi mengejar gol lebih dulu.
Berkaca dari pertandingan melawan Bahrain dan Australia, China sangat merepotkan dalam menekan pertahanan dengan memasang pertahanan tinggi dan skema empat gelandang mereka.
Meski begitu, China tidak cukup efektif dalam melakukan transisi menyerang ke bertahan. Bahkan mereka tak jarang kebobolan dari skema serangan balik akibat lemahnya sisi sayap mereka dalam menutup ruang.
Indonesia bisa memanfaatkan kekosongan ruang akibat pertahanan yang tinggi dengan mengandalkan direct pass dari Thom Haye maupun Calvin Verdonk yang sejauh ini memiliki akurasi passing yang cukup tinggi.
Lini depan Indonesia yang diprediksi akan dihuni Ole Romeny, Yakob Sayuri, dan Stefano Lilipaly juga dikenal memiliki kecepatan yang akan sangat merepotkan jika China memaksa memainkan strategi High Defensive Line.
3. Sering Kalah Duel Bola Atas
Pelatih Branko Ivankovic biasanya memasang duet Zhu Chenjie dan Jiang Guangtai di posisi bek tengah. Bukan tanpa alasan, kedua pemain tersebut memiliki postur yang baik terutama untuk mengantisipasi bola atas.
Meski begitu, para pemain lainnya diketahui tidak memiliki kemampuan duel bola atas yang cukup mumpuni terutama menghadapi pemain yang merumput di kompetisi Eropa.
Berkaca dari pertemuan pertama menghadapi Indonesia, pemain China selalu kalah melakukan duel satu lawan satu. Mereka biasanya akan memasang dua pemain untuk melakukan duel melawan satu pemain lawan.
Timnas Indonesia beruntung diperkuat para pemain berpostur ideal dan memiliki kemampuan duel bola atas yang sangat baik seperti Ole Romeny, Jay Idzes, Calvin Verdonk, dan Rizki Ridho. Bukan tak mungkin, kelemahan tersebut bisa dimanfaatkan lewat skema bola mati maupun umpan silang.
4. Efektivitas Permainan
Timnas China tidak memiliki pemain tengah yang cukup efektif dalam mengalirkan bola antar lini. China selalu mengandalkan peran Wang Shangyuan selaku gelandang jangkar untuk menyeimbangkan lini tengah dan pertahanan.
Tak jarang juga mereka melakukan bola langsung dari kiper ke lini depan dengan mengandalkan kecepatan Wei Shihao, Zhang Yuning dan Lin Liangming.
Satu-satunya efektivitas Timnas China adalah memanfaatkan ruang kosong pertahanan lawan dan cukup cerdik dalam mengeksekusi peluang.
Berkaca dari dua gol di pertemuan pertama, Timnas Indonesia harus mewaspadai hal tersebut terulang kembali. Kehadiran Joey Pellupesy sebagai gelandang jangkar juga akan sangat dibutuhkan untuk memutus arus serangan pemain China.