13 Tanda Gula Darah Tinggi pada Kulit yang Perlu Diwaspadai
Berikut tanda gula darah tinggi pada kulit yang perlu diwaspadai.
Diabetes adalah kondisi kronis yang terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi insulin secara cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Insulin adalah hormon yang berperan penting dalam mengatur kadar gula darah.
Ketika kadar gula darah tidak terkontrol dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ tubuh. Termasuk kulit. Kulit merupakan organ terbesar tubuh yang sangat rentan terhadap efek negatif dari kadar gula darah tinggi.
Oleh karena itu, penting bagi penderita diabetes untuk memperhatikan kondisi kulitnya dan mengenali tanda-tanda gula darah tinggi yang mungkin muncul pada kulit.
Apa saja tanda gula darah tinggi pada kulit yang perlu diwaspadai? Melansir dari berbagai sumber, Kamis (13/3), simak ulasan informasinya berikut ini.
13 Tanda Gula Darah Tinggi pada Kulit
1. Kulit Kering dan Gatal
Salah satu tanda awal gula darah tinggi yang sering muncul pada kulit adalah kondisi kulit yang kering dan gatal. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi dan mengganggu fungsi kelenjar keringat, sehingga kulit menjadi kering. Kulit kering ini seringkali disertai rasa gatal yang mengganggu. Area yang sering terkena adalah tungkai bawah, lengan, dan punggung.
Untuk mengatasi masalah ini, penderita diabetes perlu menjaga kelembaban kulit dengan rutin menggunakan pelembab. Pilih pelembab yang bebas pewangi dan alkohol untuk menghindari iritasi. Selain itu, hindari mandi dengan air panas dan gunakan sabun lembut yang tidak mengeringkan kulit.
2. Infeksi Jamur
Penderita diabetes lebih rentan mengalami infeksi jamur pada kulit. Hal ini disebabkan oleh kadar gula darah tinggi yang menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan jamur. Infeksi jamur pada penderita diabetes sering terjadi di area lipatan kulit seperti ketiak, selangkangan, dan sela-sela jari kaki.
Gejala infeksi jamur meliputi ruam kemerahan, gatal, dan kadang disertai lepuhan kecil atau sisik. Penanganan infeksi jamur pada penderita diabetes memerlukan perhatian khusus dan seringkali membutuhkan pengobatan antijamur yang lebih intensif dibandingkan orang tanpa diabetes.
3. Acanthosis Nigricans
Acanthosis nigricans adalah kondisi penebalan dan penggelapan kulit yang umumnya muncul di area lipatan tubuh seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Kondisi ini sering dikaitkan dengan resistensi insulin dan dapat menjadi tanda awal diabetes tipe 2. Kulit yang terkena acanthosis nigricans terlihat lebih gelap, tebal, dan kadang terasa seperti beludru saat disentuh.
Meskipun tidak berbahaya, acanthosis nigricans dapat menjadi pertanda penting adanya gangguan metabolisme glukosa. Penanganan utama adalah dengan mengontrol kadar gula darah dan menurunkan berat badan jika berlebih.
4. Dermopathy Diabetik
Dermopathy diabetik atau yang sering disebut “shin spots” adalah kondisi munculnya bercak coklat kemerahan pada kulit, terutama di area tulang kering. Bercak ini biasanya berbentuk bulat atau oval dengan diameter 0,5-1 cm. Meskipun tidak menimbulkan gejala, dermopathy diabetik dapat menjadi penanda adanya komplikasi mikrovaskuler akibat diabetes.
Bercak dermopathy diabetik umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus dan akan memudar seiring waktu jika kadar gula darah terkontrol dengan baik. Namun, munculnya kondisi ini sebaiknya menjadi pengingat untuk lebih serius dalam mengelola diabetes.
5. Necrobiosis Lipoidica Diabeticorum (NLD)
Necrobiosis lipoidica diabeticorum adalah kondisi langka yang ditandai dengan munculnya bercak merah kecoklatan pada kulit yang kemudian berubah menjadi area kulit yang menipis dan berkilau. NLD paling sering muncul di bagian depan tungkai bawah. Meskipun jarang, kondisi ini dapat menyebabkan ulserasi dan infeksi jika tidak ditangani dengan baik.
Penanganan NLD melibatkan kontrol gula darah yang ketat dan perawatan kulit yang intensif. Dalam kasus yang parah, mungkin diperlukan terapi topikal atau sistemik untuk mengurangi peradangan dan mencegah komplikasi.
6. Bullosis Diabeticorum
Bullosis diabeticorum adalah kondisi di mana muncul lepuhan berisi cairan jernih pada kulit penderita diabetes. Lepuhan ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit dan sering muncul secara tiba-tiba pada tangan, kaki, atau lengan bawah. Meskipun jarang terjadi, bullosis diabeticorum dapat menjadi tanda bahwa kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik.
Lepuhan biasanya sembuh sendiri dalam beberapa minggu tanpa meninggalkan bekas. Namun, penting untuk melindungi area yang terkena dari gesekan atau tekanan untuk mencegah pecahnya lepuhan dan risiko infeksi.
7. Xanthelasma
Xanthelasma adalah deposit lemak berwarna kuning yang muncul di sekitar area mata, terutama pada kelopak mata. Meskipun tidak selalu terkait dengan diabetes, xanthelasma sering dikaitkan dengan gangguan metabolisme lipid yang juga umum terjadi pada penderita diabetes. Munculnya xanthelasma dapat menjadi pertanda adanya risiko penyakit kardiovaskular.
Penanganan xanthelasma melibatkan kontrol kadar lipid darah melalui diet dan pengobatan. Dalam beberapa kasus, prosedur kosmetik mungkin diperlukan untuk menghilangkan deposit lemak ini.
8. Ruam Merah Berbentuk Cincin (Granuloma Annulare)
Granuloma annulare adalah kondisi kulit yang ditandai dengan munculnya ruam merah berbentuk cincin, terutama pada tangan atau kaki. Meskipun dapat terjadi pada siapa saja, kondisi ini lebih sering ditemui pada penderita diabetes. Ruam biasanya tidak menimbulkan gejala selain perubahan warna kulit.
Sebagian besar kasus granuloma annulare tidak memerlukan pengobatan khusus dan akan sembuh sendiri. Namun, jika ruam meluas atau mengganggu, pengobatan topikal atau sistemik mungkin diperlukan.
9. Vitiligo
Vitiligo adalah kondisi hilangnya pigmen kulit yang menyebabkan munculnya bercak putih pada kulit. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, vitiligo lebih sering terjadi pada penderita diabetes, terutama diabetes tipe 1. Bercak putih dapat muncul di mana saja pada tubuh, termasuk wajah, tangan, dan area lipatan tubuh.
Penanganan vitiligo dapat melibatkan penggunaan krim topikal, fototerapi, atau dalam kasus yang parah, transplantasi kulit. Penting juga untuk melindungi area yang terkena dari paparan sinar matahari berlebihan.
10. Scleredema Adultorum
Scleredema adultorum adalah kondisi penebalan dan pengerasan kulit, terutama di area punggung atas, leher, dan bahu. Kondisi ini lebih sering terjadi pada penderita diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol dengan baik. Kulit yang terkena scleredema terasa kaku dan sulit digerakkan.
Penanganan utama scleredema adultorum adalah dengan mengontrol kadar gula darah. Dalam beberapa kasus, terapi fisik mungkin diperlukan untuk mempertahankan fleksibilitas kulit.
11. Eruptive Xanthomatosis
Eruptive xanthomatosis adalah kondisi di mana muncul benjolan kecil berwarna kuning kemerahan pada kulit, terutama di punggung, bokong, dan tungkai. Kondisi ini terkait dengan kadar trigliserida yang sangat tinggi, yang sering terjadi pada diabetes yang tidak terkontrol. Benjolan biasanya terasa gatal dan dapat dikelilingi oleh area kemerahan.
Penanganan eruptive xanthomatosis melibatkan kontrol kadar gula darah dan penurunan kadar trigliserida melalui diet dan pengobatan. Benjolan biasanya akan menghilang setelah kadar lipid darah kembali normal.
12. Luka yang Sulit Sembuh
Salah satu tanda gula darah tinggi yang paling umum dan berbahaya adalah luka yang sulit sembuh. Kadar gula darah tinggi dapat merusak pembuluh darah dan saraf, menghambat aliran darah dan oksigen ke area luka. Akibatnya, proses penyembuhan luka menjadi lebih lambat dan risiko infeksi meningkat.
Penting bagi penderita diabetes untuk memeriksa kulit secara rutin, terutama di area kaki, dan segera menangani luka sekecil apapun. Perawatan luka yang tepat dan kontrol gula darah yang baik sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti ulkus diabetik.
13. Perubahan Warna dan Tekstur Kuku
Diabetes dapat mempengaruhi kesehatan kuku, menyebabkan perubahan warna, tekstur, atau bentuk kuku. Kuku dapat menjadi lebih tebal, rapuh, atau berubah warna menjadi kekuningan. Selain itu, penderita diabetes juga lebih rentan terhadap infeksi jamur kuku.
Perawatan kuku yang baik, termasuk menjaga kebersihan dan kelembaban, serta pemeriksaan rutin oleh dokter atau podiatris, penting untuk mencegah komplikasi pada kuku penderita diabetes.