Tak Terima Dosen Pakai ChatGPT, Mahasiswa Tuntut Uang Kuliah Dikembalikan
Mahasiswa ini tak terima saat dosennya diketahui menggunakan AI untuk membuat materi pelajaran.
Seorang mahasiswi di Amerika Serikat menuntut pengembalian uang kuliah senilai lebih dari USD 8.000 atau Rp 131 juta. Tuntutannya ini setelah mengetahui bahwa dosennya menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT untuk menyusun materi perkuliahan.
Peristiwa ini terjadi di Northeastern University, Boston. Kejadian ini tentu saja memicu diskusi luas soal etika penggunaan AI dalam dunia pendidikan tinggi.
Mengutip NDTV, Selasa (20/5), mahasiswi itu bernama Ella Stapleton. Ia lulus tahun ini dari jurusan bisnis. Bermula dari kecurigaanya dengan gaya materi yang disajikan oleh dosennya, Rick Arrowood.
Ia menemukan sejumlah kejanggalan dalam catatan kuliah yang diunggah ke sistem pembelajaran daring kampus, termasuk kutipan mencurigakan bertuliskan “ChatGPT” di bibliografi, gambar yang cacat secara visual (seperti tokoh dengan tangan lebih dari dua), serta kesalahan ketik yang berulang.
Melihat hal itu, Stapleton langsung mengirim pesan kepada temannya di kelas.
“Lihat catatan yang dia unggah di Canvas? Dia buat pakai ChatGPT!” tulisnya.
Stapleton menilai tindakan dosennya sebagai kemunafikan, karena selama ini mereka justru melarang mahasiswa menggunakan AI dalam tugas akademik. Ia merasa kualitas pengajarannya tidak sebanding dengan reputasi dan biaya kuliah yang tinggi.
Sebagai bentuk protes, Stapleton mengajukan permintaan refund ke sekolah bisnis Northeastern, dengan mengutip penggunaan AI dan metode pengajaran dosen yang dianggap tidak memadai sebagai alasan utama.
Tuntutan Ditolak, Dosen Akui Gunakan AI
Namun, setelah melalui serangkaian pertemuan dan klarifikasi, pihak universitas menolak tuntutan refund tersebut.
Profesor Rick Arrowood mengakui bahwa ia menggunakan sejumlah alat AI untuk menyusun materi kuliah, termasuk: ChatGPT untuk teks utama, Perplexity AI sebagai mesin pencari, dan Gamma, platform AI untuk pembuatan presentasi.
“Kalau dipikir-pikir, saya seharusnya meninjau ulang materinya lebih teliti. Tapi kalau pengalaman saya ini bisa jadi pelajaran buat orang lain, ya itu juga baik buat saya,” kata Arrowood kepada The New York Times.
Menurut kebijakan resmi Northeastern University, baik dosen maupun mahasiswa boleh menggunakan AI, asalkan memberikan atribusi yang layak atas konten yang dihasilkan.
Ketentuan itu berlaku untuk segala bentuk publikasi ilmiah atau materi yang diserahkan kepada lembaga resmi. Arrowood sendiri mengaku kurang teliti dalam mencantumkan sumber AI-nya secara eksplisit di materi yang dibagikan ke mahasiswa.