Studi Baru Tunjukan Sebenarnya Bumi hanya Memiliki Enam Benua, Bukan Tujuh
Temuan ini muncul dari analisis mendalam terhadap pergerakan lempeng tektonik Amerika Utara dan Eurasia serta evolusi daratan tersebut dari masa ke masa.
Ketika sekolah, kerap diberitahukan bahwa Bumi memiliki tujuh benua. Tetapi, kini peneliti memberikan pemahaman bahwa nyatanya Bumi hanya memiliki enam benua. Sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Gondwana Research menyatakan bahwa secara geologi, Bumi sebenarnya hanya memiliki enam benua.
Mengutip dari Indy100, Jumat (29/11), temuan ini muncul dari analisis mendalam terhadap pergerakan lempeng tektonik Amerika Utara dan Eurasia serta evolusi daratan tersebut dari masa ke masa.
Dr. Jordan Phethean dari Universitas Derby, penulis utama studi ini, menjelaskan kepada Earth.com bahwa “lempeng tektonik Amerika Utara dan Eurasia belum benar-benar terpisah, seperti yang selama ini diperkirakan terjadi 52 juta tahun lalu.”
Sebaliknya, menurutnya, kedua lempeng ini masih dalam proses perpecahan, sehingga secara teknis masih bisa dianggap sebagai satu benua.Penelitian ini berfokus pada Islandia, sebuah pulau vulkanik yang sebelumnya diyakini terbentuk sekitar 60 juta tahun lalu akibat punggungan Atlantik Tengah.
Namun, analisis tim Phethean menemukan bahwa Islandia dan kawasan sekitarnya, termasuk Greenland Iceland Faroes Ridge (GIFR), mengandung fragmen geologi dari lempeng tektonik Amerika Utara dan Eropa. Temuan ini menantang teori sebelumnya yang menganggap kawasan tersebut sebagai daratan terisolasi.
Para peneliti memperkenalkan istilah baru, “Rifted Oceanic Magmatic Plateau” (ROMP), untuk menggambarkan formasi geologi yang mereka temukan. Phethean menyebut penemuan ini sebagai setara dengan menemukan "Kota Atlantis yang Hilang" dalam dunia ilmu Bumi. Ia menyatakan bahwa mereka telah menemukan “pecahan benua yang hilang yang terendam di bawah laut dan lapisan lava tipis sepanjang beberapa kilometer.”
Penelitian ini juga menemukan kesamaan signifikan antara Islandia dan wilayah vulkanik Afar di Afrika. Jika teori mereka terbukti, maka Eropa dan Amerika Utara sebenarnya masih dalam proses perpecahan dan tetap terhubung secara geologis.
Phethean mengakui bahwa klaim ini sangat kontroversial. “Sangat kontroversial untuk menyatakan bahwa GIFR mengandung sejumlah besar kerak benua di dalamnya dan bahwa lempeng tektonik Eropa dan Amerika Utara mungkin belum terpecah secara resmi,” jelasnya. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa hipotesis tersebut didasarkan pada penelitian yang cermat dan mendalam.
Penelitian ini masih berada dalam tahap konseptual, dan timnya merencanakan pengujian lebih lanjut terhadap batuan vulkanik Islandia untuk mencari bukti tambahan. Mereka juga menggunakan simulasi komputer dan pemodelan lempeng tektonik untuk memahami lebih jauh tentang pembentukan ROMP.
Penemuan ini melanjutkan penelitian Phethean sebelumnya tentang proto-mikrobenua yang terletak di antara Kanada dan Greenland. Daratan purba ini, yang berukuran sebanding dengan Inggris, ditemukan di bawah Selat Davis di dekat Pulau Baffin. Menurut Phethean, "retakan dan pembentukan benua mikro adalah fenomena yang terus berlangsung" dan memberikan wawasan baru tentang perilaku benua dan lempeng tektonik.
Reporter magang: Nadya Nur Aulia