Seberapa Tinggi Manusia Bisa Jatuh dan Tetap Bertahan Hidup?
Apa saja efek yang dialami tubuh seseorang yang berhasil selamat setelah jatuh dari ketinggian?
Bayangkan Anda sedang duduk di dalam pesawat. Rasa bosan melanda, dan mulai melamun sambil memandangi awan di luar jendela.
Tiba-tiba, muncul pikiran konyol: bagaimana jika pintu darurat dibuka dan kamu terjun bebas? Apakah kamu pasti akan mati? Atau mungkin kamu akan terbangun dengan tulang patah dan berakhir di rumah sakit jiwa dengan pengalaman paling gila dalam hidupmu?
Kita sebaiknya menyingkirkan contoh ekstrem seperti Felix Baumgartner, yang melakukan lompatan dari ketinggian 39 kilometer dengan menggunakan pakaian khusus dan parasut.
Kita juga harus melupakan "wreckage riders", yaitu orang-orang yang jatuh bersama serpihan pesawat yang justru memperlambat kecepatan jatuh mereka.
Salah satu contohnya adalah pramugari Serbia, Vesna Vulovi, yang selamat setelah terjatuh dari ketinggian 10 ribu meter pada tahun 1972 karena terjebak di dalam badan pesawat.
Menghadapi tantangan hidup
Bayangkan sebuah skenario yang sangat sederhana: kamu berada dalam situasi tanpa alat pelindung dan terjun bebas. Pertanyaan yang muncul adalah, seberapa tinggi manusia dapat jatuh dan tetap selamat?
Ada beberapa kasus nyata yang menunjukkan hal ini. Salah satunya adalah kisah seorang pilot Perang Dunia II bernama Alan Magee, yang jatuh dari ketinggian 20 ribu kaki (sekitar 6 kilometer) tanpa menggunakan parasut.
Ia mendarat di atap kaca sebuah stasiun kereta, dan secara mengejutkan, hal itu justru membantu menyebarkan dampak dari jatuhnya, seperti yang dilansir dari Mental Floss pada Sabtu (6/9).
Menurut James Kakalios, seorang profesor fisika di University of Minnesota, faktor yang paling penting dalam menentukan keselamatan saat jatuh adalah cara dan tempat mendarat.
Ia menjelaskan, "Kalau waktu mendarat bisa dibuat lebih lama, gaya yang dibutuhkan untuk menghentikanmu jadi lebih kecil. Bayangkan memukul tembok dan kasur. Tembok keras, interaksinya singkat, gaya yang tercipta besar. Mereka yang selamat biasanya bisa memperpanjang waktu benturan meski hanya milidetik,"
Permukaan seperti kaca, salju, atau pohon yang dapat menyerap benturan terbukti meningkatkan kemungkinan untuk bertahan hidup dibandingkan jatuh di atas beton.
Selain itu, memperlambat kecepatan jatuh dengan memperbesar luas tubuh juga menjadi faktor penting.
Posisi tubuh yang disebut "flying squirrel", di mana tubuh terbuka lebar, lebih aman dibandingkan jatuh dengan kepala atau kaki terlebih dahulu.
"Menambah drag adalah faktor terbesar agar tetap hidup," kata Kakalios.
Dalam situasi tanpa parasut, cara terbaik untuk mendarat adalah dengan jatuh telentang atau berguling, yang dapat membantu mengurangi dampak dari jatuh tersebut.
Hitung-hitungan secara teori
Secara teori, manusia mampu bertahan dari jatuh dari ketinggian sekitar 20 ribu kaki, seperti yang dijelaskan oleh Magee.
Namun, bagaimana jika jatuh dari ketinggian yang lebih ekstrem?
Paul Doherty, seorang mantan fisikawan dan direktur Exploratorium di San Francisco, mengungkapkan bahwa semakin tinggi seseorang jatuh, semakin tipis udara yang ada dan risiko yang dihadapi pun semakin meningkat.
"Kamu bisa berputar terlalu cepat sampai darah mengalir ke kepala dan membunuhmu. Atau gesekan dengan atmosfer bisa membakar tubuhmu. Itu sebabnya pesawat ulang-alik punya pelindung panas," ujarnya pada tahun 2015.
Walaupun demikian, kecepatan jatuh manusia memiliki batas. Ketika mencapai terminal velocity yang berkisar sekitar 193 km/jam, tambahan ketinggian tidak akan membuat seseorang jatuh lebih cepat.
Namun, ada masalah lain yang perlu diperhatikan: tekanan udara yang rendah pada ketinggian dapat menyebabkan darah mendidih.
Fenomena ini diperkirakan mulai terjadi sekitar 63 ribu kaki atau sekitar 19 kilometer. Oleh karena itu, NASA mewajibkan para astronot untuk mengenakan pakaian bertekanan sejak ketinggian 50 ribu kaki.
Apakah seseorang masih memiliki peluang untuk selamat jika jatuh dari ketinggian di bawah 63 ribu kaki?
"Katakanlah 60 ribu kaki. Bisa sampai 100 ribu kalau kamu pingsan lalu sadar kembali, darahmu tidak mendidih, dan kamu mendarat di sesuatu yang bisa menyerap benturan," jelas Doherty.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada banyak faktor yang mempengaruhi keselamatan saat jatuh dari ketinggian, ada kemungkinan untuk bertahan hidup jika kondisi tertentu terpenuhi.