Pernah Dinyatakan Punah, Ular Terkecil di Dunia Mendadak Muncul Lagi
Ular terkecil di dunia, yaitu Barbados threadsnake telah ditemukan kembali setelah dua dekade menghilang.
Seekor ular kecil yang ukurannya tidak lebih besar dari cacing tanah telah ditemukan kembali di Barbados, hampir dua dekade setelah dinyatakan "hilang".
Ular benang Barbados (Tetracheilostoma carlae), yang merupakan spesies ular terkecil di dunia, ditemukan bersembunyi di bawah batu di bagian tengah pulau tersebut pada bulan Maret lalu.
Penemuan yang sangat langka ini terjadi saat Kementerian Lingkungan Hidup Barbados bekerja sama dengan kelompok konservasi Re:wild untuk melakukan survei ekologi, seperti yang dikutip dari laman Sciencealert pada Rabu (6/8).
"Ular benang Barbados adalah jenis ular buta, sehingga sangat sulit terlihat," kata Connor Blades, petugas proyek di Kementerian Lingkungan Hidup Barbados yang turut berkontribusi dalam penemuan ini.
"Mereka juga tergolong sangat langka. Sejak tahun 1889, hanya ada sedikit laporan penampakan yang benar-benar terverifikasi. Sayangnya, sangat sedikit orang yang pernah melihat ular ini secara langsung," jelasnya.
Dengan panjang tubuh dewasa hanya sekitar 8 hingga 10 sentimeter, ular ini cukup kecil untuk muat di atas koin seperempat dolar AS, menjadikannya sebagai spesies ular terkecil di dunia.
Ciri khas dari ular ini adalah garis-garis oranye di punggungnya, mata kecil di sisi kepala, serta sisik mungil di bagian moncongnya.
"Ketika Anda sudah terbiasa mencari sesuatu yang nyaris mustahil ditemukan, rasanya sungguh luar biasa saat akhirnya benar-benar menemukannya," ungkap Justin Springer dari Re:wild, yang bersama Blades menemukan ular tersebut.
"Anda nyaris tak percaya. Saya sendiri sempat ragu untuk terlalu berharap," tambah dia.
Penemuan ini adalah hasil dari pencarian yang panjang dan melelahkan yang berlangsung lebih dari setahun. Akhirnya, saat mereka membalik batu yang terjerat akar pohon, ular kecil tersebut muncul bersama seekor cacing tanah.
Kembalikan ke habitat aslinya
Karena kesamaannya dengan ular buta Brahminy yang merupakan spesies invasif dan berukuran kecil, ular ini segera dibawa ke Universitas Hindia Barat untuk dianalisis menggunakan mikroskop.
Setelah identifikasi memastikan bahwa ular tersebut adalah Tetracheilostoma carlae, ular ini kemudian dikembalikan ke habitat aslinya di hutan.
Saat ini, hanya tersisa sekitar dua persen dari hutan primer di Barbados. Sebagian besar area hutan telah hilang akibat pembukaan lahan untuk pertanian yang dimulai sejak era kolonial empat abad yang lalu.
Hal ini menyebabkan ular benang Barbados menjadi sangat rentan terhadap kepunahan, terutama karena spesies ini berkembang biak secara seksual dan betina hanya dapat menghasilkan satu telur setiap kali bertelur.
Berbeda dengan ular buta Brahminy betina yang memiliki kemampuan untuk bereproduksi tanpa perlu kawin (partenogenesis).
"Penemuan kembali ular benang ini adalah peringatan bagi kita semua, warga Barbados, bahwa hutan kita sangat berharga dan harus dilindungi," kata Springer.
"Bukan hanya untuk ular benang, tetapi juga untuk semua flora, fauna, dan warisan alam yang kita miliki," tambahnya, menegaskan pentingnya menjaga ekosistem hutan yang tersisa.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2991056/original/031644700_1575887139-Infografis_ULAR_KOBRA_MENEROR_BEBERAPA_DAERAH.jpg)