Band ini Dicurigai Hasil Karya AI, Baru 2 Minggu Raup 500 Ribu Pendengar
Kecurigaan muncul dari beberapa materi album dan lagunya.
Sebuah proyek musik berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama The Velvet Sundown memicu kontroversi usai mendadak meroket di Spotify.
Dalam waktu hanya dua minggu, band ini berhasil meraih lebih dari 500 ribu pendengar bulanan. Mereka bahkan telah merilis dua album penuh dan mengumumkan perilisan album ketiga dalam waktu dekat.
Mengutip OddityCentral, Selasa (8/7), kesuksesan kilat ini langsung menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pendengar dan pelaku industri.
Foto-foto personel di akun Instagram mereka diduga kuat hasil generasi AI, sementara nama-nama anggota band — Gabe Farrow, Lennie West, Milo Rains, dan Orion "Rio" Del Mar — tidak memiliki jejak yang jelas di dunia musik sebelum proyek ini muncul.
Platform Deezer bahkan mencantumkan peringatan bahwa beberapa lagu di album The Velvet Sundown dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan. Akhirnya, pihak di balik proyek ini mengonfirmasi bahwa The Velvet Sundown memang merupakan proyek musik yang sepenuhnya berbasis AI.
Tapi Karya Original
Dalam pernyataan resminya, pengelola proyek menegaskan bahwa The Velvet Sundown adalah karya orisinal yang dihasilkan melalui alat AI, tetapi diarahkan oleh manusia:"Ini bukan tipuan — ini adalah cermin.
Sebuah provokasi artistik yang dirancang untuk menantang batas kepengarangan, identitas, dan masa depan musik itu sendiri di era AI.
"Mereka mengklaim semua lirik, komposisi, suara, dan visual diproduksi dengan bantuan AI seperti instrumen kreatif lain.
Lagu mereka “Dust on the Wind” telah diputar lebih dari 500 ribu kali di Spotify dan masuk ke sejumlah playlist populer. Dalam waktu singkat, The Velvet Sundown berubah menjadi fenomena viral — memicu diskusi sengit tentang apa arti “authorship” atau kepengarangan di dunia musik modern.
Di satu sisi, proyek seperti ini menunjukkan bagaimana AI mampu memproduksi musik dalam kecepatan dan skala yang tak terbayangkan sebelumnya. Merilis dua hingga tiga album dalam dua minggu, sesuatu yang hampir mustahil bagi musisi konvensional, kini bisa dicapai berkat AI.
Namun di sisi lain, kemunculan band AI ini juga menimbulkan kecemasan. Musisi manusia khawatir dengan masa depan industri ketika karya yang dihasilkan mesin mulai bersaing memperebutkan pendengar di platform streaming.