Astronom Berhasil Temukan Supernova Terbesar dan Terjauh yang Pernah Terdeteksi
Pengamatan ilmuwan dilakukan dengan menggunakan teleskop James Webb.
Teleskop luar angkasa James Webb (JWST) telah berhasil mendeteksi ledakan bintang supernova yang paling awal dan terjauh yang pernah ada.
Ledakan dari bintang raksasa ini terjadi sekitar 11,4 miliar tahun yang lalu, menandakan akhir kehidupan bintang dengan massa 20 kali lipat dari matahari.
Menurut informasi yang dikutip LiveScience pada Jumat (31/1), supernova yang dinamakan AT 2023adsv ini terjadi di sebuah galaksi besar pada fase awal alam semesta, tepatnya sekitar 2 miliar tahun setelah peristiwa Big Bang.
Penemuan ini menunjukkan bahwa kekuatan ledakan bintang pada masa lalu kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan supernova yang kita amati saat ini.
Bintang-bintang yang terbentuk pada awal alam semesta memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan bintang-bintang yang ada sekarang.
Bintang-bintang kuno cenderung memiliki massa yang lebih besar, suhu yang lebih tinggi, dan daya ledak yang lebih besar.
Teleskop luar angkasa James Webb telah memberikan kontribusi signifikan bagi para ilmuwan dalam memahami bagaimana bintang-bintang awal berevolusi dan mengalami kematian, serta bagaimana supernova di masa lalu berpengaruh terhadap pembentukan galaksi.
Supernova AT 2023adsv menarik perhatian para peneliti karena terjadi dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Cahaya dari ledakan ini telah menempuh perjalanan selama 11,4 miliar tahun sebelum akhirnya sampai ke bumi.
Keunikan lainnya dari supernova ini adalah ukuran bintang yang meledak. Diperkirakan, bintang tersebut memiliki massa sekitar 20 kali lipat dari matahari. Bintang dengan massa besar tergolong langka, karena bintang sebesar ini jarang ditemukan di alam semesta modern.
Selain itu, AT 2023adsv melepaskan energi sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan supernova yang lebih dekat dengan kita. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai apakah sifat ledakan bintang di alam semesta awal memang berbeda dari yang kita amati sekarang.
Supernova AT 2023adsv bisa memberikan indikasi bahwa karakteristik supernova mungkin bervariasi di alam semesta awal, dan para ilmuwan berencana melakukan pengamatan lebih lanjut untuk mengonfirmasi teori ini.
Penemuan supernova AT 2023adsv membuka peluang baru dalam penelitian mengenai ledakan bintang di masa lalu. Hingga saat ini, tim JADES telah berhasil menemukan lebih dari 80 supernova kuno dengan bantuan JWST.
Dalam beberapa tahun ke depan, penelitian tentang supernova di alam semesta awal diperkirakan akan semakin maju dengan hadirnya teleskop luar angkasa baru. Pada tahun 2026, NASA berencana untuk meluncurkan teleskop luar angkasa Nancy Grace Roman, yang diharapkan dapat mendeteksi ribuan supernova awal yang kemudian dapat dipelajari lebih lanjut oleh JWST.
Siklus Kehidupan Bintang Alam Semesta
Pada fase awal pembentukan alam semesta, mayoritas materi yang ada terdiri dari hidrogen dan helium, sementara unsur-unsur yang lebih berat hanya sedikit jumlahnya dan oleh para astronom disebut sebagai "logam."
Bintang-bintang generasi pertama yang dikenal sebagai bintang Populasi III terbentuk dari awan gas primordial ini. Ketika bintang-bintang besar tersebut menghabiskan bahan bakarnya, inti bintang mengalami keruntuhan yang mengakibatkan terbentuknya lubang hitam atau bintang neutron.
Sementara itu, lapisan luar bintang yang runtuh akan terlontar ke luar dalam ledakan supernova. Material yang dihasilkan dari ledakan ini kemudian memperkaya awan gas di galaksi, yang memungkinkan terbentuknya bintang-bintang generasi berikutnya dengan kandungan logam yang lebih tinggi.
Matahari kita termasuk dalam kategori bintang Populasi I, yang merupakan generasi ketiga dalam siklus pembentukan bintang ini.
Namun, supernova yang terjadi di masa awal alam semesta kemungkinan jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan yang terjadi di era modern.
Bintang-bintang yang memiliki kandungan unsur berat yang rendah cenderung memiliki umur yang lebih singkat dan meledak dengan energi yang lebih besar.