Asal Usul Kucing Berwarna Oranye Akhirnya Terungkap
Dua tim peneliti independen menemukan bahwa warna oranye pada kucing disebabkan oleh hilangnya segmen DNA.
Setelah lebih dari enam dekade menjadi misteri, ilmuwan akhirnya menemukan penyebab genetik warna bulu oranye pada kucing domestik.
Dua tim peneliti independen menemukan bahwa warna oranye pada kucing disebabkan oleh hilangnya segmen DNA sepanjang 5 kilobase pada bagian non-pengkode protein dari genom kucing.
Temuan ini memecahkan teka-teki lama dalam genetika kucing yang selama ini belum terjawab.
Penelitian yang dipimpin oleh Greg Barsh, ahli genetika dari Universitas Stanford, menunjukkan bahwa sel kulit pada kucing berbulu oranye mengekspresikan RNA dari gen Arhgap36 sebanyak 13 kali lebih tinggi dibandingkan kucing non-oranye.
Menurut Barsh, mutasi ini tidak terjadi pada bagian gen yang menyandi protein, melainkan pada bagian pengatur ekspresi gen.
“Penghapusan DNA ini tidak mengubah struktur protein, tetapi mengatur seberapa aktif gen tersebut,” jelas Barsh dikutip dari ScienceAlert, Senin (21/4).
Dari analisis terhadap 188 kucing, ditemukan bahwa penghapusan segmen DNA tersebut muncul di semua kucing oranye yang diperiksa. Hal ini juga menjelaskan mengapa sebagian besar kucing oranye adalah jantan.
Gen yang terlibat berada pada kromosom X, dan karena jantan hanya memiliki satu salinan kromosom tersebut, mutasi akan langsung tampak sebagai warna oranye.
Sebaliknya, betina memiliki dua salinan kromosom X, sehingga ekspresi warna oranye bisa bervariasi dan menghasilkan pola seperti calico atau tortoiseshell.
Barsh juga menegaskan bahwa meskipun ekspresi gen Arhgap36 berlebihan bisa menyebabkan gangguan perkembangan pada hewan lain, tidak ditemukan dampak negatif pada kucing oranye.
“Ekspresi gen ini berlebih hanya terjadi di sel pigmen yang berkembang, sehingga tidak menimbulkan masalah kesehatan atau fungsi kognitif,” tambahnya.
Penelitian ini juga mengungkap perbedaan antara kucing calico dan tortoiseshell. Pada kucing calico, mutasi tambahan menyebabkan bercak putih karena gangguan pada perkembangan dan penyebaran melanosit selama fase embrio.
Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam studi genetika hewan, karena tidak hanya menjawab teka-teki warna bulu kucing, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang bagaimana ekspresi genetik dapat membentuk ciri-ciri fisik hewan peliharaan.