Mengenal Lebih Dekat Sindoedarsono Soedjojono, Bapak Seni Rupa Modern Indonesia Asal Kisaran Sumatera Utara
Tokoh seniman kondang ini adalah orang pertama yang mengenalkan modernitas seni rupa Indonesia dalam konteks kondisi nyata bangsa Indonesia saat itu.
Tokoh seniman kondang ini adalah orang pertama yang mengenalkan modernitas seni rupa Indonesia dalam konteks kondisi nyata bangsa Indonesia saat itu.
Mengenal Lebih Dekat Sindoedarsono Soedjojono, Bapak Seni Rupa Modern Indonesia Asal Kisaran Sumatera Utara
Berbicara soal seni negara Indonesia memiliki sederet nama-nama seniman yang berprestasi dan pastinya berperan penting dalam perkembangan seni di Indonesia. Salah satu nama kondang di dunia seni itu ialah Sindoedarsono Soedjojono.Beliau ada seorang pelukis legendaris Indonesia yang dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia.
Melalui dirinya, seni di Indonesia semakin berkembang dengan memperkenalkan modernitas seni rupa dengan konteks faktual Bangsa Indonesia. (Foto: Wikipedia) Selain itu, ia juga mendrikan wadah untuk para seniman yang ingin menghadirkan seni lukis modern namun masih tetap ada identitas Indonesia di dalamnya. Setiap lukisannya, Sindoedarsono memiliki ciri khas kasar, goresan dan sapuannya dituang ke kanvas.
Ingin mengenal lebih jauh tentang Bapak Seni Rupa Modern yang satu ini? Simak rangkuman informasinya yang dihimpun merdeka.com dari berbagai sumber berikut.
Profil Singkat
Sindoedarsono Soedjojono atau disapa dengan sebutan "Djon" ini lahir dari Kisaran, Sumatera Utara pada tahun 1913. Djon lahir dari keluarga transmigran asal Sumatera Barat, sang ayah bekerja sebagai mantri dan ibunya seorang buruh perkebunan.
Kemudian ia diangkat anak oleh seorang guru bernama Joedhokoesoemo. Djon pun diajak ke Jakarta pada tahun 1925 dan mendaftar sekolah HIS lalu melanjutkan SMP di Cimahi. Ia menamatkan pendidikan sekolah guru di Taman Guru, Taman Siswa, Yogyakarta.
Sempat Menjadi Guru
Setelah tamat dari sekolah guru Taman Siswa di Yogyakarta, Djon sempat menjadi guru di sana. Ia kemudian ditugaskan oleh Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangi pada tahun 1931.
Bukan hanya menjadi tenaga pengajar saja, Djon juga sempat belajar montir kepada RM Pirngadi selama beberapa bulan. Ketika dirinya di Jakarta sudah mulai belajar melukis bersama pelukis Jepang, Chioyi Yazaki.
Debut Sebagai Pelukis
Djon akhirnya mulai yakin untuk memilih jalannya sebagai seorang pelukis. Pada tahun 1937, ia ikut pameran bersama pelukis Eropa di Bataviasche Kunstkring, Jakarta. Momen ini menjadi langkah awal Djon menjadi seorang pelukis.
Masih di tahun yang sama, ia menjadi pionir berdirinya Persatuan Ahli Gambar Indonesia atau Persagi. Dari adanya persatuan ini menjadi tonggak pertama seni lukis modern yang berciri khas ke-Indonesia-an. Jabatan Djon di Persagi ini adalah sebagai sekretaris dan juru bicara.
Di samping itu, Djon juga mendirikan Seniman Muda Indonesia atau SIM bersama Trisno Sumardjo, Abdul Salam, Sunindyo, dan Basuki Resobowo. Djon dikenal pula sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia.
Dikenal Memiliki Jiwa Nasionalis yang Tinggi
Dalam pandang berpolitiknya, Djon selalu mengecam Basoeki Abdoellah karena tidak nasionalistis, hanya melukis keindahan Indonesia hanya untuk memenuhi selera pasar turis saja. Hingga akhirnya kedua tokoh pelukis ini dianggap sebagai musuh bebuyutan.
Karya Lukisannya yang selalu ditulis dengan S.Sudjojono ini dikenal memiliki jiwa nasionalis yang tinggi. Melalui kritikannya ia pernah bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra dan turut menjadi kader dalam Partai Komunis Indonesia.Sindoedarsono Soedjojono wafat pada tanggal 25 Maret 1985 di usianya yang ke-71 tahun karena kanker paru-paru. Ia dimakamkan di TPU Pondok Rangon, Jakarta. Djon meninggalkan karya-karya hebatnya di sebuah kanvas serta keluarga yang ia cintai.