Pulang Naik KRL Kok Justru Lelah? Ini Faktor yang Jarang Disadari
Apakah Anda merasa lelah setelah menggunakan KRL? Dokter menjelaskan beberapa penyebab yang mungkin tidak disadari.
Rasa lelah setelah menggunakan KRL sering kali dianggap sebagai hal yang wajar. Namun, kondisi ini sebenarnya bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan (health) dan keselamatan (safety) yang sering kali diabaikan oleh para komuter.
Setiap hari, jutaan orang melakukan perjalanan dengan KRL untuk bekerja, dan rutinitas ini tidak hanya menghabiskan waktu, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Berbagai faktor seperti kurang tidur, dehidrasi, dan stres perjalanan dapat berkontribusi pada rasa lelah yang terus menerus menumpuk.
Ketua Health Collaborative Center (HCC) Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, menyatakan bahwa kelelahan setelah perjalanan bukan sekadar rasa capek biasa.
"Perjalanan harian memengaruhi tekanan darah, hormon stres, kualitas tidur, hingga kesehatan mental. Jika berlangsung terus-menerus, ini bisa menurunkan produktivitas dan meningkatkan risiko kecelakaan," ungkap Dr. Ray.
Salah satu penyebab utama kelelahan adalah kurang tidur. Banyak komuter terpaksa bangun lebih awal demi mengejar kereta, dan tidur kurang dari enam jam dapat memperlambat refleks serta menurunkan konsentrasi, sehingga tubuh lebih mudah merasa lelah sebelum aktivitas kerja dimulai.
Selain itu, dehidrasi juga sering terjadi tanpa disadari. Banyak orang yang sengaja mengurangi asupan cairan agar tidak bolak-balik ke toilet selama perjalanan. Padahal, kekurangan cairan dapat menyebabkan gejala seperti pusing, lemas, dan detak jantung yang tidak teratur. Faktor lain yang juga penting adalah posisi tubuh saat perjalanan.
Berdiri dalam waktu lama sambil membawa tas berat dengan postur yang tidak tepat dapat memicu nyeri otot dan sendi, dan jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan muskuloskeletal.
Dr. Ray menambahkan, "Komuter yang mengalami kelelahan kronis biasanya lebih mudah sakit, emosinya meningkat, fokus menurun, dan lebih rentan mengalami kecelakaan." Kondisi kereta yang padat juga meningkatkan beban fisik dan mental.
Desakan penumpang dapat memicu stres, sesak napas, bahkan panic attack pada beberapa orang. Selain itu, ada juga tekanan psikologis yang muncul akibat ketakutan terlambat untuk bekerja atau menghadiri rapat penting.
Oleh karena itu, penting bagi para komuter untuk mulai memperhatikan kesehatan mereka sebelum berangkat. Tidur yang cukup, sarapan ringan dengan protein, dan cukup minum air merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga stamina.
Selama perjalanan, pastikan tubuh berada dalam posisi yang aman, pegang handle dengan benar, hindari bersandar di pintu, dan letakkan tas di bagian depan saat kereta padat. Jika merasa pusing atau sesak, segera cari posisi yang lebih nyaman dan jangan ragu untuk meminta bantuan.
Dr. Ray juga mengingatkan agar tidak mengabaikan sinyal dari tubuh.
"Jika Anda sering merasa pusing, sesak di keramaian, nyeri dada, atau hampir pingsan saat commute, itu adalah tanda yang tidak boleh diabaikan," tambahnya.
Pada akhirnya, meskipun bekerja itu penting, menjaga kesehatan fisik dan mental selama perjalanan jauh lebih krusial.
"Karena commute yang aman dan sehat adalah kunci untuk menjalani hari dengan optimal," tutupnya.