Ketahui Kondisi Mikropenis, Penyebab, serta Gejala yang Perlu Diwaspadai pada Tiap Usia
Kondisi mikropenis mungkin dialami oleh anak, ketahui bagaimana mengidentifikasi dan membedakannya dari kondisi normal.
Mikropenis adalah kondisi langka yang merujuk pada ukuran penis yang jauh lebih kecil dari rata-rata. Meskipun jarang terjadi, kondisi ini dapat menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang tua maupun individu yang mengalaminya. Namun, pemahaman tentang penyebab, gejala, dan penanganannya dapat membantu mengatasi stigma serta memberikan solusi bagi mereka yang membutuhkan.
Apa Itu Mikropenis?
Dilansir dari Medical News Today, secara medis, mikropenis didefinisikan sebagai penis dengan panjang yang berada 2,5 standar deviasi di bawah rata-rata panjang penis yang diregangkan, sesuai usia dan tingkat perkembangan seksual seseorang.
Pada bayi baru lahir dengan usia kehamilan penuh, rata-rata panjang penis yang diregangkan adalah 3,2 cm. Mikropenis didefinisikan jika panjangnya kurang dari 2,4–2,5 cm. Pada orang dewasa, rata-rata panjang penis adalah 13,24 cm (5,21 inci), sementara mikropenis didefinisikan jika panjang penis yang diregangkan kurang dari 9,3 cm (3,66 inci).
Meski ukurannya kecil, individu dengan mikropenis biasanya memiliki genitalia internal dan testis yang normal. "Mikropenis biasanya didiagnosis saat lahir, ketika dokter mengukur panjang penis bayi dan memeriksa tanda-tanda abnormalitas hormonal lainnya," jelas para ahli.
Seberapa Umum Mikropenis?
Mikropenis merupakan kondisi yang sangat langka, dengan prevalensi diperkirakan 1,5 dari setiap 10.000 bayi laki-laki yang lahir di Amerika Serikat. Namun, prevalensinya dapat bervariasi berdasarkan faktor lingkungan, seperti paparan pestisida selama kehamilan.
Paparan racun atau bahan kimia tertentu selama masa kehamilan juga dapat meningkatkan risiko kelainan lahir, termasuk mikropenis.
Penyebab Mikropenis
Mikropenis sering kali disebabkan oleh masalah hormonal selama kehamilan. Kekurangan hormon testosteron pada janin laki-laki, atau kurangnya produksi hormon human chorionic gonadotrophin (hCG) pada ibu, dapat memengaruhi perkembangan penis.
Selain itu, kondisi tertentu dapat mengganggu tubuh seseorang untuk merespons testosteron dengan benar, yang dikenal sebagai resistensi androgen. Jika masalah-masalah hormonal ini terjadi, pertumbuhan penis janin bisa terganggu.
Kekurangan testosteron juga dapat berdampak pada fase penting setelah kelahiran, yaitu lonjakan hormon testosteron pada bayi usia 0–3 bulan. Jika lonjakan ini terganggu, pertumbuhan penis dapat terhambat.
Pada kasus yang jarang, mikropenis bersifat idiopatik, artinya penyebab pastinya tidak dapat diketahui. Beberapa kondisi yang sering dikaitkan dengan mikropenis meliputi:
Hipogonadotropik hipogonadisme
Prader-Willi syndrome
Kallmann syndrome
Defisiensi hormon pertumbuhan
Abnormalitas kromosom
Laurence-Moon syndrome
Cara Mendiagnosis Mikropenis
Mikropenis biasanya terdiagnosis saat lahir melalui pengukuran panjang penis yang diregangkan. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, tes darah untuk mengevaluasi kadar hormon, dan, dalam beberapa kasus, tes genetik untuk menentukan jenis kelamin biologis bayi.
Jika dicurigai adanya mikropenis, dokter dapat melakukan pemeriksaan pencitraan seperti ultrasonografi panggul atau MRI untuk melihat struktur genital dan jaringan sekitarnya.
Namun, penting untuk membedakan mikropenis dari kondisi lain yang dapat membuat penis terlihat lebih kecil, seperti:
Penis terpendam (buried penis): Penis tersembunyi di bawah bantalan lemak di sekitarnya, sering terjadi pada individu dengan obesitas.
Penis terperangkap (trapped penis): Penis terperangkap oleh kurangnya jaringan kulit di sekitarnya.
Penis berselaput (webbed penis): Terdapat kulit tambahan yang menghubungkan skrotum dan penis.
Pengobatan Mikropenis
Tujuan utama pengobatan mikropenis adalah memastikan fungsi seksual dan urinasi yang normal serta meningkatkan rasa percaya diri individu.
Terapi Hormonal
Pemberian testosteron, baik dalam bentuk krim atau suntikan intramuskular, dapat membantu meningkatkan ukuran penis selama masa bayi atau sebelum pubertas. Respon terhadap terapi ini dianggap baik jika terdapat peningkatan panjang penis hingga 100 persen atau penambahan minimal 3,5 cm.
Operasi
Jika terapi hormonal tidak berhasil, tindakan operasi seperti pemasangan implan dapat dilakukan. Namun, operasi ini memiliki risiko komplikasi yang tinggi dan perlu pertimbangan matang.
Bagaimana Mikropenis Mempengaruhi Fungsi Seksual?
Kabar baiknya, mikropenis umumnya tidak memengaruhi fungsi seksual. Individu dengan mikropenis masih dapat mengalami orgasme, masturbasi, dan buang air kecil secara normal, meskipun mungkin lebih sulit untuk buang air kecil sambil berdiri.
Namun, kecemasan terhadap ukuran penis dapat menjadi penghalang dalam menikmati hubungan seksual. Konseling atau terapi seksual dapat membantu individu mengatasi rasa cemas dan membangun kepercayaan diri.
Mikropenis tidak harus menjadi hambatan bagi kehidupan yang bahagia dan aktif. Banyak individu dengan mikropenis memiliki identitas seksual yang normal serta hubungan yang memuaskan dengan pasangan mereka.
Penting untuk diingat bahwa ukuran penis hanyalah salah satu aspek dari fungsi seksual. Fokus pada teknik seksual lainnya, seperti rangsangan manual atau oral, dapat membantu meningkatkan kepuasan bagi kedua pasangan.