Fakta Mengejutkan: Jumlah Sperma Pria di Seluruh Dunia Menurun Hingga 50 Persen, Pasangan Jadi Sulit Punya Anak.
Di Indonesia, sekitar 4 hingga 6 juta pasangan muda mengalami masalah infertilitas atau kesulitan untuk memiliki anak.
Jumlah sperma pria di seluruh dunia telah mengalami penurunan lebih dari 50 persen dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.
"Ini fakta yang menyedihkan, jadi ini penelitian di Amerika sejak tahun 1950-an sampai 2020-an sperma laki-laki itu turun lebih dari 50 persen. Rata-rata dulu 90 juta per cc, sekarang hanya 30 sampai 40 juta," ungkap dokter spesialis andrologi Christian Christoper Sunnu dari Eka Hospital Grand Family Pantai Indah Kapuk (PIK) dalam pertemuan media di Jakarta pada Selasa (16/12).
Data ini diambil dari penelitian yang dipublikasikan pada 20 November 2025. Ia juga menyatakan bahwa sekitar 30 persen penyebab infertilitas di Indonesia berasal dari faktor pria.
"Bahkan setelah pandemi Covid, itu (jumlah sperma) turun lagi sekitar 15-20 juta per cc. Ini kita baru ngomongin jumlah, belum gerakannya, bentuk normalnya atau morfologinya itu drop (turun) semua," tambah dokter yang akrab disapa Sunnu.
Di Indonesia, sekitar 4 hingga 6 juta pasangan muda mengalami masalah infertilitas atau kesulitan untuk memiliki anak. Dalam kesempatan ini, Sunnu juga menjelaskan mengenai azoospermia, yang lebih dikenal sebagai kondisi sperma kosong.
Menurutnya, azoospermia adalah kondisi medis serius yang menjadi perhatian dalam masalah infertilitas pria. Kondisi ini ditandai dengan tidak adanya sperma sama sekali dalam air mani pria, yang dapat terlihat seperti air mani yang encer dan bening. Azoospermia berkontribusi sekitar 20 persen dari keseluruhan kasus infertilitas di dunia.
Penyebab Azoospermia
Penyebab azoospermia sangat bervariasi, mencakup faktor lingkungan serta kondisi kesehatan tertentu. "Pertama polusi, kita tahu industri seiring dengan perkembangan zaman, teknologi itu ada efek sampingnya.
Alam rusak di kota besar kendaraan makin banyak, polusi itu enggak bisa terhindarkan. Kita pakai masker pun belum tentu 100 persen polusinya enggak kehirup kan," jelas Sunnu. Selain polusi, terdapat beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan ketiadaan sperma, antara lain:
- Gaya hidup yang tidak sehat
- Kebiasaan merokok
- Konsumsi alkohol
- Pola makan yang tinggi gula dan mengandung bahan pengawet (makanan ultra processed)
- Kurangnya kualitas tidur
- Tingkat stres yang tinggi
- Ketidakseimbangan hormon
- Infeksi yang dapat mempengaruhi sistem reproduksi.
Dua Tipe Azoospermia
Azoospermia terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu yang disebabkan oleh sumbatan dan yang tidak disebabkan oleh sumbatan. Azoospermia Obstruktif (Sumbatan) terjadi ketika terdapat sumbatan di saluran reproduksi. Beberapa faktor penyebabnya mencakup:
- Infeksi yang berkepanjangan, misalnya akibat bergonta-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom.
- Trauma berat yang mengenai area testis, seperti jatuh atau terkena tendangan.
- Faktor genetik yang dapat mempengaruhi kondisi ini.
Sementara itu, Non-Obstruktif (Non-Sumbatan) biasanya disebabkan oleh masalah dalam produksi sperma. Beberapa penyebab yang umum adalah:
- Gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok dan konsumsi ultra processed food.
- Faktor genetik yang berkontribusi terhadap masalah ini.
- Ketidakseimbangan hormon, termasuk penggunaan suntik hormon yang tidak tepat.
- Infeksi, contohnya gondongan atau COVID-19.
- Pemakaian obat-obatan tertentu yang dapat memengaruhi kesuburan.
- Varikokel, yaitu pembengkakan pada pembuluh darah vena di dalam kantong zakar.
Mengatasi Masalah Azoospermia
Azoospermia, baik yang bersifat obstruktif maupun non-obstruktif, merupakan kondisi yang sangat sulit untuk diobati. Saat ini, belum ditemukan terapi yang mampu meningkatkan jumlah sperma dari nol hingga mencapai tingkat normal. Meskipun demikian, terdapat beberapa cara untuk meringankan kondisi ini.
Untuk azoospermia tipe non-obstruktif, penggunaan suntikan hormon atau sel punca dapat membantu, meskipun tidak ada jaminan bahwa jumlah sperma akan kembali normal sepenuhnya. Karena jumlah sperma yang sangat terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali, kedua jenis azoospermia ini sering kali memerlukan prosedur In Vitro Fertilization (IVF) agar pasangan dapat memiliki anak.
Di masa depan, ada harapan bahwa perawatan yang dapat mengembalikan kesuburan sperma pria hingga 100 persen akan tersedia.
"Testis (buah zakar) adalah satu-satunya organ yang mampu menghasilkan sperma. Karena sekali rusak, sangat sulit untuk mengembalikannya ke kondisi awal, penting sekali untuk menjaga kesehatan buah zakar pria sejak kecil."
Oleh karena itu, menjaga kesehatan dan kebugaran organ reproduksi pria adalah langkah yang sangat penting untuk mencegah terjadinya azoospermia dan masalah kesuburan lainnya di kemudian hari.
Ciri-Ciri Pasien Azoospermia
Secara fisik, pasien yang mengalami azoospermia umumnya tidak menunjukkan gejala yang mencolok. Namun, bagi mereka yang mengalami kondisi ini akibat kekurangan hormon, terdapat beberapa tanda yang dapat muncul, seperti:
- Ereksi pagi hari yang tidak ada atau bersifat hilang timbul.
- Pertumbuhan karakteristik seksual sekunder yang tidak memadai, contohnya suara yang masih seperti anak-anak, kurangnya rambut di area ketiak atau kemaluan, otot yang tampak kecil, serta cepat merasa lelah.
- Minat seksual yang sangat terbatas.
- Kesulitan dalam mencapai ereksi yang keras, yang dikenal sebagai Disfungsi Ereksi.
Apabila mengalami gejala-gejala tersebut, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis andrologi. Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh dan memberikan diagnosis serta penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi pasien.
"Kesadaran adalah langkah pertama dan tindakan adalah langkah berikutnya. Jangan biarkan ketakutan menunda deteksi," pungkasnya.