10 Penyebab Kliyengan dan Tubuh Terasa Melayang: Waspadai Gejalanya!
Kliyengan atau sensasi melayang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari dehidrasi hingga penyakit serius. Ketahui 10 penyebabnya!
Pernahkah Anda mengalami sensasi kepala terasa ringan, tubuh melayang, dan hampir pingsan? Kondisi ini dikenal sebagai kliyengan, suatu gejala yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari yang ringan hingga yang membutuhkan penanganan medis segera. Kliyengan, atau dalam istilah medis disebut vertigo, dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan rasa khawatir. Memahami penyebab kliyengan sangat penting untuk mencegah dan mengatasinya dengan tepat.
Banyak hal yang dapat menyebabkan kliyengan, mulai dari dehidrasi sederhana hingga penyakit serius seperti penyakit jantung. Gejala kliyengan dapat berupa sensasi berputar, ruangan terasa berputar, atau merasa tidak stabil. Penting untuk memperhatikan gejala penyerta, seperti nyeri dada, sesak napas, atau perubahan penglihatan, karena ini bisa menjadi indikasi kondisi medis yang lebih serius. Meskipun sering dianggap sepele, kliyengan dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebabnya dan kapan harus mencari bantuan medis.
Dilansir dari Medical News Today, berikut adalah 10 penyebab kliyengan yang perlu Anda ketahui, lengkap dengan penjelasan dan langkah-langkah pencegahannya. Dengan memahami informasi ini, Anda dapat lebih waspada terhadap kesehatan Anda dan mengambil tindakan yang tepat jika mengalami kliyengan.
1. Vertigo: Sensasi Berputar yang Mengganggu
Vertigo merupakan sensasi berputar yang seringkali disertai dengan kliyengan. Kondisi ini disebabkan oleh gangguan pada telinga bagian dalam yang bertanggung jawab atas keseimbangan tubuh. "Vertigo dapat menyebabkan orang merasa seolah-olah lingkungan di sekitar mereka berputar atau miring." Beberapa penyebab vertigo antara lain:
- Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV): Terjadi ketika partikel kalsium karbonat berkumpul di saluran telinga bagian dalam, menyebabkan otak salah membaca informasi posisi dan gerakan tubuh.
- Penyakit Meniere: Gangguan telinga bagian dalam yang penyebabnya belum diketahui pasti, tetapi diduga akibat penumpukan cairan di saluran telinga. Penyakit ini dapat menyebabkan vertigo, tinitus (berdenging di telinga), dan kehilangan pendengaran.
- Labirinitis: Peradangan pada telinga bagian dalam yang seringkali disebabkan oleh infeksi virus, seperti flu atau pilek. Antiviral dan antihistamin dapat digunakan untuk mengobati labirinitis.
Penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami vertigo, terutama jika disertai gejala lain seperti tinitus atau gangguan pendengaran.
2. Mabuk Perjalanan (Motion Sickness): Gangguan Keseimbangan Akibat Gerakan
Mabuk perjalanan atau motion sickness adalah kondisi yang ditandai dengan mual, muntah, dan kliyengan akibat gerakan berulang, misalnya saat berada di dalam kendaraan seperti mobil, pesawat, atau kapal. "Gerakan berulang dari berada di dalam kendaraan, seperti mobil, pesawat, atau kapal, dapat mengirimkan banyak sinyal campuran ke otak, menyebabkan pusing, mual, dan muntah." Kondisi ini disebabkan oleh ketidaksesuaian sinyal yang diterima otak dari mata, telinga bagian dalam, dan sistem proprioseptif (sistem sensorik yang memberikan informasi tentang posisi tubuh).
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko motion sickness, seperti kehamilan atau konsumsi obat-obatan tertentu. Gejala biasanya mereda setelah berhenti bergerak. Mengonsumsi obat antiemetik dapat membantu meredakan gejala.
3. Migrain: Sakit Kepala yang Bisa Menyebabkan Kliyengan
Migrain, selain menyebabkan sakit kepala berdenyut hebat, juga dapat menyebabkan kliyengan, terutama migrain vestibular. "Migrain adalah jenis sakit kepala berulang yang, selain menyebabkan nyeri berdenyut atau berdebar di satu sisi kepala, juga dapat menyebabkan pusing." Migrain vestibular seringkali memicu episode kliyengan dan dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti stres, dehidrasi, kurang tidur, rangsangan visual, makanan tertentu, dan perubahan hormonal.
Pengobatan migrain bertujuan untuk mengurangi frekuensi dan intensitas serangan, termasuk mengelola faktor pemicu. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
4. Tekanan Darah Rendah (Hipotensi): Aliran Darah ke Otak Berkurang
Penurunan tekanan darah secara tiba-tiba, terutama saat berdiri dari posisi duduk atau berbaring (hipotensi ortostatik), dapat menyebabkan aliran darah ke otak berkurang sementara, sehingga menimbulkan kliyengan. "Penurunan tajam tekanan darah dapat menyebabkan sensasi pusing yang singkat." Kondisi ini dapat diperparah oleh dehidrasi, kehilangan darah, reaksi alergi berat (anafilaksis), atau kehamilan.
Beberapa obat-obatan, seperti diuretik, beta-blocker, dan antidepresan, juga dapat menyebabkan perubahan tekanan darah. Menjaga hidrasi tubuh dan menghindari perubahan posisi tubuh yang terlalu cepat dapat membantu mencegah hipotensi ortostatik.
5. Penyakit Kardiovaskular: Gangguan Aliran Darah ke Otak
Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti penumpukan plak pada arteri dan gagal jantung, dapat mengganggu aliran darah ke otak dan menyebabkan kliyengan. "Kondisi yang memengaruhi sistem kardiovaskular, seperti penumpukan plak pada arteri dan gagal jantung kongestif, dapat menyebabkan pusing." Kliyengan juga dapat terjadi sebelum atau setelah serangan jantung atau stroke.
Gejala lain penyakit kardiovaskular meliputi detak jantung tidak teratur, sesak napas, nyeri atau sesak di dada, batuk persisten, penumpukan cairan di lengan atau kaki, kelelahan, dan mual atau muntah. Penanganan medis segera sangat penting jika mengalami gejala ini.
6. Anemia (Kekurangan Zat Besi): Kurangnya Oksigen ke Otak
Anemia, atau kekurangan sel darah merah, dapat mengurangi kemampuan darah untuk membawa oksigen ke otak, sehingga menyebabkan kliyengan. "Kekurangan zat besi dapat menyebabkan kondisi yang disebut anemia, di mana tubuh tidak memiliki cukup darah kaya oksigen." Gejala anemia lainnya meliputi sesak napas, nyeri dada, dan kelelahan.
Mengonsumsi makanan kaya zat besi dan suplemen zat besi dapat membantu mengatasi anemia ringan. Anemia berat mungkin memerlukan transfusi darah. Konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat.
7. Hipoglikemia (Gula Darah Rendah): Kurangnya Energi untuk Otak
Hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah turun di bawah normal. "Hipoglikemia terjadi ketika glukosa darah, atau gula darah, turun di bawah tingkat normal." Penyebabnya antara lain melewatkan makan, konsumsi alkohol, konsumsi obat-obatan tertentu (seperti insulin atau aspirin), dan ketidakseimbangan hormon. Gejala hipoglikemia dapat muncul tiba-tiba dan bervariasi, termasuk kliyengan, kehilangan keseimbangan, kelelahan, sakit kepala, lapar, perubahan suasana hati, kesulitan berkonsentrasi, dan detak jantung tidak teratur.
Mengonsumsi makanan atau minuman manis dapat membantu mengatasi hipoglikemia ringan. Namun, jika sering mengalami hipoglikemia, konsultasikan dengan dokter untuk mencari penyebab dan pengobatan yang tepat.
8. Penyakit Autoimun Telinga Bagian Dalam (AIED): Sistem Kekebalan yang Menyerang Telinga
Pada AIED, sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang telinga bagian dalam, menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan, termasuk kliyengan. "Penyakit telinga bagian dalam autoimun (AIED) mengacu pada kondisi apa pun di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang telinga bagian dalam."
Gejala lain AIED meliputi tinitus (berdenging di telinga) dan kehilangan keseimbangan atau koordinasi.Diagnosis AIED memerlukan pemeriksaan medis lengkap, termasuk riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemantauan gejala tambahan. Penanganan AIED bergantung pada penyebab dan keparahan gejalanya.
9. Stres: Pengaruh Hormon terhadap Sistem Saraf
Stres kronis dapat memicu pelepasan hormon yang memengaruhi sistem pernapasan dan kardiovaskular, menyebabkan penyempitan pembuluh darah, peningkatan detak jantung, dan pernapasan cepat dan dangkal. "Stres jangka panjang atau kronis dapat berkontribusi pada perkembangan masalah kesehatan yang signifikan, seperti depresi, kecemasan, penyakit jantung, diabetes, atau disfungsi imun."
Kondisi ini dapat menyebabkan kliyengan dan gejala lain seperti berkeringat, gemetar, sakit kepala, nyeri dada, detak jantung cepat, kesulitan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan mual.Mengelola stres melalui teknik relaksasi, olahraga teratur, dan istirahat cukup sangat penting untuk mencegah kliyengan akibat stres.
10. Kecemasan: Hubungan Antara Pikiran dan Tubuh
Kecemasan juga dapat menyebabkan kliyengan, baik sebagai pemicu serangan panik atau sebagai akibat dari serangan panik itu sendiri. "Pusing adalah gejala umum kecemasan." Peristiwa yang menegangkan dapat memicu serangan panik, yang ditandai dengan kliyengan, disorientasi, dan mual.Gejala kecemasan lainnya meliputi kekhawatiran, gelisah, kesulitan berkonsentrasi, masalah tidur, perubahan suasana hati, mudah tersinggung, detak jantung cepat, sakit kepala, berkeringat, dan mulut kering. Konsultasikan dengan dokter atau terapis untuk mengatasi kecemasan.
Kliyengan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari dehidrasi hingga penyakit serius. Jika kliyengan sering terjadi, berlangsung lama, atau disertai gejala lain seperti nyeri dada, sesak napas, kelemahan pada satu sisi tubuh, atau perubahan penglihatan, segera periksakan diri ke dokter. Informasi ini bersifat umum dan bukan pengganti saran medis profesional.