BSKDN Kemendagri Perkuat Kualitas Kebijakan dengan Penerapan Rasch Model
BSKDN Kemendagri terus berinovasi memperkuat kualitas perumusan kebijakan berbasis data. Penerapan Rasch Model menjadi kunci untuk memastikan instrumen survei valid dan menghasilkan rekomendasi tepat sasaran.
Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terus berupaya meningkatkan kualitas perumusan kebijakan. Langkah ini dilakukan melalui penguatan data yang berbasis bukti atau evidence-based policy. Salah satu inisiatif strategis yang diambil adalah mengimplementasikan Rasch Model dalam pengembangan instrumen survei.
Sekretaris BSKDN Kemendagri, Noudy R. P. Tendean, menegaskan pentingnya data yang baik sebagai fondasi kebijakan. Data berkualitas harus berasal dari instrumen yang teruji, valid, dan reliabel. Kualitas data sangat bergantung pada instrumen yang digunakan, terutama dalam survei sebagai sumber utama informasi kebijakan.
Pernyataan ini disampaikan Noudy saat membuka Sosialisasi Penggunaan Rasch Model. Kegiatan tersebut berlangsung di Command Center BSKDN, Jakarta, pada Selasa (31/3). Sosialisasi ini bertujuan untuk memastikan instrumen survei yang digunakan benar-benar akurat dan dapat diandalkan.
Pentingnya Data Berkualitas untuk Kebijakan Tepat Sasaran
Noudy menjelaskan bahwa pendekatan klasik seperti uji validitas dan reliabilitas telah banyak digunakan. Namun, perkembangan metodologi pengukuran kini menawarkan metode yang lebih komprehensif dan presisi. Salah satu metode canggih tersebut adalah Rasch Model.
Rasch Model memungkinkan analisis yang lebih mendalam terhadap kualitas butir pertanyaan dalam instrumen survei. Metode ini mampu mengidentifikasi tingkat kesulitan setiap item pertanyaan. Selain itu, konsistensi responden juga dapat dianalisis dengan lebih baik.
Model ini juga memastikan kesesuaian instrumen dengan konstruk yang seharusnya diukur. Potensi bias pada setiap pertanyaan dapat terdeteksi secara efektif. Melalui pendekatan ini, instrumen tidak hanya dianggap baik, tetapi juga benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur.
Noudy mengingatkan bahwa instrumen yang lemah berpotensi menghasilkan data yang bias. Data bias ini pada akhirnya dapat berdampak pada ketidaktepatan rekomendasi kebijakan. Oleh karena itu, penguatan metodologi menjadi sangat krusial untuk kebijakan yang tepat sasaran.
Rasch Model: Pendekatan Akurat untuk Pengukuran Data
Penerapan Rasch Model bukan sekadar peningkatan teknis semata. Ini merupakan bagian dari upaya strategis BSKDN Kemendagri untuk memperkuat kualitas bukti. Tujuannya adalah mendukung perumusan kebijakan yang lebih solid dan terpercaya.
Associate Professor Bambang Sumintono turut menekankan keunggulan Rasch Model. Model ini memberikan pendekatan pengukuran yang lebih akurat. Fokusnya tidak hanya pada kelompok, tetapi juga pada karakteristik individu responden.
Bambang menjelaskan bahwa dalam Rasch Model, data awal tidak langsung dianggap sebagai hasil pengukuran akhir. Data perlu melalui proses transformasi tertentu. Proses ini bertujuan agar data memiliki makna yang lebih kuat secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah awal yang signifikan. Ini akan memperkuat fondasi metodologis BSKDN Kemendagri. Dengan demikian, BSKDN mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih akurat, tepat sasaran, dan berdampak nyata bagi masyarakat Indonesia.
Sumber: AntaraNews