Warga Lereng Sumbing Lestarikan Tradisi Srobong Gobang, Jaga Persatuan dan Kearifan Lokal
Di lereng Gunung Sumbing, warga Desa Tlilir rutin menggelar Tradisi Srobong Gobang, sebuah ritual nyadran yang tak hanya membersihkan diri, tapi juga mempererat tali persaudaraan dan melestarikan kearifan lokal.
Warga lereng Gunung Sumbing di Desa Tlilir, Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, secara rutin menggelar Tradisi Srobong Gobang. Ritual tahunan ini merupakan bagian dari nyadran, sebuah upacara adat yang kaya makna. Prosesi ini melibatkan pembersihan srobong gobang, alat tradisional untuk memotong tembakau, yang menjadi simbol penting bagi masyarakat setempat.
Tradisi Srobong Gobang dilaksanakan setiap tahun sebagai momentum penting bagi warga untuk membersihkan diri. Selain itu, ritual ini bertujuan menyingkirkan hal-hal negatif, baik secara lahir maupun batin. Kepala Desa Tlilir, Faturohman, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ajang refleksi dan pemurnian diri bagi seluruh komunitas.
Prosesi diawali dengan berkumpulnya warga di kantor desa pada pagi hari, sebagai titik awal kegiatan. Dari sana, mereka berjalan bersama mengelilingi dusun sebelum akhirnya menuju lokasi pemakaman umum. Sebelum berangkat, para tokoh masyarakat secara gotong royong mencuci srobong gobang, menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan yang masih terjaga.
Makna Pembersihan dan Spiritual dalam Tradisi Srobong Gobang
Tradisi Srobong Gobang di Desa Tlilir tidak hanya sekadar ritual membersihkan alat pertanian. Lebih dari itu, prosesi jamasan atau pencucian srobong gobang memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat. Ini adalah simbol pembersihan diri dari segala kotoran dan energi negatif yang mungkin menempel.
Setelah sampai di makam, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama yang khusyuk. Warga juga melakukan tahlilan dan pengiriman doa untuk para leluhur yang telah meninggal dunia. Momen ini menjadi kesempatan untuk mengenang dan menghormati jasa para pendahulu, sekaligus memohon keberkahan.
Faturohman menjelaskan bahwa ritual ini mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan yang masih dijaga. “Prosesi dilakukan secara gotong royong, mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan yang masih terjaga hingga kini,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa Tradisi Srobong Gobang adalah perwujudan nyata dari solidaritas komunal.
Memperkuat Ikatan Sosial dan Gotong Royong Warga
Tradisi nyadran dan Tradisi Srobong Gobang bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini berfungsi sebagai sarana efektif untuk memperkuat ikatan sosial antarwarga Desa Tlilir. Setiap tahapan prosesi selalu melibatkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, dari yang muda hingga yang tua.
Melalui kegiatan ini, kekompakan dan semangat gotong royong masyarakat terlihat jelas. “Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat kekompakan dan gotong royong masyarakat,” kata Faturohman. Ia menambahkan bahwa kebersamaan selalu diutamakan dalam setiap aspek kehidupan desa, termasuk dalam pelestarian tradisi ini.
Semangat kebersamaan yang terjalin selama Tradisi Srobong Gobang membuat segala pekerjaan terasa lebih ringan. “Ketika kita bersatu, semua terasa lebih ringan karena dijalani bersama-sama,” tambahnya. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur tersebut masih sangat relevan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pewarisan Kearifan Lokal untuk Generasi Muda
Selain sebagai ajang pembersihan dan penguat silaturahmi, Tradisi Srobong Gobang juga menjadi pembelajaran sosial yang berharga. Terutama bagi generasi muda, ritual ini mengajarkan tentang arti penting persatuan dan rasa memiliki terhadap desa. Mereka diajak untuk memahami akar budaya dan sejarah leluhur.
Harapannya, masyarakat dapat merasakan satu rasa dan satu tujuan melalui partisipasi dalam tradisi ini. “Harapannya masyarakat bisa merasakan satu rasa dan satu tujuan. Dari sinilah nilai kebersamaan itu tumbuh dan terus diwariskan,” jelas Faturohman. Ini adalah upaya nyata untuk menjaga keberlanjutan budaya.
Tradisi nyadran srobong gobang menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal masih hidup dan lestari di tengah modernisasi. Ritual ini menjaga harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang telah diwariskan turun-temurun. Keberadaan tradisi ini menegaskan identitas budaya masyarakat lereng Gunung Sumbing.
Sumber: AntaraNews