Mengenal Ngalungsur Geni, Tradisi Pembersihan Benda Pusaka di Kabupaten Garut

Ngalungsur Geni, tradisi turun-temurun pembersihan benda pusaka di Kabupaten Garut.

Adrian  Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Mengenal Ngalungsur Geni, Tradisi Pembersihan Benda Pusaka di Kabupaten Garut
Mengenal Ngalungsur Geni, Tradisi Pembersihan Benda Pusaka di Kabupaten Garut (Merdeka.com)

Setiap daerah di Jawa mayoritas masih menjunjung tinggi nilai-nilai nenek moyangnya. Salah satu tradisi dari Jawa Barat yaitu Ngalungsur Geni.

Setiap desa di Kabupaten Garut Jawa Barat, hampir seluruhnya memeluk agama Islam. Namun, masyarakat masih tidak lepas dari tradisi yang sudah dijalankan oleh leluhurnya.


Salah satu tradisi yang masih dilakukan sampai saat ini adalah Ngalungsur Geni atau dikenal Ngalungsur Pusaka. Lazimnya, banyak penduduk setempat yang melakukan ziarah ke tempat-tempat keramat.

Mengutip warisanbudaya.kemdikbud.go.id, Ngalungsur Geni ini dilaksanakan oleh seorang juru kunci yang tergabung dalam ikatan juru kunci makam keramat Godog.

Pelaksanaan Ngalungsur Geni dilakukan setiap tahun sekali, tepatnya pada bulan Maulud, yaitu tanggal 14 Maulud.


Mengutip Diparbud Garut, tradisi ini merupakan bagian dari penghormatan masyarakat setempat terhadap Sunan Godog alias Prabu Keyan Santang atau Kanjeng Syech Sunan Rokhmat Suci berkat jasa-jasanya dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Garut.

Ungkapan rasa syukur dan hormat kepada Sunan Godog disimbolkan dengan cara 'ngamumule' atau dalam bahasa Indonesia artinya merawat dan memelihara benda-benda peninggalannya sebagai benda pusaka.


Adapun beberapa benda pusaka peninggalan Sunan Godog terdiri dari beberapa jenis keris, kitab Al-Qur'an, Cis, Skin, dan lain sebagainya.

Tradisi Ngalungsur Geni mengandung makna filosofis. Ngalungsur atau Upacara Siraman memiliki makna siraman artinya mencuci, ngalungsur artinya mewariskan atau meneruskan dan geni adalah salah satu nama benda pusaka yang bernama Guntur Geni.


Adapun benda-benda pusaka peninggalan Sunan Godog disimpan dalam sebuah peti khusus berukuran kurang lebih 1 x 2 meter.

Peti khusus tersebut ditaruh di rumah Joglo atau rumah khusus untuk menyimpan benda-benda pusaka. Nah, dari situlah Ngalungsur Geni diartikan, mengeluarkan dan menurunkan benda-benda pusaka yang disimpan maupun milik warga untuk dicuci setiap bulan Maulud.

Mengutip warisanbudaya.kemdikbud.go.id, ada lima tahap dalam pelaksanaan Ngalungsur Geni, di antaranya dari ngalirap, membuka sejarah desa, ziarah kubur, mencuci benda-benda pusaka, dan terakhir doa bersama.


Ngalirap adalah kegiatan gotong royong untuk membuat pagar baru di sekitar ruah joglo, membersihkan jalan, masjid, dan juga makam. Lazimnya dilakukan pagi hingga sore hari.

Kemudian pada malam harinya dilaksanakan membuka sejarah desa yang dipimpin oleh Kuncen di Joglo sampai dini hari.

Keesokan harinya, pagi-pagi peziarah berangkat ke makam leluuhur. Kemudian, pada siang harinya mereka kembali ke Joglo untuk mencuci benda pusaka. Biasanya mereka mencuci benda-benda pusaka tersebut di Sungai Cidangiang.


Uniknya, banyak dari masyarakat setempat yang mengambil air bekas pembersihan benda-benda pusaa tersebut yang diyakini mendatangkan keberkahan, keselamatan hingga kelancaran rezeki.

Terakhir, apabila seluruh benda pusaka bersih, diakhiri dengan doa bersama. Upacara ini berlangsung selama 1 jam yang diikuti oleh seluruh warga.
Rekomendasi