Wakapolri Tinjau Tapanuli Tengah, Bantuan Bencana Diperkuat hingga Ramadan
Wakapolri meninjau Tapanuli Tengah pascabencana. Evaluasi fokus pada pembukaan akses, distribusi logistik, air bersih, dan penguatan bantuan hingga Ramadan.
Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Dedi Prasetyo meninjau langsung Kabupaten Tapanuli Tengah untuk mengevaluasi penanganan bencana yang telah berlangsung selama satu bulan usai banjir Sumatra.
Kunjungan ini merupakan agenda ketiga setelah sebelumnya dilakukan di Aceh Utara dan Aceh Tamiang.
Berdasarkan hasil peninjauan, Tapanuli Tengah disebut sebagai salah satu wilayah dengan dampak bencana yang cukup berat.
“Dari hasil peninjauan, Tapanuli Tengah merupakan wilayah yang terdampak cukup berat. Oleh karena itu, dibutuhkan penguatan bantuan hingga menjelang bulan suci Ramadan,” kata Dedi dalam keterangannya, Minggu (28/12).
Ia menjelaskan, pola penanganan di Tapanuli Tengah dilakukan dengan pendekatan yang sama seperti di wilayah terdampak lainnya, sesuai arahan Kapolri. Fokus utama aparat saat ini adalah membuka kembali akses wilayah yang terputus.
“Jika akses dapat segera dibuka, maka jalur logistik akan semakin lancar,” ujar dia.
Distribusi Logistik, Air Bersih, dan Keterbatasan Sarana
Penguatan bantuan dipastikan terus dilakukan hingga menjelang Ramadan. Penyaluran sembako diprioritaskan ke lima kecamatan terdampak, disertai bantuan air bersih serta dukungan untuk tempat ibadah, baik masjid maupun gereja.
Untuk kebutuhan air bersih, aparat bersama pemerintah daerah menyiapkan 15 titik distribusi yang tersebar di lokasi pengungsian, tempat ibadah, dan perkantoran.
“Air bersih sangat dibutuhkan oleh masyarakat di wilayah ini, sehingga bantuan tersebut akan terus kami tingkatkan,” ujar dia.
Di sisi lain, bencana turut berdampak pada sarana operasional kepolisian. Sejumlah kendaraan Bhabinkamtibmas dilaporkan rusak dan tidak dapat digunakan.
Saat ini, kendaraan roda empat yang masih operasional tersisa empat unit, sementara enam dusun masih terisolasi dan hanya dapat diakses menggunakan kendaraan trail.
“Karena itu, diperlukan penambahan kendaraan, baik kendaraan operasional Bhabinkamtibmas maupun kendaraan double cabin, mengingat masih terdapat enam dusun yang benar-benar terisolir. Akses ke enam dusun tersebut saat ini hanya dapat dilalui menggunakan kendaraan trail,” ujar dia.
Sebelumnya, distribusi bantuan mengandalkan jalur udara. Kini akses darat mulai dibuka, meski pengiriman logistik ke beberapa titik masih harus dilakukan dengan berjalan kaki. Untuk mendukung pembukaan akses, tersedia lima unit ekskavator. Sementara perbaikan jembatan mulai dilakukan dengan dukungan pemerintah daerah dan unsur terkait.
“Untuk jembatan, alhamdulillah dengan dukungan Bapak Bupati, Kapolres, dan seluruh pihak terkait, jembatan-jembatan yang rusak sudah mulai diperbaiki sehingga akses semakin lancar,” ucap dia.
Fokus bantuan tetap diarahkan ke lima kecamatan mengingat luasnya wilayah terdampak dan jumlah korban yang cukup banyak.
“Jumlah wilayah terdampak dan korban juga cukup banyak,” ucap dia.
Terkait personel, sekitar 150 personel Satuan Brimob saat ini berada di lokasi. Mabes Polri menyiapkan total 1.500 personel, dengan sebagian telah dikirim ke Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Tengah.
“Apabila jumlah personel yang ada dirasa masih kurang, maka akan dilakukan penambahan untuk penguatan dan penebalan guna mempercepat proses normalisasi pasca bencana,” tandas dia.