Tragedi Januari Hitam hingga Kegemilangan Azerbaijan: Sebuah Perjalanan Bangsa
Mengulas perjalanan panjang Azerbaijan dari tragedi Januari Hitam 1990 yang menelan banyak korban hingga meraih kegemilangan dalam Perang Patriotik 2020 dan perdamaian abadi.
Peristiwa 20 Januari 1990 di Baku, ibu kota Azerbaijan, dikenal sebagai Januari Hitam atau Hari Para Martir. Hari itu menandai babak gelap dalam sejarah bangsa ketika kejahatan terhadap umat manusia dilakukan. Tentara Soviet menyerbu kota atas perintah mantan Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, dalam usaha menyelamatkan pemerintahan komunis dan memadamkan gerakan kemerdekaan Azerbaijan.
Invasi brutal ini menyebabkan 147 orang tewas, 744 orang terluka, serta penangkapan lebih dari 800 warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia. Lima tahun setelah tragedi itu, Gorbachev mengakui bahwa keputusannya mengirim tentara ke Baku adalah kesalahan terbesar dalam kehidupan politiknya. Namun, bagi keluarga korban, diagnosis politik semacam itu sulit dipahami.
Meskipun sudah 36 tahun berlalu, Januari Hitam secara luas dianggap sebagai momen krusial dalam perjuangan kemerdekaan Azerbaijan. Peristiwa ini menandai awal pemisahan negara tersebut dari kendali Soviet selama 70 tahun. Setiap tahun, 20 Januari diperingati sebagai Hari Berkabung Nasional, di mana ribuan orang mengunjungi Lorong Para Martir untuk memberikan penghormatan kepada para korban.
Mengenang Januari Hitam: Awal Perjuangan Kemerdekaan Azerbaijan
Sebelum tragedi Januari Hitam, klaim teritorial Armenia yang tidak berdasar terhadap Azerbaijan pada akhir 1980-an, dengan dukungan dari kepemimpinan Soviet, berkontribusi pada munculnya gerakan anti-Soviet di Azerbaijan. Hal ini mendorong rakyat Azerbaijan untuk membela kedaulatan teritorial mereka, dan gerakan tersebut akhirnya berkembang menjadi perjuangan pembebasan nasional.
Tentara Soviet dikirim ke negara itu untuk menekan gerakan nasional dan mematahkan keinginan rakyat Azerbaijan akan kemerdekaan. Pada malam 19–20 Januari 1990, pasukan Soviet memasuki Baku dan wilayah lain di Azerbaijan, melakukan pembunuhan massal dengan kekejaman dan brutalitas ekstrem.
Pada 21 Januari 1990, Heydar Aliyev, Pemimpin Nasional Azerbaijan, dengan tegas mengutuk kekejaman yang dilakukan oleh rezim Komunis dan menuntut hukuman bagi para pelaku. Bertahun-tahun kemudian, atas inisiatifnya, penilaian politik dan hukum diberikan terhadap tragedi ini. Parlemen Azerbaijan secara resmi mengakui peristiwa tersebut sebagai agresi militer dan kejahatan terhadap rakyat Azerbaijan pada tahun 1994.
Konflik Nagorno-Karabakh dan Jalan Panjang Menuju Perdamaian
Azerbaijan dan Armenia telah terlibat konflik bersenjata selama hampir 30 tahun atas Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional. Armenia melancarkan agresi militer besar-besaran terhadap Azerbaijan pada tahun 1991, dan perang berdarah berlangsung hingga gencatan senjata pada tahun 1994, di mana Armenia menduduki 20 persen wilayah Azerbaijan.
Akibat konflik ini, lebih dari 30.000 warga Azerbaijan terbunuh dan satu juta orang diusir dari tanah mereka dalam kebijakan pembersihan etnis brutal yang dilakukan Armenia. Meskipun Dewan Keamanan PBB mengadopsi empat resolusi pada tahun 1993 yang menuntut penarikan segera pasukan pendudukan dari tanah Azerbaijan, Armenia gagal mematuhi surat PBB yang mengikat secara hukum tersebut.
Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) Minsk Group, yang diketuai bersama oleh Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat, melakukan upaya untuk menemukan solusi damai, namun tidak berhasil. Organisasi Kerjasama Islam (OKI) juga mengeluarkan beberapa pernyataan untuk penarikan pasukan Armenia dari wilayah pendudukan Azerbaijan, namun Armenia menolak untuk mundur dari Nagorno-Karabakh.
Kebangkitan Azerbaijan: Kemenangan dalam Perang Patriotik 2020
Di bawah Presiden Ilham Aliyev, kemenangan Azerbaijan dalam Perang Patriotik 2020, serta operasi sukses pada September 2023, semakin memperkuat semangat nasional dan membawa kedamaian bagi jiwa para martir tragedi ini. Pada 27 September 2020, Azerbaijan melancarkan serangan balik di bawah operasi “Tinju Besi” sebagai respons terhadap agresi Armenia, membebaskan tanahnya selama 44 hari perang sengit.
Pasukan Azerbaijan berhasil membebaskan kota strategis Shusha pada 8 November 2020, yang merupakan ibu kota budaya Azerbaijan. Selain itu, lebih dari 300 permukiman, termasuk kota Jabrayil, Fizuli, Zangilan, Gubadli, dan bukit-bukit strategis penting, juga dibebaskan dari pendudukan. Kemenangan ini datang dengan biaya yang sangat tinggi, di mana 2.908 tentara Azerbaijan gugur dan 94 warga sipil tewas.
Perang berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi Rusia pada 10 November 2020. Pernyataan yang ditandatangani oleh Presiden Aliyev, Perdana Menteri Armenia Nikolai Pashinyan, dan Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengumumkan pembangunan komunikasi transportasi baru yang menghubungkan Republik Otonomi Nakhchivan dan wilayah barat Azerbaijan.
Membangun Masa Depan: Rekonstruksi dan Perjanjian Damai Komprehensif
Setelah keberhasilan militer, Azerbaijan melakukan usaha-usaha rekonstruksi besar di kawasan-kawasan yang dibebaskan. Negara ini juga terlibat dalam diplomasi guna menjamin perdamaian lestari di wilayah tersebut.
Azerbaijan, dengan produk domestik bruto (PDB) sebesar 74,4 miliar dolar AS dan 10,3 juta penduduk, jauh lebih besar daripada Armenia. Sebagai negara mayoritas Muslim dengan banyak cadangan minyak dan gas, Azerbaijan telah menginvestasikan miliaran dolar untuk memodernisasi militernya, sementara Armenia sangat bergantung pada senjata Rusia yang sudah ketinggalan zaman. Turki juga memperluas dukungan politik penuhnya ke Azerbaijan selama perang 2020.
Setelah negosiasi-negosiasi yang berlangsung lama, usaha-usaha ini mencapai satu tonggak sangat penting pada 8 Agustus 2025. Kedua negara itu menandatangani persetujuan perdamaian komprehensif di New York dengan bantuan AS. Dokumen bersejarah ini tidak hanya menormalisasi hubungan antara Azerbaijan dan Armenia, tetapi juga membuka babak baru stabilitas dan kerja sama di kawasan.
Sumber: AntaraNews