Terungkap, Ini Alasan BMKG Pasang Seismograf di Situbondo Pascagempa M 5,4
BMKG Pasang Seismograf Situbondo di desa terdampak gempa M 5,4 untuk selidiki penyebab kerusakan rumah. Apakah karena tanah rentan atau struktur bangunan? Cari tahu alasannya di sini!
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Pasuruan baru-baru ini memasang seismograf di Situbondo. Alat sensor ini ditempatkan di Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, yang merupakan salah satu lokasi paling terdampak gempa bumi. Pemasangan ini dilakukan pada Jumat (26/9), menyusul gempa berkekuatan magnitudo 5,4 sehari sebelumnya.
Langkah strategis ini diambil untuk menyelidiki secara mendalam penyebab kerusakan masif pada puluhan rumah warga. Ahli Madya BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan, Syawaldin Ridha, menjelaskan tujuan utama pemasangan alat ini. Mereka ingin memastikan apakah kerusakan itu akibat kerentanan tanah atau kualitas struktur bangunan yang tidak memadai.
Gempa bumi dengan magnitudo 5,4 tersebut mengguncang Situbondo pada Kamis (25/9) pukul 16.04 WIB. Pusat gempa berada 18 kilometer tenggara laut Desa Sumberwaru dengan kedalaman 12 kilometer. Meskipun tidak berpotensi tsunami, guncangan ini menyebabkan kerusakan signifikan di beberapa desa.
Tujuan Pemasangan Seismograf: Menguak Misteri Kerusakan Rumah
Pemasangan seismograf oleh BMKG di Situbondo ini memiliki misi penting dalam mitigasi bencana. Alat ini berfungsi untuk mengukur tingkat kerentanan tanah setelah terjadinya gempa bumi. Data yang terkumpul akan menjadi kunci dalam menganalisis fenomena kerusakan bangunan.
Ahli Madya BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan, Syawaldin Ridha, menjelaskan secara langsung, "Pemasangan alat ini untuk mengukur kerentanan tanah pascagempa, agar kami mengetahui apakah kerusakan bangunan rumah warga di desa ini karena tanahnya rentan atau struktur bangunannya yang tidak layak, sehingga tidak kuat menahan guncangan gempa."
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa hasil pengukuran akan memberikan jawaban krusial. Mereka akan mengetahui apakah kerusakan rumah disebabkan oleh kondisi tanah yang rentan. Atau, justru karena struktur bangunan yang tidak mampu menahan guncangan gempa di Situbondo.
Desa Sumberwaru menjadi lokasi prioritas pertama pemasangan alat sensor ini. Pasalnya, desa tersebut mencatat jumlah kerusakan rumah terbanyak, mencapai 60 unit. Ini menjadikannya titik fokus awal investigasi BMKG untuk memahami dampak gempa.
Metode Investigasi dan Perbandingan Data Kerentanan Tanah
Proses pemasangan seismograf dan pengukuran kerentanan tanah akan berlanjut ke desa-desa lain. BMKG akan melakukan deteksi secara bergiliran di lokasi terdampak gempa lainnya. Setiap lokasi membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mendeteksi kerentanan tanah pascagempa.
Setelah data dari Desa Sumberwaru terkumpul, tim BMKG akan bergerak ke lokasi berikutnya. Mereka juga berencana melakukan pengukuran di area yang tidak terdampak gempa. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan data perbandingan yang akurat mengenai kondisi tanah.
Dengan adanya data perbandingan ini, BMKG dapat menyusun kesimpulan komprehensif. Syawaldin Ridha menambahkan, "Setelah mendapatkan perbandingan itulah, BMKG nantinya akan membuat kesimpulan penyebab rumah rusak pascagempa. Apakah karena kerasnya guncangan atau bangunan yang tidak standar, atau struktur tanah."
Dampak Gempa M 5,4 di Situbondo dan Upaya Penanganan
Gempa bumi yang melanda Situbondo pada Kamis (25/9) awalnya dilaporkan bermagnitudo 5,7. Namun, BMKG kemudian memutakhirkan data menjadi magnitudo 5,4. Meskipun tidak memicu tsunami, dampak kerusakan yang ditimbulkan cukup signifikan bagi warga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo mencatat total 99 rumah terdampak gempa. Kerusakan ini tersebar di empat desa di Kecamatan Banyuputih. Desa-desa tersebut meliputi Sumberwaru, Wonorejo, Sumberejo, dan Sumberanyar.
Rincian kerusakan menunjukkan Desa Sumberwaru paling parah dengan 60 rumah rusak. Disusul Sumberanyar dengan 16 rumah, Wonorejo 19 rumah, dan Sumberejo 4 rumah. Tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari ringan, sedang, hingga berat, yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Sumber: AntaraNews