Terobosan Medis: Metode ULC PCI Lindungi Ginjal Pasien Jantung
Metode Ultra Low-Contrast Percutaneous Coronary Intervention (ULC PCI) hadir sebagai solusi inovatif bagi pasien jantung dengan risiko gangguan ginjal, meminimalkan penggunaan zat kontras berbahaya.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan kardiologi intervensi, dr. Arwin Saleh Mangkuanom, Sp.JP (K), FIHA, menyampaikan pengembangan metode Ultra Low-Contrast Percutaneous Coronary Intervention (ULC PCI). Inovasi medis ini dirancang khusus untuk membantu pasien jantung yang juga menghadapi risiko gangguan ginjal. Pengembangan metode ini menjadi harapan baru bagi banyak individu yang membutuhkan tindakan intervensi jantung.
Prosedur ULC PCI bertujuan untuk membuka pembuluh darah jantung yang tersumbat, sebuah tindakan krusial untuk menyelamatkan nyawa. Namun, bagi pasien dengan gangguan ginjal, penggunaan zat kontras dalam prosedur konvensional dapat memperburuk kondisi organ vital tersebut. Zat kontras adalah cairan khusus yang disuntikkan selama prosedur radiologi untuk visualisasi.
Secara global, sekitar satu dari tiga pasien penyakit jantung juga menderita gangguan ginjal, menurut dr. Arwin. Penggunaan zat kontras dalam jumlah besar pada pasien dengan laju penyaringan ginjal rendah (eGFR di bawah 30) memiliki risiko tinggi. Oleh karena itu, ULC PCI hadir sebagai solusi untuk meminimalkan paparan zat kontras berbahaya.
Tantangan Penggunaan Zat Kontras pada Pasien Ginjal
Dalam prosedur PCI konvensional, dokter seringkali membutuhkan zat kontras dalam jumlah besar, bahkan hingga 100 cc, untuk memantau kondisi pembuluh darah secara efektif. Zat kontras ini berperan penting dalam memberikan gambaran visual yang jelas selama intervensi. Namun, jumlah tersebut menjadi masalah serius bagi pasien dengan fungsi ginjal yang terganggu.
Bagi pasien yang memiliki gangguan fungsi ginjal berat, penggunaan zat kontras idealnya tidak boleh melebihi 30 cc. Batasan ini sangat penting untuk mencegah beban kerja berlebihan pada ginjal yang sudah lemah. Penyesuaian jumlah kontras harus disesuaikan dengan nilai eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate) masing-masing pasien.
Dr. Arwin menegaskan bahwa risiko komplikasi ginjal meningkat signifikan jika batas aman ini terlampaui. “Jika zat kontras diberikan dalam jumlah besar pada pasien dengan laju penyaringan ginjal yang rendah (eGFR di bawah 30), hal ini berisiko tinggi,” ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi pengembangan metode alternatif yang lebih aman.
Inovasi Teknologi IVUS dalam ULC PCI
Kunci utama keberhasilan metode ULC PCI terletak pada pemanfaatan teknologi Intravascular Ultrasound (IVUS). IVUS adalah teknik pencitraan canggih yang menggunakan gelombang suara untuk melihat kondisi bagian dalam pembuluh darah secara real-time. Teknologi ini memberikan gambaran detail yang tidak bisa didapatkan dari metode radiologi biasa.
Dengan bantuan IVUS, dokter dapat memandu kawat dan balon kateter menuju area penyumbatan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi, mencapai 99,99 persen. Kemampuan ini mengurangi ketergantungan pada gambaran radiologi yang memerlukan zat kontras. Penggunaan IVUS secara efektif membutuhkan keahlian dan pengalaman khusus dari tim medis.
“IVUS memberikan detail struktur pembuluh darah dari dalam, jadi kita bisa bekerja dengan sangat akurat,” jelas dr. Arwin. Ia menambahkan bahwa zat kontras hanya digunakan pada tahap akhir prosedur ULC PCI. “Penggunaan kontras hanya dilakukan di tahap akhir dengan jumlah yang sangat rendah (ultra low contrast) untuk memastikan hasil akhir tindakan,” tambahnya, memastikan keamanan pasien.
Kriteria Pasien yang Membutuhkan ULC PCI
Meskipun ULC PCI menawarkan banyak keuntungan, prosedur ini tidak direkomendasikan untuk semua pasien. Teknik ini sangat dianjurkan bagi individu dengan risiko tinggi terhadap efek samping zat kontras. Penilaian risiko dilakukan secara menyeluruh sebelum tindakan.
Beberapa kategori pasien yang sangat diuntungkan dari ULC PCI meliputi:
- Pasien dengan penurunan fungsi ginjal, seperti eGFR kurang dari 30 atau riwayat penyakit ginjal kronis (CKD).
- Pasien yang pernah mengalami gagal ginjal akibat kondisi kritis, termasuk infeksi berat, syok, atau komplikasi pasca-COVID-19.
- Pasien dengan pembuluh darah koroner yang robek, baik karena serangan jantung maupun komplikasi dari prosedur kateterisasi sebelumnya.
- Pasien dengan syok kardiogenik atau gangguan berat pada fungsi pompa jantung.
- Pasien dengan hasil skrining risiko tinggi berdasarkan Mehran Score, yang mengindikasikan potensi kerusakan ginjal signifikan akibat kontras.
“Tujuan utama kami adalah melindungi fungsi ginjal tanpa menurunkan efektivitas pengobatan jantung,” tegas dr. Arwin. Setiap pasien akan menjalani pemeriksaan laboratorium dan penilaian risiko yang komprehensif sebelum prosedur ULC PCI dilakukan.
Masa Depan ULC PCI di Indonesia
Saat ini, metode ULC PCI masih belum banyak diterapkan secara luas di Indonesia. Namun, dr. Arwin Saleh Mangkuanom, yang aktif mengembangkan berbagai teknik modifikasi ULC PCI, menyoroti peran Siloam Hospitals TB Simatupang sebagai salah satu pelopor. Rumah sakit ini telah menunjukkan komitmen dalam mengadopsi inovasi medis terkini.
Kebutuhan akan ULC PCI diperkirakan akan terus meningkat seiring waktu. Hal ini mengingat intervensi jantung masih mengandalkan sinar-X dan belum ada terapi yang dapat menyembuhkan penyakit ginjal kronis secara total. Oleh karena itu, pengembangan dan penyebarluasan teknik ini menjadi sangat relevan.
“Harapannya, di masa mendatang akan ada konsensus nasional agar praktik ini bisa diterapkan secara lebih luas dan terstandar,” ujar dr. Arwin. Konsensus nasional akan memastikan bahwa lebih banyak pasien di seluruh Indonesia dapat merasakan manfaat dari prosedur ULC PCI yang aman dan efektif.
Sumber: AntaraNews