Terancam Punah, Peneliti Wageningen University Terpukau Bekantan Pulau Curiak: Apa yang Membuatnya Istimewa?
Peneliti Wageningen University, Dr. Corina van Middelaar, takjub dengan kehidupan Bekantan Pulau Curiak yang terancam punah. Simak detail kunjungannya dan upaya konservasi satwa endemik ini!
Dr. Corina van Middelaar, seorang peneliti terkemuka dari Wageningen University & Research (WUR) Belanda, baru-baru ini melakukan kunjungan istimewa ke Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kedatangannya bertujuan untuk mempelajari lebih dekat kehidupan bekantan di habitat alami mereka. Pulau Curiak merupakan area di luar kawasan konservasi yang dikelola oleh Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).
Didampingi oleh Founder SBI Foundation, Dr. Amalia Rezeki, serta tim SBI, Corina menyusuri kawasan hijau Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak. Ia menyatakan kekagumannya yang mendalam terhadap bekantan, terutama saat melihat monyet berhidung panjang ini melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Pengalaman ini memberikan kesan yang luar biasa bagi peneliti dari negeri kincir angin tersebut.
Kunjungan ini tidak hanya menjadi momen observasi bagi Corina, tetapi juga kesempatan untuk memahami upaya konservasi yang dilakukan SBI. Bekantan sendiri adalah monyet endemik Kalimantan yang statusnya terancam punah (Endangered Species) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Corina berharap kerja sama riset dan konservasi dapat terjalin di masa mendatang.
Kekaguman pada Bekantan, Monyet Endemik yang Memukau
Corina van Middelaar, yang memiliki keahlian dalam sistem produksi hewan dan analisis lingkungan, tidak dapat menyembunyikan kekagumannya saat pertama kali melihat bekantan di alam liar. Ia secara spesifik terkesan dengan bekantan jantan yang berukuran paling besar dan kuat. Suara khas bekantan pejantan alpha dari kelompok Bravo yang berkumpul di Menara Pantau bahkan berhasil mengejutkan Corina.
Bekantan, atau Nasalis larvatus, adalah primata unik dengan ciri khas hidung panjangnya yang menonjol, terutama pada jantan dewasa. Mereka adalah monyet besar dari dunia lama yang hanya dapat ditemukan di pulau Kalimantan. Keberadaan mereka di Pulau Curiak, di tengah suasana alami hutan mangrove rambai, menambah pesona tersendiri bagi peneliti asing ini.
Status konservasi bekantan yang masuk dalam daftar merah IUCN sebagai spesies terancam punah menjadi perhatian utama. Hal ini menunjukkan urgensi upaya pelestarian yang terus-menerus. Kekaguman Corina terhadap bekantan menegaskan betapa pentingnya menjaga kelangsungan hidup satwa endemik yang sangat istimewa ini.
Peran Konservasi dan Restorasi Mangrove di Pulau Curiak
Selama kunjungannya, Dr. Corina van Middelaar tidak hanya mengamati bekantan, tetapi juga mempelajari program restorasi mangrove rambai yang digagas oleh SBI. Program ini merupakan inisiatif penting yang melibatkan kerja sama erat dengan masyarakat lokal di sekitar Pulau Curiak. Restorasi mangrove sangat vital untuk menjaga ekosistem pesisir yang menjadi habitat alami bekantan.
Corina bahkan turut serta dalam tradisi penanaman bibit pohon mangrove rambai, sebuah kegiatan rutin bagi wisatawan minat khusus yang berkunjung ke Pulau Curiak. Kegiatan ini menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan pendidikan konservasi. Hutan mangrove rambai (Sonneratia caseolaris) juga berfungsi sebagai "greenbelt" atau area hijau penting bagi kelangsungan hidup satwa liar di sana.
Pulau Curiak, dengan pesona alamnya yang dihiasi suara kicauan beragam burung khas lahan basah, kini menjadi bagian dari situs Meratus UNESCO Global Geopark. Ini semakin memperkuat nilai konservasi dan potensi ekowisata di kawasan tersebut. Upaya SBI dalam menjaga ekosistem ini sangat diapresiasi, terutama oleh para ahli konservasi internasional.
Potensi Kolaborasi Internasional untuk Konservasi Bekantan
Kunjungan Corina ke Stasiun Riset Bekantan didampingi oleh mitranya dari Indonesia, Ir. Tri Satya Mastuti Widi, Ph.D., IPM., ASEAN Eng dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM). Tri Satya memiliki peran penting dalam memperkenalkan bekantan di Belanda melalui diskusi penelitian tentang bekantan di Pulau Curiak. Ini menunjukkan adanya jaringan kolaborasi ilmiah yang sudah terbangun.
Wageningen University & Research (WUR), tempat Corina mengabdi, adalah universitas riset negeri terkemuka di Belanda yang berspesialisasi dalam ilmu hayati dan sumber daya alam. WUR dikenal sebagai pusat riset global untuk ilmu pangan dan pertanian, serta memiliki peringkat teratas dunia dalam bidang tersebut. Keahlian Corina dan reputasi WUR membuka peluang besar untuk riset lebih lanjut.
Dr. Amalia Rezeki, yang juga seorang Biologist Conservation dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menyampaikan terima kasih atas kunjungan Corina. Ia sangat berharap komunikasi dan kerja sama di bidang riset maupun konservasi dapat terus terjalin di masa depan. Kolaborasi internasional semacam ini sangat krusial untuk memperkuat upaya pelestarian bekantan dan habitatnya.
Sumber: AntaraNews