TB Simatupang Lumpuh karena Proyek Pipa: Waktu Hilang, Kesabaran Terkikis
Indah (29) sudah tahu apa yang menunggunya, deretan kendaraan yang bergerak pelan, klakson yang bersahutan.
Setiap kali akan melintas di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan (Jaksel), Indah (29) sudah tahu apa yang menunggunya, deretan kendaraan yang bergerak pelan, klakson yang bersahutan, dan waktu yang terasa terbuang begitu saja.
Dari arah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Indah akan memacu motornya menuju tempat kerja yang berada di Jalan TB Simatupang dengan lewat jalur dalam kota alias non tol di Jalan Raya Bogor hingga Lenteng Agung.
"Dari dulu sudah sering lewat TB Simatupang, dari zaman kuliah 2013. Kalau mau ke kampus atau sekarang kerja, jalurnya ya itu-itu saja," kata Indah kepada Liputan6.com, Jumat (8/8/2025).
Adapun Jalan TB Simatupang membentang memutari sisi selatan kota, menghubungkan sejumlah kawasan penting seperti Pasar Minggu, Cilandak, Fatmawati, hingga Lenteng Agung, dan dikenal sebagai bagian dari ring road luar Jakarta.
Kemacetan di TB Simatupang bukan cerita baru. Bagi Indah, jalan itu memang terkenal 'horor' di jam berangkat dan pulang kerja, terlebih saat ini di kawasan itu ada proyek pemasangan pipa.
"Naik motor aja bisa lama banget, apalagi naik angkot. Dulu belum ada galian pipa saja udah macet. Sekarang ada galian, ya siap-siap bawa sabar lebih banyak. Kalau tidak, yang ada cuma emosi," ucap dia.
Sejak proyek pemasangan pipa berjalan, waktu tempuh Indah yang seorang karyawan swasta ini bertambah drastis. "Biasanya 40 menit, sekarang sejam lebih banyak," keluhnya.
Sayangnya, ia tak punya pilihan jalur lain yang harus ditempuh untuk pergi dan pulang kantor.
"Mau enggak mau harus lewat situ. Ganggu banget, karena waktu ke buang banyak," ucap Indah.
Informasi soal proyek pun, menurut Indah sangat minim. Proyek galian di kawasan TB Simatupang juga disebut Indah tidak jelas.
"Dari dulu ada penggalian di sana enggak pernah jelas. Di angkot isinya orang-orang ngeluh, nanya ini galian apalagi," kata Indah.
Meski pun ada petugas yang berjaga di lapangan, Ia mengaku kemacetan di kawasan itu tetap saja semrawut, bahkan ada pengendara yang disebut Indah terkadang nekat lawan arah.
Selain Indah, ada pula Ibrahim (29), Pegawai Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) yang juga merasakan hal serupa. Setiap hari ia keluar dari tol Jatiwarna menuju Pasar Minggu.
Titik macet yang ia hadapi berada di sekitar pintu keluar Pasar Minggu, namun situasi makin parah setelah ada pemasangan pipa di depan pintu tol Lenteng Agung.
"Biasanya 15 menit, sekarang bisa hampir satu jam," ujar Ibrahim.
Bagi Ibrahim, kemacetan yang Ia hadapi setiap kali harus mengendarai mobilnya di kawasan TB Simatupang bukan sekadar menguji kesabaran, tapi juga menguras waktu dan tenaga.
"Sangat mengganggu. Makanya saya sampai cari jalur alternatif," tuturnya.
Sama seperti Indah, Ibrahim juga mengeluhkan kurangnya pemberitahuan resmi tentang proyek tersebut.
"Tidak jelas, tidak ada pengumuman. Tahu-tahu macetnya makin parah,” kata Ibrahim.
Harapan Ibrahim juga tidak muluk-muluk. Dia berharap, agar proyek segera selesai, dan jalan kembali seperti semula, bahkan, kalau bisa lebih baik tanpa macet.
Di balik suara mesin yang meraung dan panas terik yang memantul dari aspal, kisah Indah dan Ibrahim adalah potret kecil dari ribuan pengguna jalan yang setiap hari terjebak di TB Simatupang.
Mereka tidak hanya berhadapan dengan wajah macet ibu kota, tapi juga dengan ketidakpastian kapan perjalanan yang semestinya singkat bisa kembali lancar.