Sahrul Sulaiman Raih Emas Judo APG 2026, Bukti Ketangguhan Atlet Indonesia
Atlet para judo asal Medan, Sahrul Sulaiman, berhasil menggetarkan matras ASEAN Para Games (APG) 2026 Thailand dengan meraih medali emas. Kemenangan Sahrul Sulaiman ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak.
Matras judo di Convention Hall, The Mall Korat, Thailand, bergetar hebat pada Kamis, 22 Januari 2026, ketika bantingan Sahrul Sulaiman berbuah ippon. Aksi gemilang ini sukses mengunci medali emas dalam pertandingan final nomor J1/J2 -81 kilogram (kg) ASEAN Para Games (APG) 2026 Thailand.
Atlet para judo asal Kota Medan, Sumatera Utara, ini kembali menorehkan prestasi emas untuk Indonesia di kancah internasional. Kemenangan ini bukan hanya sekadar angka di papan poin, melainkan memiliki makna personal yang mendalam, yakni keluarga.
Pada usia 35 tahun, Sahrul Sulaiman datang ke Thailand membawa lebih dari sekadar ambisi juara. Ia membawa doa istri, tawa tiga anak, serta tanggung jawab sebagai anak tertua dari empat bersaudara, menjadikannya motivasi utama dalam setiap perjuangan di matras.
Keluarga Motivasi Utama Sahrul Sulaiman
Bagi Sahrul, kemenangan emas di APG 2026 berakar dari rumah dan dukungan keluarga tercinta. Istri dan anak-anaknya menjadi pengingat tujuan hidup, sementara orang tua adalah sumber restu yang tak pernah putus. Adik bungsunya yang masih menimba ilmu di pondok pesantren turut menambah tanggung jawab yang harus ia jaga.
Sebagai anak tertua, Sahrul terbiasa memikul beban dan membuka jalan bagi adik-adiknya. Yang paling menguatkan adalah si bungsu yang belum genap setahun, menjadi alasan utama di balik setiap latihan disiplin dan diet konsisten yang dijalaninya. Ia ingin pulang membawa kado yang tak lekang oleh waktu bagi keluarganya.
“Karena mau di rantau atau di mana pun, kalau masih punya keluarga pasti akan berpulang lagi ke keluarga,” kata Sahrul dengan penuh haru. Saat kabar emas itu sampai ke rumah, air mata bahagia pecah, menandai berakhirnya penantian panjang sang istri.
Tantangan Berat di Matras APG 2026
Komposisi peserta di nomor ini sangat menantang, dengan lima judoka yang masing-masing membawa gaya dan strategi berbeda. Para pejuang dari berbagai negara telah bersiap untuk unjuk gigi, menghadapi final dengan format round robin.
Namun, laga yang paling menguras perasaan justru datang dari rekan senegara, Azis Rizal Saepul, di pertandingan pertama. Mereka kerap berlatih bersama, sehingga saling mengenal pola, teknik, dan kekuatan satu sama lain. Pertandingan ini berubah menjadi duel mental yang sengit.
Setelah melewati ujian sesama atlet Merah Putih, Sahrul melanjutkan langkahnya dengan tenang. Ia menaklukkan Al Jaed Pacheco dari Filipina, lalu tampil dominan atas Phayaksa Adithep dari Thailand dengan ippon. Di pertandingan terakhir, wakil tuan rumah, Chaisin Kittikai, kembali ditundukkan dengan ippon.
Rangkaian kemenangan tersebut menunjukkan kesiapan teknik dan kematangan taktik yang telah diasah jauh hari. Kunci keberhasilan Sahrul terletak pada kontrol ritme, ia tahu kapan harus menunggu dan kapan harus menekan lawan. Kekuatan adalah modal utama, namun kesabaran membuatnya sangat efektif di matras.
Membidik Asian Para Games 2026 dan Harapan Pemberdayaan
Selepas APG 2026, Sahrul Sulaiman sudah memikirkan tantangan berikutnya: Asian Para Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang. Ajang ini akan berlangsung dari 18 hingga 24 Oktober 2026, menuntut intensitas persiapan yang lebih tinggi dibandingkan level Asia Tenggara. Berbagai program berat harus dijalani di pemusatan latihan nasional (pelatnas) tim para judo Indonesia.
Latihan kekuatan dipadukan dengan pengaturan tempo menjadi krusial agar fisik yang tak lagi muda mampu mengimbangi lawan-lawan tangguh di Asia. Melalui pengalaman, disiplin, dan fondasi keluarga yang kokoh, Sahrul siap melangkah mantap. Emas di APG 2026 bukan garis akhir, melainkan penanda bahwa jalur yang ia pilih masih tepat.
Setelah medali emas digenggam, Sahrul menyimpan satu harapan besar kepada Pemerintah Indonesia, yaitu ingin diberdayakan. Harapan ini mencerminkan keinginan banyak atlet disabilitas untuk mendapatkan kesempatan mencari nafkah di masa tua setelah mendedikasikan hidupnya untuk prestasi bangsa. Bukan tentang uang, tetapi kesempatan bekerja untuk menafkahi keluarga, melanjutkan hidup, dan merajut kisah berikutnya.
Sumber: AntaraNews