Prabowo Pernah Kalah Pilpres Tiga Kali: Tidak Boleh Sakit Hati, Dendam dan Benci
Prabowo lebih dulu mengingat soal istilah jika pipi kiri ditempeleng atau dihajar orang, maka harus kasih pipi yang sebelah kanan.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan dirinya tidak menyimpan kebencian, sakit hati, maupun dendam meski beberapa kali mengalami kekalahan dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres).
Hal ini disampaikan Prabowo dalam sambutannya pada perayaan Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (5/1) malam.
Awalnya, Prabowo lebih dulu mengingat soal istilah jika pipi kiri ditempeleng atau dihajar orang, maka harus kasih pipi yang sebelah kanan.
"Betul ya? Betul, karena waktu kecil saya sekolah Kristen juga saya itu. Jangan-jangan saya ngerti cerita-cerita di Bible lebih dari saudara-saudara itu jangan-jangan. Benar kan ajaran Nasrani?," kata Prabowo dalam sambutannya.
"Kalau ditempeleng pipi kiri harus kasih pipi kanan, harus memaafkan, kan begitu kan? Forgive those that trespass against us, bener enggak?," sambungnya.
Persaingan Sangat Ketat
Prabowo mengungkapkan, jika dirinya selalu ingin mencari kebaikan daripada ketidakbaikan. Karena, ia ingin mencari persatuan daripada perpecahan.
"Kalau masuk ke dalam kancah politik pasti persaingan sangat ketat. Keras, ketat, dan tidak ada masalah. Masuk lapangan bola pun persaingan sangat keras, mana ada orang yang mau kalah. Bener? Iya kan?," ungkapnya.
"Waktu kita kalah sepak bola saja sedihnya bukan main. Aku kalah pilpres berapa kali itu, sudah lupa. Tapi tidak ada masalah. Tidak boleh kita sakit hati, tidak boleh dendam, tidak boleh benci. Dan itu saya, saya berusaha untuk teguh pada pendirian itu," tambahnya.
Belajar Bela Diri dan Jangan Jadi Pembenci
Dalam kesempatan itu, Prabowo pun mengaku, kerap belajar bela diri semasa mudanya. Hal ini karena dirinya tidak ingin kalah jika berkelahi.
"Waktu muda, waktu muda di Jakarta sebagai anak muda, kita selalu mau belajar bela diri. Kenapa? Kita tidak mau kalah kalau kita berkelahi. Jadi saya cari guru ke mana-mana, dan semua guru temu," paparnya.
"Yang hebat silatnya itu selalu mengajarkan: 'Prabowo kamu harus berani, tapi jangan dendam dan jangan benci'. Dan ini saya kira ajaran semua agama kita ya," sambungnya.
Bahkan, beberapa saudaranya pun ada yang marah dengan dirinya.
"Jadi saya kadang-kadang kalau di keluarga saya beberapa saudara saya malah apa itu suka marah sama saya: 'Bowo kamu kenapa selalu dia dulu begini-begini-in kamu?'. Saya bilang itu kan dulu, sekarang keadaannya harus bersatu, harus bekerja sama," katanya.