PM Li Qiang Ungkap Strategi China Atasi Gejolak Ekonomi 2025
Perdana Menteri Li Qiang membeberkan langkah-langkah strategis China dalam menghadapi dan mengatasi berbagai gejolak ekonomi sepanjang tahun 2025, menegaskan ketahanan pertumbuhan negaranya.
Perdana Menteri China Li Qiang mengakui bahwa tahun 2025 menjadi periode penuh tantangan bagi perekonomian negaranya, ditandai oleh serangkaian gejolak baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah China telah mengambil berbagai langkah proaktif untuk menstabilkan situasi dan menjaga momentum pertumbuhan. Pengakuan ini disampaikan PM Li Qiang dalam Sidang Kongres Rakyat Nasional China (NPC) di Balai Agung Rakyat, Beijing, pada Kamis (5/3/2026).
Dalam laporan kerja pemerintah periode 2025 dan target kinerja 2026, PM Li Qiang menjelaskan bahwa persiapan matang telah dilakukan sejak awal tahun lalu untuk menghadapi skenario yang kompleks dan bergejolak. Strategi ini membuahkan hasil, menempatkan perekonomian China dalam posisi yang kuat dengan membangun momentum signifikan pada kuartal pertama 2025. Pertumbuhan ekonomi China pada 2025 tercatat mencapai 5 persen, sama dengan capaian tahun sebelumnya, dengan total PDB mencapai 140,18 triliun RMB atau setara 20,05 triliun dolar AS.
Li Qiang secara gamblang menyebut tahun 2025 sebagai tahun yang "benar-benar luar biasa" karena jarang sekali menghadapi situasi seberat dan sekompleks itu. Guncangan dan tantangan eksternal saling terkait dengan kesulitan domestik, menuntut pilihan kebijakan yang sulit dari pemerintah. Pemerintah China terus berupaya keras untuk memastikan stabilitas ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya di tengah dinamika global yang berubah cepat.
Tantangan Ekonomi Global dan Domestik China
Secara eksternal, dunia sedang mengalami perubahan, gejolak, dan ketidakstabilan yang semakin meningkat. Perdana Menteri Li Qiang menyoroti peningkatan unilateralisme dan proteksionisme yang mengancam tatanan perdagangan global. Isu-isu ekonomi dan perdagangan semakin dipolitisasi, dibayangi oleh perluasan konsep keamanan nasional secara berlebihan, serta kemunduran serius multilateralisme dan perdagangan bebas.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi global kekurangan momentum, sementara hegemoni dan politik kekuatan menimbulkan ancaman yang semakin besar. Risiko geopolitik juga meningkat karena beberapa konflik regional berkepanjangan, menghadirkan tantangan serius terhadap tatanan ekonomi dan perdagangan internasional. Sejak kuartal kedua 2025, pemerintah China telah menerapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas lapangan kerja dan ekonomi, khususnya untuk mengatasi dampak kenaikan tarif Amerika Serikat.
Di dalam negeri, China juga menghadapi berbagai masalah kompleks. Ketidakseimbangan antara pasokan barang yang kuat dan permintaan domestik yang lemah menjadi perhatian utama. Investasi di sektor properti terus menurun, pertumbuhan investasi infrastruktur masuk ke angka negatif, dan investasi di sektor manufaktur melambat, sehingga investasi secara keseluruhan menghadapi tekanan penurunan yang semakin besar.
Pertumbuhan konsumsi masih lemah dan harga berada pada tingkat yang relatif rendah. Beberapa perusahaan menghadapi kesulitan yang semakin besar dalam produksi dan operasional, sementara persaingan yang tidak sehat masih menjadi masalah yang menonjol dan ekspektasi pasar masih lemah. Selain itu, industri baru belum matang, penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan menghadapi kesulitan, serta pengurangan emisi karbon dan polusi juga sangat menantang.
Langkah Strategis Pemerintah China Hadapi Gejolak
Menghadapi situasi yang kompleks ini, PM Li Qiang meyakinkan bahwa pemerintah China telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mempersiapkan diri. Fokus utama adalah menjaga stabilitas lapangan kerja dan ekonomi, terutama dalam merespons dampak eksternal seperti kenaikan tarif. Langkah-langkah ini telah membantu perekonomian China membangun momentum yang kuat pada kuartal pertama 2025.
Pemerintah daerah juga menghadapi ketidakseimbangan anggaran yang cukup serius, yang menambah kesulitan dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial sekaligus menyelesaikan masalah utang. Pasar properti masih dalam proses penyesuaian, sehingga risiko dan potensi bahaya masih ada di sejumlah bidang utama. Untuk mengatasi ini, pemerintah pusat terus berupaya mencari solusi komprehensif dan berkelanjutan.
Meskipun demikian, Li Qiang menegaskan bahwa kondisi serta tren dasar pertumbuhan ekonomi jangka panjang China tidak berubah. Ketahanan pembangunan China sebagai negara besar akan semakin kuat, didukung oleh berbagai terobosan revolusi teknologi dan transformasi industri. China telah membangun keunggulan di sejumlah bidang yang strategis.
Prospek dan Keunggulan Ekonomi China di Tengah Ketidakpastian
Li Qiang optimistis bahwa China memiliki banyak faktor positif yang memungkinkan terciptanya lingkungan kondusif serta perluasan kerja sama ekonomi dan perdagangan. Dengan semakin besarnya kekurangan dalam tata kelola global, permintaan terhadap barang publik yang disediakan China juga semakin meningkat. Ini menunjukkan peran China yang semakin sentral dalam ekonomi global.
Dalam hal sumber daya manusia, China memiliki keunggulan signifikan dengan lebih dari 80 juta tenaga profesional khusus dan lebih dari 10 juta personel penelitian dan pengembangan (R&D). Setiap tahun, China juga menghasilkan lebih dari 5 juta lulusan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), menjamin pasokan talenta yang berkelanjutan untuk inovasi dan pertumbuhan.
Pemerintah pusat China telah menetapkan target-target makroekonomi yang realistis untuk tahun mendatang, termasuk tingkat pengangguran perkotaan sekitar 5,5 persen. Target ini mempertimbangkan tingkat ketenagakerjaan China secara keseluruhan serta tekanan struktural yang cukup besar. Kenaikan Indeks Harga Konsumen (CPI) dipatok sekitar 2 persen, yang dianggap layak untuk mengarahkan ekspektasi baik bagi produsen maupun konsumen.
Selain itu, pemerintah juga menetapkan target penurunan emisi karbon dioksida per unit PDB sekitar 3,8 persen. Komitmen ini menunjukkan keseriusan China dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sambil tetap mendorong pembangunan ekonomi. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Sumber: AntaraNews