Pj Gubernur Teguh Setyabudi Serukan Aksi Bersama untuk Penanganan Banjir Jakarta
Pj Gubernur Teguh Setyabudi Hartono mendesak tindakan terkoordinasi untuk Penanganan Banjir Jakarta, menggabungkan solusi jangka pendek, menengah, dan panjang di tengah curah hujan ekstrem yang melanda ibu kota, demi mencegah bencana berulang.
Jakarta kembali dilanda banjir parah sejak Jumat, 23 Januari, hingga Sabtu pagi, 24 Januari 2026, akibat curah hujan yang tak henti-hentinya dan luapan sungai. Kondisi ini memicu respons cepat dari pemerintah provinsi. Pj Gubernur DKI Jakarta, Teguh Setyabudi, menyerukan perlunya langkah-langkah terkoordinasi dan bertahap untuk mengatasi masalah banjir yang kerap melanda ibu kota.
Teguh Setyabudi menekankan bahwa tanpa tindakan kolektif, persoalan banjir akan terus berulang setiap tahunnya. Ia mengajak pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat untuk bekerja sama menjaga lingkungan. Hujan ekstrem dengan rata-rata 200 milimeter per hari, bahkan mencapai 260 milimeter di beberapa wilayah, menjadi pemicu utama banjir kali ini.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memetakan rencana mitigasi banjir yang mencakup solusi jangka pendek, menengah, dan panjang. Langkah-langkah ini dirancang untuk memperkuat ketahanan kota terhadap pola cuaca yang semakin ekstrem. Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko dan dampak banjir di masa mendatang.
Upaya Terkoordinasi Hadapi Curah Hujan Ekstrem
Pj Gubernur Teguh Setyabudi menegaskan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam Penanganan Banjir Jakarta. Menurutnya, masalah banjir tidak dapat diatasi hanya oleh satu pihak saja. “Tanpa tindakan kolektif, banjir bisa kembali. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk melindungi lingkungan,” kata Teguh kepada wartawan di Jakarta pada hari Sabtu.
Ia menjelaskan bahwa penyumbatan sungai akibat sampah telah menurun drastis, mengindikasikan kesadaran masyarakat yang meningkat. Namun, banjir terbaru ini disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang mencapai rata-rata 200 milimeter per hari, bahkan hingga 260 milimeter di beberapa area. Data ini menunjukkan bahwa faktor cuaca menjadi dominan dalam insiden banjir kali ini.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyusun rencana mitigasi banjir yang komprehensif. Rencana ini mencakup strategi jangka pendek, menengah, dan panjang untuk memperkuat ketahanan kota. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap pola cuaca yang semakin tidak menentu dan intensitas hujan yang tinggi.
Strategi Jangka Pendek dan Panjang untuk Penanganan Banjir Jakarta
Dalam upaya Penanganan Banjir Jakarta, Pj Gubernur Teguh Setyabudi memaparkan sejumlah strategi yang akan diterapkan. Upaya jangka menengah dan panjang meliputi normalisasi tiga sungai utama: Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama. Normalisasi ini bertujuan untuk meningkatkan aliran air dan mengurangi risiko luapan sungai yang seringkali menjadi penyebab utama genangan.
Sementara itu, langkah-langkah jangka pendek yang telah dan akan terus dilakukan mencakup operasi modifikasi cuaca. Selain itu, pembersihan drainase secara intensif juga terus digalakkan untuk memastikan saluran air berfungsi optimal. Pemerintah juga gencar mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah ke saluran air, sebuah kebiasaan yang dapat memperparah kondisi banjir.
Menyikapi kondisi darurat akibat hujan ekstrem, kebijakan bekerja dari rumah (WFH) dan belajar dari rumah (SFH) telah disetujui. “Karena curah hujan ekstrem, kami telah menyetujui kebijakan bekerja dari rumah dan sekolah dari rumah, dan surat edaran telah dikeluarkan oleh dinas pendidikan dan ketenagakerjaan,” ujar Teguh. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi risiko keselamatan warga dan kemacetan lalu lintas.
Dampak dan Antisipasi Lanjutan Banjir di Ibu Kota
Banjir yang melanda Jakarta sejak Jumat, 23 Januari, hingga Sabtu pagi, 24 Januari 2026, telah menyebabkan dampak signifikan di berbagai wilayah. Antara 125 hingga 143 rukun tetangga (RT) di Jakarta Selatan, Barat, Timur, Utara, dan Pusat terdampak. Ketinggian air mencapai sekitar 1,2 meter di beberapa area, menenggelamkan jalan-jalan utama dan mengganggu layanan transportasi.
Kondisi ini juga menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah di banyak titik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengimbau warga untuk tetap bekerja dan belajar dari rumah setidaknya hingga 27 Januari 2026. Imbauan ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan mengurangi kepadatan jalan.
Tim kepolisian dan Search and Rescue (SAR) telah dikerahkan untuk mengatur lalu lintas, mengevakuasi warga, dan mengamankan lingkungan yang terdampak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan curah hujan tinggi akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan, meningkatkan risiko genangan lebih lanjut dan luapan sungai tambahan. Situasi ini menuntut kesiapsiagaan dan respons berkelanjutan dari seluruh pihak.
Sumber: AntaraNews