Penjelasan Peneliti BRIN Soal Dentuman Disertai Bola Api Diduga Meteor Jatuh di Cirebon
Berdasarkan analisis BRIN, meteor itu diperkirakan jatuh di Laut Jawa, jauh dari permukiman penduduk.
Sejumlah warga melaporkan melihat bola api melintas cepat sebelum menghilang di kejauhan, serta mendengar suara dentuman keras diduga meteor di Cirebon, Jawa Barat, Minggu (5/10) malam.
Profesor Thomas Djamaluddin, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa BRIN memastikan bahwa cahaya dan dentuman yang terlihat di langit Cirebon adalah meteor. Thomas menyimpulkan bahwa ini merupakan meteor berukuran cukup besar yang melintas.
Menurut Thomas, meteor tersebut tidak jatuh di darat seperti yang banyak dispekulasikan warga. Berdasarkan analisis BRIN, meteor itu diperkirakan jatuh di Laut Jawa, jauh dari permukiman penduduk.
Suara dentuman keras yang didengar warga terjadi ketika meteor memasuki atmosfer Bumi yang lebih rendah. Pergerakan cepat ini menimbulkan gelombang kejut yang menghasilkan suara dentuman, bahkan sempat terdeteksi oleh BMKG Cirebon.
Kesimpulan BRIN ini didasarkan pada analisis komprehensif dari berbagai sumber. Data tersebut mencakup kesaksian warga yang melihat bola api, rekaman CCTV sekitar pukul 18.35 WIB, serta data getaran yang tercatat
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Penjelasan BMKG
Kepala Tim Kerja Prakiraan, Data, dan Informasi BMKG Kertajati Muhammad Syifaul Fuad mengatakan, dari sisi meteorologi, suara dentuman dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti sambaran petir, aktivitas gempa bumi atau peristiwa longsor. Namun menurut Faul, kondisi cuaca di wilayah Cirebon dan sekitarnya saat kejadian dinyatakan cerah berawan.
“Biasanya suara ledakan atau getaran bisa muncul dari awan konvektif akibat sambaran petir. Berdasarkan citra satelit, tidak ada indikasi awan konvektif di sekitar wilayah Cirebon saat kejadian,” ujar Fuad di Cirebon, Minggu (5/10).
Fuad menegaskan hingga kini BMKG belum mencatat, adanya aktivitas cuaca ekstrem atau fenomena meteorologis yang signifikan di wilayah tersebut.
Selain itu, Fuad menyampaikan hasil pantauan pun belum menunjukkan adanya aktivitas getaran yang signifikan di wilayah Cirebon.
Pada dasarnya, Fuad mengatakan, fenomena yang berkaitan dengan meteor merupakan kewenangan lembaga yang membidangi antariksa.
Fuad menyebutkan BMKG tidak memiliki instrumen khusus, untuk mendeteksi pergerakan meteor atau benda langit.
“Terkait fenomena meteor atau benda antariksa merupakan kewenangan lembaga yang membidanginya seperti BRIN,” tutur Fuad, demikian dikutip dari Antara.
BMKG terus memantau perkembangan informasi dari berbagai sumber, termasuk laporan masyarakat, untuk memastikan fenomena yang terjadi di wilayah Cirebon tersebut.
Sementara dari data yang dihimpun, fenomena tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 WIB pada Minggu (5/10) di beberapa kecamatan di Cirebon bagian timur, terutama di kawasan Lemahabang.