Pendapatan Turun 60 Persen Gara-gara Bajaj, Driver Ojol Gerudug Balai Kota Solo
Meminta Wali Kota Solo Respati Ardi tegas dengan menerbitkan larangan operasional bajaj sebagai angkutan umum di Kota Solo.
Puluhan perwakilan komunitas ojek online (ojol) lintas aplikasi, Grab, Gojek, Maxim dan lainnya melakukan aksi demonstrasi di Balai Kota Solo, Kamis (22/1). Kedatangan mereka untuk memprotes keberadaan bajaj Maxride yang beroperasi di Solo meskipun belum lengkap izinnya.
Mereka juga meminta Wali Kota Solo Respati Ardi tegas dengan menerbitkan larangan operasional bajaj sebagai angkutan umum di Kota Solo.
Koordinator aksi yang juga Ketua Umum Garda (gabungan aksi driver roda dua) Solo Raya Ramadhan Bambang Wijanarko mengaku sudah mengirimkan surat untuk beraudensi dengan Wali Kota Respati Ardi.
"Yang pasti kita menanggapi dari surat yang sudah kita kirimkan ke mas wali 2 minggu lalu, tapi nggak ada respons. Alhamdulillah kemarin dari utusannya mas wali menghubungi kami untuk menarima aksi kami hari ini. Tuntutannya ya jelas, kita minta penerbitan larangan operasional roda tiga bajaj sebagai angkutan umum di Kota Solo," ujar Bambang.
Pendapatan driver turun 60 Persen
Bambang mengemukakan, keberadaan bajaj Maxride di Solo sangat mempengaruhi pendapatan para driver. Penurunan pendapatan bisa mencapai hingga 60%.
"Luar biasa turun, hampir 60%. Sekarang gini mas, kalau mereka keluar naik ojol Rp 8.000 satu orang, dia naik Maxride Rp 8.000 atau mungkin dibawah Rp 4.000 bisa 4 orang, 5 orang. Ini kasihan teman-teman ojol," keluhnya.
Para Driver
Lanjut Bambang, jika biasanya para driver bisa meraup pendapatan Rp80.000 hingga Rp 100.000 sebelum ada bajaj, namun setelah marak bajaj, pendapatan mereka turun drastis.
"Sekarang mau cari limapuluh saja susahnya setengah mati. Kita nggak menyalahkan customer, pasti cari yang paling murah kan. Cuma kalau dengan cara-cara seperti ini, mereka membajak tanpa izin dan sebagainya, Solo dibikin macet, ya kita nggak terima," tandasnya.
Meski melakukan aksi di depan Balai Kota Solo, namun mereka tidak ditemui orang nomor satu di Solo. Wali Kota Solo diketahui saat ini sedang melakukan kunjungan ke Thailand.
"Tadi dari stafnya mas wali, hari Sabtu kita akan dipertemukan. Hari Sabtu kita minta SK itu harus turun," tegasnya.
Bajaj di Solo
Bambang menambahkan, keberadaan bajaj di Solo saat ini sudah meresahkan para driver. Meskipun sudah dipasang rambu larangan oleh dinas terkait, namun nyatanya tidak diindahkan.
"Mau dipasang rambu seribu, mereka akan ngeyel. Kita ini menjaga marwah Kota Solo, marwah Wali Kota Solo. Karena pihak bajaj Maxride ini menganggap remeh kita. Bahkan dari awal kami sampaikan bahwa kalau memang mau beroperasi, monggo. Tapi izin harus ada," katanya.
Setelah berorasi dan menyampaikan tuntutan, para peserta aksi membubarkan diri dengan tertib.
“Mereka datang untuk menyampaikan protes soal keberadaan Maxride. Aspirasi mereka kami tampung,” ujar Sonny, Kamis (23/10).
Ia meminta agar sementara ini bajaj tidak berjalan dulu untuk mencegah terjadinya gesekan di lapangan antara ojol dan pengemudi bajaj Maxride.
Ia memastikan aplikasi Maxride sudah dimatikan sejak Sabtu (18/10) lalu. Dari hasil penelusuran DPRD, diketahui sudah ada 21 unit bajaj yang disewa pengemudi, sedangkan 400 unit lainnya sudah dipesan, sebagian besar oleh tukang becak.