Pemkab Banyuwangi Tingkatkan Keamanan Warga Melalui Program Bedah Rumah Retrofitting
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi gencar melaksanakan program bedah rumah retrofitting untuk warga prasejahtera, memastikan hunian yang lebih aman dan tahan gempa. Inisiatif ini bertujuan melindungi masyarakat dari risiko bencana alam.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus berupaya meningkatkan kualitas hidup dan keamanan warganya, khususnya bagi masyarakat prasejahtera. Salah satu program unggulan yang digalakkan adalah bedah rumah dengan teknik retrofitting, sebuah metode pembangunan yang memperkuat struktur rumah agar lebih tahan terhadap guncangan gempa. Program ini merupakan langkah preventif penting dalam mitigasi bencana di wilayah rawan gempa.
Inisiatif strategis ini tidak hanya fokus pada perbaikan fisik rumah, tetapi juga memastikan aspek kesehatan dan kelayakan huni bagi penghuninya. Kerjasama erat antara Pemkab Banyuwangi dan Palang Merah Indonesia (PMI) setempat menjadi kunci sukses dalam pelaksanaan program bedah rumah retrofitting ini. Upaya kolaboratif ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, secara resmi meresmikan salah satu hasil program bedah rumah retrofitting di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Peresmian ini menandai komitmen Pemkab Banyuwangi untuk terus memperluas jangkauan program demi keselamatan dan kesejahteraan warga. Program ini telah berjalan sejak tahun 2021 dan akan terus dikembangkan secara bertahap.
Membangun Ketahanan Bencana Melalui Retrofitting
Metode retrofitting dalam program bedah rumah ini dirancang khusus untuk meningkatkan kekuatan struktural bangunan, menjadikannya lebih resisten terhadap dampak gempa bumi. Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa program ini adalah upaya preventif yang krusial untuk perlindungan warga. "Program bedah rumah retrofitting ini adalah upaya preventif untuk perlindungan warga, dan korban jiwa bisa dihindari," kata Bupati Ipuk.
Lebih dari sekadar mitigasi bencana, pembangunan rumah tahan goncangan gempa ini juga berfokus pada peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh. Selain aspek keamanan, Pemkab Banyuwangi juga memperhatikan standar kesehatan penghuni. Hal ini mencakup sanitasi yang baik, sirkulasi udara yang memadai, serta ketersediaan air bersih di setiap rumah yang direnovasi.
Ipuk menambahkan bahwa rumah yang dibangun tidak hanya harus layak huni, tetapi juga layak secara keamanan. "Sederhana tapi sehat, jadi tidak hanya sekadar memperbaiki, namun hal-hal lainnya seperti keamanan, sanitasi, sirkulasi udara, penyediaan air bersih dan lainnya juga diperhatikan," jelasnya. Ke depan, model rumah retrofitting ini akan diadopsi secara bertahap pada program bedah rumah lainnya di Banyuwangi.
Sinergi Pemkab dan PMI dalam Program Bedah Rumah
Program bedah rumah retrofitting ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan Palang Merah Indonesia (PMI) setempat. Pemkab Banyuwangi berperan sebagai penyedia dana hibah, sementara PMI menjadi inisiator program sekaligus pelaksana pembangunan di lapangan. Sinergi ini memastikan pelaksanaan program berjalan efektif dan tepat sasaran.
Ketua PMI Kabupaten Banyuwangi, Mujiono, yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Banyuwangi, mengungkapkan bahwa metode retrofitting telah dilaksanakan PMI sejak tahun 2021. Hingga saat ini, sudah ada 12 rumah retrofitting yang berhasil dibangun. Rumah-rumah tersebut tersebar di sejumlah wilayah yang teridentifikasi rawan gempa, seperti Kecamatan Glagah, Blimbingsari, Songgon, Tegaldlimo, dan Purwoharjo.
Setiap rumah yang dibangun melalui program ini diharapkan menjadi model atau percontohan bagi pembangunan rumah tahan gempa di sekitarnya. Hal ini bertujuan untuk menginspirasi masyarakat dan pengembang lokal untuk mengadopsi standar konstruksi yang lebih aman. Dengan demikian, ketahanan masyarakat terhadap bencana gempa dapat terus ditingkatkan secara kolektif.
Edukasi dan Standarisasi Bangunan Tahan Gempa
Selain pembangunan fisik, PMI Kabupaten Banyuwangi juga aktif dalam memberikan pelatihan mengenai bangunan retrofitting. Ratusan peserta telah mengikuti pelatihan ini, yang terdiri dari para pekerja konstruksi lokal, tukang batu, dan kontraktor kecil. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang konstruksi tahan gempa.
Mujiono menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan semacam Training of Trainers (ToT). "Semacam ToT, kami punya tenaga yang sudah biasa membangun bangunan retrofitting, dan tenaga tersebut kami ajak untuk melatih tukang dan sejumlah kontraktor tentang bangunan tahan gempa," ujarnya. Materi pelatihan mencakup pemilihan bahan bangunan yang tepat, ukuran struktural yang ideal, dan teknik konstruksi yang sesuai standar tahan gempa.
Inisiatif edukasi ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan penyebaran praktik pembangunan rumah tahan gempa di seluruh Banyuwangi. Dengan adanya tenaga ahli lokal yang terlatih, diharapkan semakin banyak rumah warga yang dapat diperbaiki atau dibangun dengan standar keamanan yang tinggi. Ini adalah investasi jangka panjang untuk keselamatan masyarakat.
Sumber: AntaraNews