Mengenal Konsep Ethical Leadership, Dinilai Relevan Hadapi Risiko Fraud dan Jaga Integritas di Tengah Tekanan
Dalam situasi pasar yang tidak menentu, perusahaan berupaya menjaga keberlangsungan bisnis, sementara karyawan berusaha mempertahankan stabilitas pendapatan.
Kondisi ekonomi global belakangan ini membawa sentimen negatif di masyarakat, termasuk di Indonesia. Melemahnya konsumsi rumah tangga, menyusutnya jumlah kelas menengah, meningkatnya kekhawatiran terhadap pengangguran akibat oleh kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya jumlah pemutusan hubungan kerja, memunculkan risiko baru dalam organisasi, yaitu ketidakselarasan kepentingan antara perusahaan dan karyawan.
Dalam situasi pasar yang tidak menentu, perusahaan berupaya menjaga keberlangsungan bisnis, sementara karyawan berusaha mempertahankan stabilitas pendapatan dan pekerjaan. Sekilas, kepentingan ini tampak sejalan. Namun dalam praktiknya, perbedaan perspektif, kurangnya komunikasi, serta kecenderungan untuk mempertahankan posisi masing-masing justru memicu konflik dan ketegangan.
Tekanan ekonomi yang meningkat turut mendorong sebagian karyawan masuk ke dalam 'mode bertahan hidup', di mana kebutuhan sering kali menggeser nilai-nilai pribadi. Kondisi ini membuka celah terhadap meningkatnya risiko fraud dan pelanggaran etika.
Di sisi lain, perusahaan memperketat pengawasan dan pengendalian risiko. Alih-alih menciptakan rasa aman, langkah ini kerap menambah tekanan bagi karyawan yang merasa diawasi secara berlebihan dan dibayangi risiko sanksi.
Pentingnya Peran Pemimpin
Dalam konteks inilah, peran pemimpin menjadi semakin krusial. Ketua komunitas doktoral (S3) Universitas Prasetiya Mulya, Riski Fajriansyah dalam kajiannya menekankan pentingnya pendekatan kepemimpinan yang tidak hanya berbasis kontrol, tetapi juga nilai.
"Dalam kondisi penuh tekanan, organisasi tidak bisa hanya mengandalkan sistem dan pengawasan. Justru pada titik ini, peran pemimpin sebagai penjaga nilai perusahaan menjadi sangat menentukan arah perilaku karyawan," ujar Riski.
Sejalan dengan itu, Prof. Andreas Budihardjo, selaku dosen pembimbing menegaskan bahwa tantangan utama organisasi saat ini bukan hanya soal sistem, tetapi juga bagaimana menjaga integritas di tengah berbagai tekanan.
"Di tengah berbagai tekanan tersebut, khususnya ekonomi, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan sistem pengawasan. Peran pemimpin menjadi kunci untuk menjaga integritas dan membangun kepercayaan, sehingga risiko fraud bisa ditekan secara berkelanjutan," ujarnya.
Konsep Ethical Leadership
Konsep ethical leadership pun dinilai menjadi semakin relevan. Pemimpin tidak hanya dituntut untuk memastikan kepatuhan, tetapi juga menjadi teladan dalam integritas, keadilan, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan. Melalui peran ini, pemimpin membentuk norma dan nilai dalam organisasi yang pada akhirnya memengaruhi cara karyawan mengambil keputusan.
Ketika karyawan merasakan keadilan dan melihat konsistensi nilai dari pemimpinnya, tingkat kepercayaan meningkat dan kebutuhan untuk merasionalisasi tindakan menyimpang pun menurun. Dengan demikian, ethical leadership tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga sebagai mekanisme pencegahan fraud yang lebih berkelanjutan.
Lebih jauh, pendekatan ini juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih kondusif, menurunkan kecemasan, serta membuka ruang bagi inovasi dan peningkatan produktivitas.
Pada akhirnya, organisasi yang mampu menyeimbangkan penerapan etika dan inovasi akan memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan, kompetitif, dan bertahan dalam jangka panjang.