Menelusuri Jejak Lama Jalur Pantura di Tengah Arus Mudik Modern
Jalur Pantura, yang dulu menjadi nadi utama perjalanan darat, kini menghadapi perubahan signifikan di tengah dominasi jalan tol. Simak bagaimana kondisinya saat ini.
Perjalanan darat di Pulau Jawa saat arus mudik Lebaran menunjukkan kontras yang jelas antara jalur selatan dan Jalur Pantura. Jalur selatan cenderung lengang dengan pemandangan pesisir yang menenangkan. Sementara itu, Jalur Pantura tetap menjadi urat nadi pergerakan kendaraan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Tim ANTARA baru-baru ini menelusuri kedua jalur tersebut, memulai dari Cilacap menuju Yogyakarta sebelum melanjutkan ke Cirebon. Penelusuran ini bertujuan untuk mengamati langsung kondisi lalu lintas dan dinamika sepanjang rute perjalanan yang berbeda.
Pergeseran pola mobilitas masyarakat akibat keberadaan jalan tol telah mengubah wajah Jalur Pantura. Meskipun demikian, jalur ini masih memegang peranan penting sebagai alternatif dan pusat kegiatan ekonomi bagi warga lokal.
Jejak Kopi dan Kuliner Lokal di Semarang
Setelah melewati Yogyakarta, perjalanan tim berlanjut dari Semarang menuju Cirebon pada Rabu pagi sekitar pukul 10.30 WIB melalui Jalur Pantura. Rute ini memperlihatkan peningkatan arus kendaraan di beberapa titik, berbeda dengan jalur selatan yang lebih sepi.
Sebelum melanjutkan perjalanan, tim menyempatkan diri singgah di Dharma Boutique Roastery yang berlokasi di Jalan Wotgandul Barat No. 14, kawasan Pecinan, Semarang. Kedai kopi ini menempati bangunan kolonial lama dan dikenal sebagai salah satu rumah kopi tertua di kota tersebut.
Dharma Boutique Roastery merupakan kelanjutan dari pabrik kopi Margo Redjo yang telah berdiri sejak tahun 1915. Hingga kini, usaha tersebut masih mempertahankan proses penyangraian kopi tradisional menggunakan mesin lama yang tetap digunakan untuk menjaga cita rasa khasnya.
Perjalanan kuliner berlanjut dengan mencicipi tahu gimbal di Warung Tahu Gimbal Pak Edy yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno, Semarang. Hidangan khas ini terdiri dari tahu goreng, lontong, kol, tauge, dan bakwan udang, disajikan dengan bumbu kacang bercampur petis. Warung ini tetap melayani pembeli, meskipun tidak seramai hari biasa, dengan beberapa pengunjung beristirahat sejenak.
Perubahan di Alas Roban yang Sepi
Dari Semarang, perjalanan dilanjutkan menuju Pekalongan dengan melintasi kawasan Alas Roban. Jalur ini dikenal dengan kontur jalan yang berkelok serta naik turun, sehingga kendaraan cenderung melaju lebih lambat.
Saat melintasi kawasan tersebut, kondisi lalu lintas terpantau relatif sepi. Situasi ini sangat berbeda dengan masa lalu ketika jalur ini menjadi salah satu titik padat kendaraan, terutama bagi bus dan truk antarkota.
Di beberapa titik, terlihat kawanan monyet berada di tepi hingga badan jalan. Sementara itu, sejumlah warung dan tempat singgah yang dahulu ramai kini tampak tidak beroperasi, bahkan terkesan terbengkalai.
Tim juga menjumpai sisa kendaraan di pinggir jalan yang diduga merupakan bekas kecelakaan dan belum dievakuasi. Pemandangan ini menjadi pengingat akan karakter Alas Roban sebagai jalur dengan tingkat kerawanan yang cukup tinggi.
Aktivitas yang Mulai Bergerak di Batang hingga Pekalongan
Setelah keluar dari kawasan Alas Roban dan memasuki wilayah Batang, suasana di sepanjang Jalur Pantura mulai berubah. Deretan restoran besar yang biasanya menjadi tempat singgah bus antarkota antarprovinsi terlihat di sisi jalan.
Namun, kondisi di lokasi terpantau relatif sepi. Area parkir yang umumnya dipenuhi bus jarak jauh tampak lengang, dengan hanya beberapa kendaraan yang berhenti. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan pergeseran arus kendaraan ke jalan tol, terutama menjelang H-1 Lebaran.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Pekalongan. Memasuki kawasan Pasar Grosir Batik Setono, aktivitas mulai terlihat dengan sejumlah pemudik yang berbelanja batik sebagai oleh-oleh, meskipun keramaian belum mencapai puncaknya.
Kuliner Khas Pantura dan Tantangan Penjualan Telur Asin
Perjalanan tim selanjutnya menuju Tegal. Salah satu titik kuliner yang disambangi adalah Sate Kambing Muda Cempe Lemu yang terletak tidak jauh dari pintu keluar tol. Lokasi ini terpantau ramai oleh pengunjung yang memanfaatkan momen perjalanan untuk beristirahat sekaligus makan.
Dari Tegal, perjalanan dilanjutkan ke Brebes. Tim menyempatkan singgah di salah satu toko telur asin di jalur utama Pantura, yang telah lama dikenal sebagai pusat oleh-oleh khas daerah sebelum keberadaan jalan tol.
Namun, suasana di lokasi terpantau berbeda. Deretan toko yang sebelumnya ramai oleh pemudik kini terlihat lebih lengang. Hanya beberapa kendaraan yang berhenti, sementara sebagian toko tampak sepi tanpa pembeli.
Seorang penjual telur asin, Nanda, mengaku penurunan jumlah pembeli mulai dirasakan sejak beroperasinya jalan tol yang mengalihkan arus kendaraan dari Jalur Pantura. “Dulu sebelum ada tol, ramai sekali. Sekarang pembeli jauh berkurang, paling hanya yang sengaja keluar tol atau warga sekitar,” ujarnya kepada ANTARA, Jumat (20/3). Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan pedagang yang tidak lagi sebesar sebelumnya.
Menuju Cirebon, Arus Mulai Padat dan Refleksi Perubahan
Selanjutnya, perjalanan menuju Cirebon dengan arus kendaraan yang mulai padat, meskipun masih bergerak lancar. Kendaraan dari berbagai daerah mulai terakumulasi di jalur utama Jalur Pantura.
Setibanya di Cirebon, tim mengunjungi Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang menjadi salah satu tujuan wisata religi sekaligus ikon sejarah di kota tersebut.
Perjalanan dari jalur selatan hingga Jalur Pantura memperlihatkan perubahan pola mobilitas masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Jalan tol kini menjadi pilihan utama, sementara jalur lama tetap digunakan sebagai alternatif dan ruang aktivitas ekonomi warga.
Jalur selatan menawarkan perjalanan yang lebih tenang dengan interaksi yang terasa dekat, sedangkan Pantura tetap bergerak sebagai jalur utama dengan arus kendaraan dan aktivitas perdagangan, meskipun sebagian titik mulai terdampak pergeseran arus lalu lintas.
Sumber: AntaraNews