Pemudik Lebaran Ramai Berburu Batik Khas Pekalongan di Jalur Pantura
Jelang Lebaran, sejumlah pemudik memanfaatkan perjalanan mereka untuk berburu batik khas Pekalongan di Pasar Grosir Batik Setono, menjadikannya oleh-oleh favorit keluarga.
Setiap tahun, menjelang perayaan Lebaran, jalur Pantura menjadi saksi bisu tradisi unik para pemudik. Banyak dari mereka menyempatkan diri singgah di Pekalongan, Jawa Tengah, untuk berburu batik khas daerah tersebut. Kota Pekalongan memang dikenal sebagai sentra batik nasional yang menawarkan beragam pilihan produk batik.
Pasar Grosir Batik Setono menjadi salah satu destinasi utama bagi para pemudik yang ingin membeli oleh-oleh. Mereka mencari kain batik atau pakaian batik untuk keluarga dan kerabat di kampung halaman. Aktivitas ini menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual mudik bagi sebagian besar masyarakat.
Pada Jumat (20/3) lalu, suasana di pasar ini mulai menunjukkan geliat keramaian dengan kedatangan para pemudik. Mereka datang dari berbagai daerah, seperti Voni dari Tangerang yang menuju Solo, dan Helmi dari Bekasi yang mudik ke Batang, menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk melestarikan budaya dan berbagi kebahagiaan.
Tradisi Mudik Sambil Berburu Oleh-oleh Batik
Voni, seorang pemudik asal Tangerang yang rutin mudik ke Solo, selalu menyempatkan diri mampir ke Pasar Grosir Batik Setono. Ia mengungkapkan bahwa kunjungan ini menjadi tradisi tahunan untuk membeli oleh-oleh bagi keluarga dan kerabat. Lokasinya yang strategis di jalur mudik Pantura membuatnya mudah dijangkau.
Voni kerap memilih pakaian santai seperti daster atau celana batik karena praktis dan harganya terjangkau. Ia membeli dalam jumlah banyak, menyesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang akan menerima. "Setiap tahun pasti mampir ke sini buat beli oleh-oleh. Sekalian lewat juga," katanya.
Senada dengan Voni, Helmi, pemudik dari Bekasi yang mudik ke Batang, juga memiliki kebiasaan serupa. Ia selalu singgah di pasar ini untuk berbelanja batik bersama istrinya. Helmi menjelaskan bahwa orang tuanya berasal dari Pekalongan, sehingga tradisi berburu batik sudah menjadi bagian dari kebiasaan keluarga.
Helmi menemani istrinya membeli kaos batik untuk anak dan mertua, menunjukkan bahwa batik memiliki daya tarik lintas generasi. Ia juga menyoroti nilai budaya batik sebagai warisan Indonesia yang fleksibel digunakan untuk berbagai kesempatan, termasuk bekerja. "Batik kan warisan Indonesia, bisa dipakai untuk kerja juga," ujarnya.
Daster Batik Paling Diminati Pembeli Mudik
Siti Idrotul, salah satu pedagang di Pasar Grosir Batik Setono, mengamati bahwa pembeli selama masa mudik Lebaran didominasi oleh warga dari luar kota. Pelanggannya banyak berasal dari daerah seperti Jakarta, Semarang, dan Kendal. Mereka sengaja mampir untuk membeli oleh-oleh khas Pekalongan.
Menurut Siti, produk yang paling diminati oleh para pemudik adalah daster batik. Daster ini ditawarkan dengan rentang harga yang bervariasi, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp100 ribu, menjadikannya pilihan yang ekonomis dan fungsional. "Yang paling banyak dicari daster," ungkapnya.
Alfina, pedagang batik lainnya di Pasar Setono, membenarkan popularitas daster batik di kalangan pemudik. Ia menjelaskan bahwa produk ini menjadi primadona karena kenyamanan dan harganya yang bersahabat. Alfina menambahkan bahwa omzetnya bisa mencapai sekitar Rp5 juta per hari saat pasar ramai pengunjung.
Alfina juga mengonfirmasi bahwa sebagian besar pembeli selama musim mudik dan balik Lebaran adalah wisatawan atau warga dari luar kota. Mereka mencari batik sebagai buah tangan yang otentik dan memiliki nilai budaya.
Peningkatan Pengunjung Jelang Arus Balik
Meskipun sudah mulai ramai, Siti Idrotul dan Helmi sepakat bahwa keramaian di Pasar Grosir Batik Setono pada Jumat (20/3) belum mencapai puncaknya. "Tapi belum terlalu ramai," kata Siti. Helmi juga mencatat bahwa suasana pasar tergolong tidak terlalu padat dibandingkan waktu lain.
Para pedagang memperkirakan bahwa jumlah pembeli akan meningkat signifikan setelah Hari Raya Idul Fitri. Peningkatan ini terjadi saat para pemudik melakukan perjalanan balik ke kota asal mereka dari kampung halaman. Momen arus balik seringkali menjadi kesempatan terakhir bagi mereka untuk berbelanja oleh-oleh.
"Biasanya nanti setelah Lebaran lebih ramai lagi," ujar Siti Idrotul, menyoroti pola belanja pemudik. Helmi juga menambahkan, "Biasanya lebih ramai menjelang arus balik, pas mau pulang ke Bekasi." Ini menunjukkan bahwa puncak keramaian pasar batik di Pekalongan bergeser ke periode pasca-Lebaran.
Sumber: AntaraNews