Megawati Beri Peringatan Keras: Kader PDIP Jangan Ikut Rusak Lingkungan!
Megawati menekankan dengan tegas kepada kader partai agar tidak terlibat dalam praktik yang merusak lingkungan demi keuntungan jangka pendek.
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, memberikan peringatan tegas kepada seluruh kader mengenai pentingnya etika dan moralitas dalam dunia politik. Ia menegaskan bahwa kader partai dilarang keras terlibat dalam sistem yang merusak lingkungan demi kepentingan pribadi.
"Kader tidak boleh menjadi bagian dari kerusakan alam dan penderitaan rakyat," ucap Megawati saat membuka Rakernas I PDIP Tahun 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, pada Sabtu (10/1).
Megawati juga menginstruksikan agar peran kader bertransformasi menjadi 'Pandu Ibu Pertiwi', yang bertugas untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa identitas sebagai kader tidak hanya sekadar mengenakan atribut partai, melainkan juga mencakup tanggung jawab sejarah dalam setiap langkah politik.
"Kader PDI Perjuangan harus menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Pandu adalah penunjuk jalan. Pandu adalah penjaga arah," jelas Megawati di hadapan ribuan peserta Rakernas.
Ia menegaskan bahwa kader harus menjadi sosok yang berada di garis depan saat menghadapi tantangan, dan melindungi rakyat yang membutuhkan.
"Menjadi Pandu Ibu Pertiwi berarti menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara kekuasaan dan moral, antara pembangunan dan keadilan. Berani mengatakan tidak pada kebijakan yang merusak bumi. Berani melawan keserakahan yang mengorbankan rakyat," tambahnya.
Untuk memperkuat basis ideologis tersebut, Megawati mengaitkan instruksi ini dengan nilai-nilai kearifan lokal seperti Tri Hita Karana dari Bali dan Memayu Hayuning Bawana dari Jawa.
Ia menekankan bahwa politik seharusnya kembali menjadi alat pengabdian yang menghormati bumi sebagai satu kesatuan ekosistem kehidupan.
"Anak-anakku, jangan pernah takut pada kebenaran. Kebenaran adalah api yang menyucikan," pesan Megawati. "Sejarah tidak akan bertanya berapa jabatan yang pernah kalian duduki. Sejarah akan bertanya: di pihak siapa kalian berdiri ketika kebenaran diuji?" tegasnya, mengingatkan semua kader untuk selalu berpegang pada kebenaran dan moralitas dalam setiap tindakan mereka.
Politik sebagai Sarana Pengabdian
Megawati menyampaikan pesan kepada para kader bahwa politik seharusnya dijalankan sebagai sarana untuk mengabdi kepada masyarakat, bukan hanya sebagai alat untuk meraih jabatan atau popularitas.
"Seorang pejuang sejati tidak mengejar popularitas, melainkan tanggungjawab, tidak mencari pujian, melainkan pengabdian," jelasnya. Dia menegaskan bahwa politik yang kehilangan nilai moral akan semakin jauh dari rakyat dan melupakan tujuan utamanya, yaitu untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama.
Oleh karena itu, Megawati menekankan pentingnya mengembalikan politik kepada nilai-nilai gotong royong serta keberpihakan kepada rakyat. Menurutnya, dengan mengedepankan prinsip-prinsip tersebut, para kader dapat menjalankan politik yang lebih bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini menjadi kunci untuk menghindari praktik politik yang hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok semata.
Penculikan Presiden Venezuela menjadi sorotan utama
Megawati dengan tegas mengkritik tindakan intervensi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Venezuela, menyebutnya sebagai ancaman serius bagi kedaulatan negara-negara yang merdeka. Ia secara khusus menyoroti operasi militer yang menyasar kepemimpinan nasional Venezuela sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
"Saya menyampaikan sikap tegas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan terhadap setiap bentuk intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela, termasuk penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya melalui operasi militer yang telah memicu kecaman Internasional," ungkap Megawati. Ia menilai bahwa tindakan agresi sepihak ini sangat merusak semangat perdamaian dunia yang tertuang dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Lebih lanjut, Megawati mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam melawan segala bentuk penjajahan, yang dimulai sejak Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955.
"Tindakan tersebut merupakan wujud neokolonialisme dan imperialisme modern, yang mengingkari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip dasar hubungan antarbangsa. Bangsa Indonesia menolak tatanan internasional yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain," tegasnya.
Ia juga mengingatkan kepada dunia internasional bahwa kekerasan militer tidak akan pernah menjadi solusi untuk membangun peradaban atau demokrasi. PDI Perjuangan secara resmi menyerukan agar semua konflik global diselesaikan melalui jalur diplomasi.
"Demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata, keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa," ujarnya yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari para kader.
"PDI Perjuangan menyerukan penyelesaian konflik internasional melalui dialog, diplomasi, dan hukum internasional, bukan melalui kekerasan yang hanya memperpanjang penderitaan rakyat sipil," tambahnya. Dengan demikian, Megawati menegaskan pentingnya pendekatan damai dalam menyelesaikan masalah internasional.
PDIP Beri Penghargaan kepada Enam Tokoh Senior
Dalam rangka memperingati HUT ke-53 Partai dan Rakernas, PDIP memberikan penghargaan kehormatan "Leit Star" kepada enam tokoh yang dianggap berkontribusi signifikan dan berperan sebagai "Kader Pelopor". Penghargaan ini diberikan kepada: Rachmat Hidayat selaku Ketua DPD PDI Perjuangan NTB; Ribka Tjiptaning Proletariyati, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan; F.X. Hadi Rudyatmo, mantan Wali Kota Surakarta; Adi Wijaya, Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta; Komarudin Watubun, Ketua Bidang Kehormatan DPP PDI Perjuangan; dan I Made Agus Mahayastra, Bupati Gianyar.
Suasana di Beach City International Stadium dipenuhi tepuk tangan meriah dari ribuan kader yang hadir dalam HUT ke-53 dan Rakernas I. M. Prananda Prabowo, putra Megawati yang juga menjabat sebagai Ketua DPP PDIP Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital, bersama jajaran Ketua DPP PDIP lainnya, kemudian naik ke panggung untuk melakukan penyematan penghargaan. Megawati secara bergiliran mengalungkan medali kepada keenam tokoh tersebut, diikuti dengan penyematan Pin Kader Pelopor oleh M. Prananda Prabowo kepada para penerima penghargaan.
Dalam pidatonya, Megawati mengungkapkan rasa syukurnya dan mengingat kembali momen berharga tersebut. Dia menyampaikan terima kasih kepada setiap kader yang dianugerahi medali, serta menceritakan tentang orang-orang yang telah berjuang bersamanya di masa-masa sulit.