Mahashivaratri Candi Prambanan: 1.008 Dipa dan Irama Damaru Terangi Malam Sakral
Perayaan Mahashivaratri di Candi Prambanan pada 15 Februari 2026 menjadi sejarah baru, diwarnai 1.008 dipa dan irama damaru yang menggetarkan jiwa, menandai momentum refleksi spiritual dan penguatan kebersamaan di situs Hindu terbesar Indonesia.
Yogyakarta, 27 Februari 2026 – Malam sakral Mahashivaratri di Candi Prambanan pada Minggu, 15 Februari 2026, berlangsung khidmat meskipun hujan melanda sebagian besar wilayah Sleman dan Klaten. Keajaiban alam seolah berpihak, menjaga area candi tetap kering, memungkinkan ribuan umat Hindu melaksanakan upacara suci ini untuk pertama kalinya di Indonesia. Perayaan ini menjadi penutup rangkaian Prambanan Shiva Festival 2026 yang telah dimulai sejak pertengahan Januari.
Acara yang didedikasikan untuk menghormati Dewa Siwa ini merupakan hari suci penting dalam agama Hindu, jatuh setiap tahun pada malam ke-13 atau ke-14 Bulan Magha, ditandai dengan malam paling gelap sebelum Tilem Kepitu. Kolaborasi lintas lembaga seperti Kemenpar, Kementerian Agama melalui Dirjen Bimas Hindu, Tim Pemanfaatan Candi Prambanan, Kementerian Kebudayaan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan InJourney Destination Management (PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko) sukses menyelenggarakan perhelatan akbar ini. Inisiatif ini tidak hanya memperkuat nilai spiritual Candi Prambanan, tetapi juga mempromosikan pariwisata budaya dan spiritual Indonesia di mata dunia.
Momen bersejarah ini dimulai sekitar pukul 18.00 WIB dengan penyalaan 1.008 dipa (pelita) dan kumandang damaru, alat musik tradisional yang melambangkan persatuan umat dalam doa. Ribuan cahaya pelita dan lembutnya irama damaru menciptakan atmosfer meditasi mendalam, bertujuan untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan di dunia atau Jagadhita. Perayaan Mahashivaratri di Candi Prambanan ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya menjadikan situs warisan dunia ini sebagai 'living monument'.
Cahaya 1.008 Dipa dan Kumandang Damaru: Simbol Persatuan dan Pemurnian
Penyalaan 1.008 dipa dan kumandang damaru menjadi inti dari perayaan Mahashivaratri di Candi Prambanan, menciptakan suasana magis yang mendukung refleksi dan meditasi. Ketua Tim Pemanfaatan Candi Prambanan, I Nyoman Ariawan Atmaja, menegaskan bahwa perayaan ini merupakan momentum refleksi mendalam, penyucian jiwa, dan penguatan kebersamaan melalui ritual sakral. Makna Mahashivaratri semakin kuat ketika dilaksanakan di kompleks Candi Prambanan, kawasan candi Hindu terbesar di Indonesia, yang memadukan seni, budaya, dan nilai spiritual.
Bunyi damaru yang mengiringi ritual menggugah umat untuk bangkit dari tidur spiritual dan melangkah di jalan kebijakan, menjadikan Mahashivaratri momentum transformasi. Setiap individu diajak untuk melepaskan beban masa lalu dan lahir kembali dengan kesadaran yang lebih jernih dan bijaksana. Filosofi tiga sisi dipa yang dinyalakan mencerminkan energi Trimurti: Dewa Brahma sebagai penghasil cahaya awal, Dewa Wisnu sebagai penjaga harmoni, dan Dewa Siwa yang melebur kegelapan untuk menuntun manusia menuju kesadaran diri tertinggi.
Selain ritual inti, Mahashivaratri 2026 juga menghadirkan parade budaya spektakuler dari Candi Kedulan hingga Candi Prambanan. Barisan pendeta membawa asap suci, panji-panji, tombak, benda sakral, dan shivalingga, diikuti kirab air suci dari 36 provinsi dan sembilan candi Nusantara yang telah disakralisasi oleh 35 Sulinggih. Prosesi Maha Gangga Tirta Gamana, di mana air dipersatukan, melambangkan pemurnian diri dan harmoni semesta, serta pembersihan dari segala kekotoran pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Prambanan Shiva Festival: Mendorong Pariwisata Spiritual Kelas Dunia
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mendorong Prambanan Shiva Festival untuk terus berkembang sebagai agenda unggulan pariwisata nasional. Festival ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wisata budaya dan spiritual kelas dunia. Ni Luh Puspa menekankan bahwa festival ini bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga momentum strategis untuk menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna dan berkualitas, sejalan dengan tren pariwisata global yang mencari pengalaman mendalam.
Sebagai situs warisan dunia UNESCO sejak 1991 dan mahakarya arsitektur Hindu abad ke-9 Masehi, Candi Prambanan memiliki potensi besar untuk menghadirkan pengalaman spiritual tourism dan pilgrimage tourism yang semakin relevan secara global. Data menunjukkan peningkatan jumlah umat Hindu dunia sekitar 12 persen dalam satu dekade terakhir, dengan 99 persen berada di kawasan Asia-Pasifik, menegaskan pentingnya pengelolaan situs suci seperti Prambanan. Wamenpar berharap agenda ini mampu menghidupkan Candi Prambanan sebagai 'living monument' yang kesakralannya terjaga.
Direktur Utama InJourney Destination Management (IDM) Febrina Intan menambahkan bahwa perayaan Mahashivaratri sebagai rangkaian akhir Prambanan Shiva Festival 2026 merupakan tonggak sejarah baru. Ini adalah upaya menjadikan situs bersejarah ini sebagai warisan budaya yang terus hidup dan dilestarikan secara turun-temurun, mengharmoniskan ruang spiritual dengan kekayaan seni budaya. Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, turut mengapresiasi perayaan ini dan berjanji akan mendorong wisatawan India untuk berkunjung ke Yogyakarta dan Candi Prambanan.
Harmoni dalam Keberagaman dan Semangat Kebangsaan
Perayaan Mahashivaratri di Candi Prambanan juga menjadi simbol kuat persatuan dan semangat kebangsaan dalam balutan spiritualitas. Ketua Umum PHDI Pusat, Wisnu Bawa Tenaya, menegaskan bahwa Mahashivaratri adalah momentum untuk membangun manusia Indonesia yang utuh secara lahir, batin, dan sosial. Prosesi pembentangan bendera Merah Putih sepanjang hampir seribu meter dalam kirab budaya Mahashivaratri menjadi manifestasi nyata dari semangat ini.
Salah satu pengunjung dari Jakarta, Echa, mengungkapkan rasa syukurnya dapat berpartisipasi dalam penyalaan 1.008 dipa di halaman Candi Prambanan. Ia merasakan harmoni dalam keberagaman, di mana doa dan cinta kasih bersifat universal dan dapat dirasakan oleh siapapun dari beragam latar belakang agama. Pengalaman ini menunjukkan bahwa acara spiritual dapat menjadi jembatan untuk mempererat tali persaudaraan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Partisipasi wisatawan dalam penyalaan dipa, dengan tiket yang mencakup fasilitas dipa dan gelang nawadatu, juga menunjukkan inklusivitas acara. Kemegahan visual perayaan semakin diperkuat melalui atraksi video mapping yang membalut candi dengan teknologi cahaya, menambah kekhusyukan suasana di area concourse yang didekorasi apik. Ini membuktikan bahwa perpaduan tradisi dan modernitas dapat menciptakan pengalaman spiritual yang mendalam dan berkesan bagi semua.
Sumber: AntaraNews