Prambanan Shiva Festival 2026 Dibuka Wamenpar, Harmoni Spiritual dan Ekonomi Jadi Fokus Utama
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati secara resmi membuka Prambanan Shiva Festival 2026 di Candi Prambanan, menegaskan pentingnya festival ini dalam menghadirkan harmoni spiritual dan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati secara resmi membuka Prambanan Shiva Festival 2026 pada Sabtu sore, 18 Januari 2026. Acara pembukaan berlangsung di kawasan Candi Prambanan, yang terletak di perbatasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Festival ini diharapkan dapat memperkuat posisi Candi Prambanan sebagai pusat spiritual umat Hindu.
Ni Luh Enik Ermawati menyatakan bahwa melalui Prambanan Shiva Festival, Candi Prambanan diharapkan dapat menghadirkan harmoni antara nilai spiritual dan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat. Dari sisi spiritual, festival ini bertujuan untuk meneguhkan kembali Candi Prambanan sebagai tempat suci bagi umat Hindu. Sementara itu, dari aspek kepariwisataan, festival ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, baik dari Nusantara maupun mancanegara, ke Candi Prambanan.
Candi Prambanan memiliki nilai yang luar biasa dan menjadi kekuatan Indonesia di mata dunia, bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga sebagai warisan budaya yang hidup (living heritage). Warisan ini terus dirawat, dipahami, dan diberi tempat terhormat dalam kehidupan modern, dengan nilai spiritual yang tak diragukan sebagai pusat pemujaan Dewa Siwa.
Harmoni Spiritual dan Peningkatan Ekonomi Lokal
Wamenpar Ni Luh Enik Ermawati menekankan bahwa Prambanan Shiva Festival diharapkan dapat menciptakan harmoni antara nilai spiritual dan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar. Festival ini secara khusus bertujuan untuk meneguhkan kembali Candi Prambanan sebagai pusat spiritual bagi umat Hindu. Selain itu, diharapkan juga dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, ke salah satu situs warisan dunia ini.
Candi Prambanan memiliki nilai luar biasa sebagai kekuatan Indonesia di mata dunia, tidak hanya dari keindahan alamnya, tetapi juga sebagai warisan budaya yang hidup (living heritage). Warisan ini terus dirawat, dipahami, dan diberi tempat terhormat dalam kehidupan modern. Sebagai pusat pemujaan Dewa Siwa, nilai spiritual Candi Prambanan sudah tidak lagi diragukan.
Direktur Komersial InJourney Destination Management (IDM), Gistang Richard Panutur, menambahkan bahwa Prambanan Shiva Festival menegaskan prinsip harmoni dalam pengelolaan Candi Prambanan. Harmoni tersebut mencakup spiritualitas dan wisata, ritual suci dan pengelolaan profesional, serta pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat sekitar. Keseimbangan ini akan menghasilkan pariwisata yang berkarakter, berkualitas, dan memberikan manfaat berkelanjutan.
Konsep People, Planet, Prosperity dalam Pariwisata
Ni Luh Enik Ermawati menjelaskan bahwa pariwisata selalu melibatkan tiga pilar utama: people, planet, dan prosperity. Pilar pertama, "people," berfokus pada bagaimana pariwisata memberikan dampak positif bagi manusia dan menjaga kehidupan sosial mereka. Ini berarti memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak mengesampingkan kesejahteraan dan budaya lokal.
Pilar kedua, "planet," berkaitan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan melalui aktivitas pariwisata. Pariwisata harus berkelanjutan dan tidak merusak alam, melainkan berkontribusi pada pelestarian ekosistem. Konsep ini mendorong praktik pariwisata yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya alam.
Pilar ketiga, "prosperity," menyoroti bagaimana pariwisata dapat mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Dengan Prambanan Shiva Festival, diharapkan tidak hanya dampak spiritual yang meningkat, tetapi juga dampak positif pada manusia, alam, dan ekonomi masyarakat di sekitar Candi Prambanan.
Mendalami Makna Spiritual Maha Shivaratri
Prambanan Shiva Festival diisi dengan berbagai rangkaian acara, yang puncaknya adalah perayaan Maha Shivaratri Celebration. Perayaan ini mengajak umat untuk merenungkan nilai kesucian Dewa Siwa sebagai sumber energi kesadaran tertinggi. Ini merupakan momen penting bagi umat Hindu untuk introspeksi dan memperkuat spiritualitas.
Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, menjelaskan bahwa Hari Suci Siwaratri dilaksanakan dengan beberapa ritual. Salah satunya adalah "jagra," yang berarti melek, siap siaga, dan waspada. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan agar tidak lengah, karena kelengahan dapat berujung pada kesengsaraan.
Ritual lain yang dijalankan adalah "upawasa," atau puasa, yang bertujuan untuk membantu membedakan antara hal baik dan buruk. Selain itu, ada juga "mono brata," yaitu diam, yang berarti melihat apa yang perlu dibicarakan atau tidak. Melalui praktik-praktik ini, diharapkan hanya hal-hal positif yang diucapkan, bukan sebagai penebusan dosa, melainkan untuk menguatkan kesadaran umat.
Sumber: AntaraNews