Lebaran Depok dan Arti Filosofi Nyuci Perabot
Gelaran Lebaran Depok 2025 dimulai. Selama sepekan sejak 11-17 Mei 2025, warga Depok punya hajatan
Gelaran Lebaran Depok 2025 dimulai. Selama sepekan sejak 11-17 Mei 2025, warga Depok punya hajatan. Pada hari pertama kemarin, acara Ngubek Empang menjadi penanda dibukanya Lebaran Depok 2025.
Di hari kedua, acara dimeriahkan dengan pentas musik khas Betawi yaitu Gambang Kromong, Numbuk Uli dan Nyuci Perabot yang digelar di Rumah Budaya, Jalan Raya Keadilan, Rawa Denok, Kecamatan Pancoran Mas, Depok.
Nyuci Perabot merupakan tradisi yang selalu ada saat Lebaran Depok. Bukan tanpa alasan, karena ada makna filosofi tersendiri dari tradisi tersebut.
Ketua Kumpulan Orang-orang Depok (Kood), Ahmad Dahlan mengatakan, Nyuci Perabot sudah menjadi tradisi sejak zaman dahulu saat menyambut Idul Fitri. Kaum ibu mengeluarkan semua perabotan rumah untuk dicuci sebelum hari raya.
"Rangkaian Lebaran Depok atau orang Depok budayanya zaman dulu, ketika menghadapi Hari Raya Idulfitri ini banyak budaya adat istiadat atau kebiasaan yang dipersiapkan, ini salah satunya hari ini nyuci perabotan," kata Dahlan, Senin (12/5).
Baba Dahlan, sapaan akrabnya menceritakan, Nyuci Perabot bukan hanya sekadar memiliki makna membersihkan perkakas rumah tangga saja. Secara filosofi, Nyuci Perabot diibaratkan sebagai pembersihan diri. Selama Ramadan sebulan penuh, jiwa dan raga kita sedang dibersihkan dari segala kotoran. Untuk itu, saat menyambut Hari Raya Idulfitri, perabotan rumah juga harus bersih.
"Jadi menjelang Hari Raya Idulfitri ini di samping jiwa kita juga yang puasa, berpuasa satu bulan penuh dan kembali kepada fitrahnya. Peralatan rumah tangga juga harus bersih, rumah harus bersih, semuanya di Hari Raya Idul Fitri itu juga bersih," ujarnya.
Guna melestarikan tradisi tersebut, nyuci perabotan dilakukan oleh sekelompok ibu-ibu mengenakan kebaya dan ikat kepala seperti orang zaman dahulu. Mereka mencuci beberapa dandang dan salang (keranjang) dari rotan menggunakan sabun dan serabut kelapa.
"Kami berharap tradisi ini dirawat dan dilestarikan terus jangan sampai hilang," harapnya.
Uli Jadi Makanan Khas
Biasanya saat Idulfitri, ketupat dan uli merupakan hidangan wajib yang harus tersedia di setiap rumah. Orang asli Depok dari dulu hingga sekarang menyiapkan makanan ini sehari sebelum lebaran.
"Mempersiapkan makanan seperti tape uli dan ketupat memang tidak lepas dari rangkaian lebaran, enggak sempurna kalau enggak ada itu," kata Baba Dahlan.
Dalam Lebaran Depok pun diadakan lomba Numbuk Uli yang diikuti ibu-ibu anggota Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dari 11 kecamatan se-Kota Depok. Dengan membawa bahan-bahan dan peralatan, mereka langsung berpacu dengan waktu membuat makanan khas Betawi.
Nana, salah satu peserta terlihat sangat semangat mengikuti lomba ini. Dengan menggunakan pakaian kebaya, Nana menumbuk beras ketan yang sudah direbus sebagai bahan dasar uli. Untuk membuat uli, pertama disiapkan ketan terlebih dahulu. Kemudian, beras ketan tersebut dicuci dan direndam, sebelum berlanjut ke proses pengukusan.
"Terus dipakain kelapa, kukus lagi, baru dah kita tumbuk," kata Nana.
Setelah ditumbuk hingga halus, adonan uli dicetak dalam wadah bulat dan siap dihidangkan. Cara menghilangkan uli juga beragam, bisa digoreng dan dibakar, kemudian menyantapnya menggunakan serundeng dicampur gula. Kata Nana, biasanya, masyarakat Betawi menghidangkan uli saat lebaran Idulfitri dan hajatan.
"Kalau dari beras dua hari prosesnya, kalau sudah ngukus ma sejam juga selesai," ujarnya.
Komitmen Menjaga Tradisi dan Budaya Depok
Baba Dahlan mengatakan, Lebaran Depok merupakan peragaan tradisi masyarakat Kota Depok zaman dahulu saat menyambut Idulfitri. Melalui Lebaran Depok ini, diharapkan generasi muda dapat menjaga dan melestarikan kebudayaan masyarakat Betawi di Kota Depok. Meskipun, Dahlan tidak menutup kebudayaan masyarakat pendatang juga berkembang di wilayah Kota Depok yang majemuk ini.
"Rangkaian lebaran Depok atau orang Depok budayanya zaman dulu. Ketika menghadapi Hari Raya Idulfitri ini banyak budaya adat istiadat atau kebiasaan yang dipersiapkan, ini salah satunya hari ini nyuci perabotan," katanya.
Melalui Lebaran Depok ini, diharapkan generasi muda dapat menjaga dan melestarikan kebudayaan masyarakat Betawi di Kota Depok. Meskipun, Dahlan tidak menutup kebudayaan masyarakat pendatang juga berkembang di wilayah Kota Depok yang majemuk ini.
Sementara itu, Sementara itu, Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah menjelaskan, kegiatan di Rumah Budaya Rawa Denok tersebut sebagai rangkaian dari Lebaran Depok 2025. Melalui berbagai pentas budaya dan peragaan tradisi ini, Chandra menilai banyak memberikan makna positif bagi masyarakat.
"Ya kegiatan hari ini bagian dari rangkaian Lebaran Depok tahun 2025, yang mana hari ini ada nyuci perabotan. Bahwa ini adalah kearifan lokal orang Depok di mana yang kemudian banyak memberikan arti dan makna positif di Kota Depok itu sendiri," pungkas Chandra.